6 Tanaman Paling Tahan Banting: Tak Mati Kena Erupsi, Banir-Kebakaran

4 hours ago 1

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

11 September 2026 20:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia menghadapi beragam ancaman bencana, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, banjir, kekeringan, hingga gempa bumi dan erupsi gunung api.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan sebagian besar bencana di Indonesia berasal dari kelompok hidrometeorologi, seperti banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, dan karhutla.

Risikonya semakin relevan tahun ini ketika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Niño berlanjut setidaknya hingga awal 2027 dan hampir separuh wilayah daratan Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ungup-Ungup, Jawa Timur, terpantau meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Bondowoso pada Jumat (4/9/2026). (Dok. BNPB)Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ungup-Ungup, Jawa Timur, terpantau meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Bondowoso pada Jumat (4/9/2026). (Dok. BNPB) Foto: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ungup-Ungup, Jawa Timur, terpantau meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Bondowoso pada Jumat (4/9/2026). (Dok. BNPB)

Di sisi lain, posisi Indonesia di kawasan Ring of Fire membuat ancaman gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, dan gerakan tanah juga terus membayangi.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah tanaman ternyata memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan ekstrem, mulai dari lahan yang terbakar, pesisir yang diterjang gelombang, hingga wilayah yang mengalami kekeringan atau genangan panjang.

Tanaman Tangguh Hadapi Bencana

1.Tumih (Combretocarpus rotundatus)

Studi penelitBadan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diterbitkan dalam jurnal "The Effects of Fire Severity on Peat Swamp Forest Stand Composition and Its Implications for Forest Restoration" menemukan bahwa semakin berat kebakaran, komunitas tumbuhan semakin didominasi oleh spesies pionir yang toleran terhadap api, terutama tumih dan geronggang. 

Bahkan pada lokasi dengan high-severity fire, di tahap seedlings hanya dua spesies yang masih tercatat: Combretocarpus rotundatus dan Cratoxylum glaucum.

Tumbuhan Perepat /Tumih (Combretocarpus rotundatus). (Dok. Himaba UGM)Tumbuhan Perepat /Tumih (Combretocarpus rotundatus). (Dok. Himaba UGM) Foto: Tumbuhan Perepat /Tumih (Combretocarpus rotundatus). (Dok. Himaba UGM)

Tumih punya beberapa karakter yang membantu pemulihannya pascakebakaran. Studi itu menyebut penyebaran benih melalui angin, kulit batang yang relatif tebal, kemampuan tumbuh di lahan gambut terganggu, serta akar padat dan berserat yang membantu menstabilkan permukaan gambut. 

2. Pucuk Idat atau Geronggang (Cratoxylum glaucum)

Geronggang juga merupakan salah satu spesies yang bertahan dan berkembang setelah kebakaran gambut berat. Studi BRIN-UGM menyebut area dengan kebakaran berat makin didominasi geronggang dan tumih setelah berbagai spesies sensitif terhadap api menghilang.

Yang menarik, keduanya bukan berarti tidak bisa terbakar. Lebih tepatnya, kedua spesies memiliki kemampuan kolonisasi dan pemulihan yang lebih baik pada habitat gambut setelah kebakaran dibanding banyak spesies lain.

Tumbuhan Pucuk Idat atau Geronggang (Cratoxylum glaucum). (Dok. Pexels)Tumbuhan Pucuk Idat atau Geronggang (Cratoxylum glaucum). (Dok. Pexels) Foto: Tumbuhan Pucuk Idat atau Geronggang (Cratoxylum glaucum). (Dok. Pexels)

3. Mangrove (Rhizophora stylosa)

Mangrove menjadi salah satu tanaman pesisir yang memiliki kemampuan bertahan sekaligus membantu meredam dampak gelombang.

Studi dalam jurnal Coastal Engineering pada 2025 yang menguji langsung Rhizophora stylosa menyebut mangrove dapat meredam tsunami, storm surge, dan gelombang, sehingga berperan dalam mengurangi bahaya di kawasan pesisir.

Pohon Mangrove (Rhizophora stylosa). (Dok. Pexels)Pohon Mangrove (Rhizophora stylosa). (Dok. Pexels) Foto: Pohon Mangrove (Rhizophora stylosa). (Dok. Pexels)

Rhizophora stylosa juga menghasilkan redaman gelombang tertinggi di antara tiga spesies mangrove yang diuji. Kemampuan tersebut terutama didukung struktur akar tunjang yang kompleks, yang meningkatkan hambatan terhadap aliran air dan membantu mengurangi energi gelombang.

4. Sikil (Dodonaea viscosa)

Riset UGM pada 2025 menyebut Dodonaea viscosa sebagai salah satu jenis pionir asli di Taman Nasional Gunung Merapi setelah erupsi 2010.

Artinya, tanaman ini mampu tumbuh kembali pada lanskap yang telah mengalami gangguan akibat erupsi dan berpotensi berperan sebagai nurse tree yang membantu proses pemulihan vegetasi lain.

Tumbuhan Sikil (Dodonaea viscosa). (Dok. Australian National Botanic Gardens/Murray Fagg via anpsa)Tumbuhan Sikil (Dodonaea viscosa). (Dok. Australian National Botanic Gardens/Murray Fagg via anpsa) Foto: Tumbuhan Sikil (Dodonaea viscosa). (Dok. Australian National Botanic Gardens/Murray Fagg via anpsa)

Namun, tanaman ini tidak dapat disebut "tahan erupsi" dalam arti mampu bertahan ketika terkena lava atau awan panas. Temuan tersebut lebih menunjukkan kemampuannya mengkolonisasi dan mendukung pemulihan ekosistem pascabencana.

5. Cantel (Sorghum bicolor)

Cantel merupakan tanaman pangan yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi kering.

Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2025 menyebut sorgum sebagai tanaman serealia yang berpotensi karena mudah beradaptasi, tahan terhadap kekeringan, dan memiliki produktivitas tinggi.

Tumbuhan Cantel (Sorghum bicolor). (Dok. Pexels)Tumbuhan Cantel (Sorghum bicolor). (Dok. Pexels) Foto: Tumbuhan Cantel (Sorghum bicolor). (Dok. Pexels)

Kemampuan tersebut membuat sorgum relevan di tengah meningkatnya risiko kekeringan di Indonesia.

BMKG menempatkan kekeringan sebagai salah satu risiko yang perlu diantisipasi pada musim kemarau 2026, terutama ketika periode tanpa hujan berlangsung lebih panjang dan ketersediaan air bagi tanaman menurun.

Ketahanan sorgum terhadap kondisi kering membuat tanaman ini berpotensi menjadi salah satu alternatif pangan di wilayah yang semakin rentan terhadap kekeringan.

6. Talas (Colocasia esculenta)

Talas menjadi salah satu tanaman pangan yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang kontras.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Edi Santoso, menyebut talas sebagai tanaman "amfibi" karena dapat tumbuh baik dalam kondisi kering maupun basah, sekaligus adaptif terhadap perubahan iklim.

Daun talas (Colocasia esculenta). (Dok. Pexels)Daun talas (Colocasia esculenta). (Dok. Pexels) Foto: Daun talas (Colocasia esculenta). (Dok. Pexels)

Kemampuan tersebut membuat talas relevan di tengah risiko banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi. Talas mampu beradaptasi pada kondisi kering maupun basah, sehingga dinilai lebih tahan terhadap perubahan ketersediaan air dibanding banyak tanaman pangan lain.

Di Kubu Raya, Kalimantan Barat, masyarakat bahkan telah mengembangkan talas di kawasan rawa gambut dan berhasil memanennya tanpa pembakaran lahan.

Kemampuan berbagai tanaman bertahan di tengah kondisi ekstrem menunjukkan bahwa biodiversitas bukan hanya penting bagi ekosistem, tetapi juga bagi ketahanan terhadap bencana.

Peran ini semakin relevan ketika perubahan iklim meningkatkan tekanan melalui kekeringan, perubahan pola hujan, banjir, dan kebakaran, sementara Indonesia pada saat yang sama juga tetap menghadapi risiko geologis seperti gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung api.

(slm/slm)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |