Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan, masih terdapat sekitar 130 perusahaan kelapa sawit yang belum menyesuaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sesuai ketentuan yang berlaku di masing-masing daerah. Meski demikian, jumlah tersebut disebut terus menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Pemerintah bersama Satgas Pangan Polri masih melakukan pemantauan dan penelusuran terhadap perusahaan-perusahaan yang belum menaikkan harga pembelian TBS dari petani. Langkah ini dilakukan setelah muncul keluhan petani terkait turunnya harga beli TBS sawit di tingkat pabrik dalam beberapa waktu terakhir.
"Sudah 80, 85, mungkin 90 persen sudah menaikkan (harga beli TBS-nya kembali). Tetapi yang belum naik, tetap kita telusuri bersama Satgas Pangan," kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan adanya perbaikan setelah pemerintah meminta seluruh perusahaan sawit mengikuti harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Berdasarkan laporan yang diterima Kementan, jumlah perusahaan yang belum melakukan penyesuaian kini tinggal sekitar 130 perusahaan, turun dari sebelumnya sebanyak 274 perusahaan.
"Sekarang tinggal 130-an perusahaan yang belum menaikkan (kembali harga TBS). Yang lainnya sudah naik, tapi tetap kita monitor. Bukan saja naik lalu turun kembali, tidak. Kita monitor seluruh Indonesia," ujarnya.
Ia menegaskan, pengawasan tidak hanya dilakukan untuk memastikan harga kembali naik, tetapi juga agar perusahaan tidak kembali menurunkan harga setelah pengawasan mereda.
Amran menjelaskan, harga TBS yang berlaku saat ini mengacu pada ketetapan masing-masing pemerintah provinsi. Karena itu, harga sawit petani berbeda-beda di setiap wilayah tergantung hasil penetapan daerah.
"Harganya berbeda-beda per wilayah. Ada yang Rp3.000 (per kg), ada yang Rp3.600 per kg, berbeda-beda," terang dia.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian menyoroti turunnya harga TBS di tengah kondisi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia yang masih tinggi. Menurut Amran, tidak ada alasan bagi harga TBS kelapa sawit anjlok, di tengah tingginya harga CPO dunia, serta tingginya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.
Menurut Amran, kondisi kurs yang sempat berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS justru seharusnya menjadi sentimen positif bagi komoditas ekspor Indonesia, termasuk kelapa sawit. Karena itu, ia mempertanyakan penurunan harga TBS yang sempat terjadi setelah pengumuman mekanisme ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
"Kami sampaikan Alhamdulillah hari ini sepakat tidak ada lagi harga TBS yang turun. Harus naik seperti kondisi semula. Bahkan bila perlu itu naik lebih tinggi," kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Ia menegaskan, pelemahan rupiah seharusnya memberikan keuntungan tambahan bagi sektor yang berorientasi ekspor. Dengan selisih nilai tukar yang menurutnya sudah mengalami kenaikan sekitar 10%, harga TBS di tingkat petani mestinya ikut terdorong naik, bukan justru bergerak ke arah sebaliknya.
"Ini ada anomali, di saat harga harusnya naik bukan turun. Kenapa? Karena nilai dolar selisih (sudah naik) 10%. Ya TBS juga harus naik, tidak ada alasan turun. Kenapa turun? Kami tanya, tidak ada yang bisa jawab. Oke kita sepakat semua, tidak ada satupun yang menolak. Ketua asosiasi, perusahaannya hadir, pengusahanya hadir, eksportirnya hadir, semua sepakat harga kembali seperti semula," ujarnya.
Ia bahkan memperkirakan harga TBS berpotensi meningkat lebih tinggi dibandingkan level sebelumnya, apabila mempertimbangkan faktor kurs saat ini.
"Harusnya (harga TBS) naik 10% daripada harga sebelumnya. Karena ada selisih. Nilai dolar sekarang Rp18 ribu. Harusnya momentum ini, kesempatan ini, sektor pertanian, kita gunakan dengan baik. Tahun lalu ekspor kita naik Rp167 triliun," jelas Amran.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
(dce)
Addsource on Google


















































