10 Update Perang Timur Tengah, Blokade Memanas-Harga Minyak Gila Lagi

5 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Hal tersebut setelah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah agresif terhadap Iran, memicu lonjakan harga minyak dunia serta respons keras dari Teheran dan sekutunya.

Berikut update terbaru situasi di Timur Tengah, sebagaimana dikutip AFP, Senin (13/4/2026):

Trump Acuh soal Negosiasi dengan Iran

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak mempermasalahkan jika Iran tidak kembali ke meja perundingan. Ini setelah pembicaraan akhir pekan di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.

"Saya tidak peduli apakah mereka kembali atau tidak. Jika mereka tidak kembali, saya baik-baik saja," ujar Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland.

AS Siapkan Blokade Pelabuhan Iran

Militer AS mengumumkan akan memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Senin pukul 14.00 GMT alias pukul 21.00 WIB. Langkah ini secara efektif akan memberi AS kendali atas lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.

"Blokade akan diberlakukan secara adil terhadap kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran," tulis Komando Pusat AS melalui akun resminya.

Namun, militer AS menegaskan tidak akan mengganggu kebebasan navigasi bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran. Ini berbeda dengan Trump yang mengancam menutup akses untuk seluruh kapal.

Merespons hal ini, Garda Revolusi Iran menyatakan pihaknya memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan memperingatkan bahwa pihak lawan akan terjebak dalam "pusaran maut" jika mengambil langkah keliru. Kepala Angkatan Laut Iran Shahram Irani bahkan menyebut ancaman Trump sebagai "konyol dan lucu", seraya menegaskan militer Iran terus memantau pergerakan pasukan AS.

Iran Tegaskan Tak Akan Tunduk dengan AS

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan Washington. Ia berujar akan melawan jika AS melawan.

"Jika mereka melawan, kami akan melawan. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun," ujarnya, dikutip dari kantor berita Iran.

Harga Minyak Melonjak

Memanasnya situasi berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak sekitar 8% ke level US$104,50 per barel atau sekitar Rp1,78 juta. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Juni naik 7% ke posisi US$102 per barel atau sekitar Rp1,74 juta.

Iran Klaim Kesepakatan Hampir Tercapai

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa kesepakatan dengan AS sebenarnya hampir tercapai dalam perundingan di Pakistan. Namun ini berubah detik-detik terakhir.

"Iran terlibat dengan itikad baik untuk mengakhiri perang," tulisnya seraya menambahkan negosiasi terhambat oleh perubahan sikap AS dan ancaman blokade.

Lebanon Dorong Penarikan Israel

Di sisi lain, konflik di Lebanon juga terus memanas. Perdana Menteri (PM) Lebanon Nawaf Salam menyatakan pihaknya berupaya menghentikan perang dengan Israel dan mendorong penarikan pasukan.

"Kami akan terus berupaya menghentikan perang ini dan memastikan penarikan Israel dari seluruh wilayah kami," ujarnya.

Israel Klaim Ancaman Berkurang

PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut ancaman invasi oleh kelompok Hizbullah telah berhasil ditekan oleh militernya. "Perang masih berlanjut, termasuk di zona keamanan di Lebanon," kata Netanyahu dalam pernyataan video.

Insiden Baru dengan Pasukan PBB di Lebanon

Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) melaporkan insiden di mana tank Israel dua kali menabrak kendaraan penjaga perdamaian di Lebanon selatan. Selain itu, akses menuju posisi UNIFIL juga dilaporkan diblokir oleh tentara Israel.

Korban Perang Terus Bertambah

Media resmi Lebanon melaporkan serangan Israel meluas di wilayah selatan. Kementerian Kesehatan setempat mencatat sedikitnya lima orang tewas dalam serangan terbaru, dengan total korban jiwa di front tersebut mencapai 2.055 orang.

Israel menegaskan bahwa gencatan senjata yang berlaku di kawasan Timur Tengah tidak mencakup operasinya terhadap Hizbullah di Lebanon.

Sekutu Ogah Bantu Trump

Sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS), menolak blokade Selat Hormuz. Inggris misalnya, menegaskan tidak akan bergabung dalam rencana Trump di tengah eskalasi ketegangan AS dengan Iran.

"Kami akan terus mendukung kebebasan navigasi dan keterbukaan Selat Hormuz, yang sangat dibutuhkan untuk stabilitas ekonomi global dan biaya hidup domestik," kata juru bicara pemerintah Inggris.

Meski begitu, London juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak boleh dikenakan pungutan sepihak. Sebelumnya Iran mewacanakan memungut US$ 2 juta per kapal.

Komentar sama juga dikatakan Spanyol. Blokade angkatan laut Selat Hormuz yang diumumkan Trump disebut "tidak masuk akal".

"Saya juga berpikir itu sesuatu yang tidak masuk akal... Ini satu lagi episode dalam spiral penurunan yang telah kita alami," kata Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles dalam sebuah wawancara di televisi publik Spanyol, dimuat AFP.

Sementara itu, Turki menyerukan Selat Hormuz harus dibuka "sesegera mungkin". Negosiasi dengan Iran harus dilakukan.

"Metode persuasi harus digunakan, dan selat harus dibuka sesegera mungkin," kata menteri luar negeri Turki Hakan Fidan kepada kantor berita resmi Anadolu.

(tfa/sef/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |