Jakarta, CNBC Indonesia - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi mengeluarkan ancaman mematikan untuk menargetkan universitas-universitas milik Amerika Serikat (AS) yang berada di kawasan Timur Tengah pada Minggu (29/03/2026). Hal ini terjadi saat konflik antara kedua negara masih terus terjadi.
Ketegangan ini memuncak setelah pihak Teheran mengeklaim bahwa serangan udara yang dilancarkan oleh koalisi militer Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan dua universitas milik Iran. Serangan tersebut dilaporkan menghantam wilayah Teheran pada malam hari antara Jumat hingga Sabtu, termasuk Universitas Sains dan Teknologi di timur laut ibu kota yang menyebabkan kerusakan bangunan parah meskipun tidak memakan korban jiwa.
"Jika pemerintah Amerika Serikat ingin universitas-universitas mereka di kawasan ini bebas dari pembalasan, mereka harus mengutuk pemboman universitas-universitas tersebut dalam sebuah pernyataan resmi selambat-lambatnya pada hari Senin pukul 12 siang, 30 Maret waktu Teheran," tulis pernyataan resmi Korps Garda Revolusi Iran yang diterbitkan oleh media pemerintah Iran dikutip AFP.
Pihak Garda Revolusi juga memberikan peringatan keras kepada seluruh sivitas akademika yang berada di lingkungan kampus Amerika Serikat di wilayah Teluk agar segera menjauh dari lokasi tersebut. Saat ini, beberapa kampus ternama AS tercatat memiliki cabang di kawasan tersebut, seperti Texas A&M University di Qatar dan New York University di Uni Emirat Arab.
"Kami menyarankan seluruh staf, profesor, dan mahasiswa universitas-universitas Amerika di kawasan ini serta penduduk di daerah sekitarnya untuk menjaga jarak sejauh satu kilometer dari lokasi kampus," tambah pernyataan resmi dari pihak Korps Garda Revolusi Iran tersebut.
Eskalasi ini merupakan bagian dari konflik terbuka yang kian memanas antara blok AS-Israel melawan Iran dan poros-poros dukungannya. Washington dan Tel Aviv menuduh Teheran terus mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menegaskan kedaulatannya sedang diinjak-injak oleh agresi Barat yang sistematis.
Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai senjata pamungkas ekonomi, yang diprediksi bakal melumpuhkan jalur perdagangan minyak dunia dan menyebabkan lonjakan harga energi global secara ekstrem.
Addsource on Google


















































