Yield Obligasi RI Tenor Menengah-Panjang Melejit, Asing Antre Jual?

2 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

22 January 2026 16:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) memberi sinyal yang tidak seragam. Yield tenor pendek melandai, tetapi tenor menengah hingga panjang justru naik. Ini menunjukkan pasar relatif lebih tenang untuk jangka pendek, namun meminta premi risiko lebih tinggi untuk investasi berdurasi lebih panjang.

Perlu dipahami, yield obligasi bergerak berlawanan dengan harga. Jadi saat yield naik, harga obligasi turun yang menandakan investor tengah melakukan aksi jual. 

Merujuk data Refinitiv pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2026), yield tenor 1 tahun berada di level 4,762%, turun dari 4,995% pada awal tahun. Yield tenor 3 tahun juga turun ke 5,117% dari 5,231% pada periode yang sama.

Penurunan yield di tenor pendek ini dapat dibaca sebagai meredanya tekanan seolah pasar melihat risiko jangka dekat lebih terkendali, atau setidaknya ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif dalam waktu dekat tidak akan terjadi.

Sebaliknya, tenor menengah menunjukkan arah yang berbeda. Yield tenor 5 tahun naik ke 5,736% pada 21 Januari 2026 dari 5,538% pada 2 Januari 2026.

Kenaikan di tenor menengah biasanya menggambarkan pasar meminta imbal hasil lebih tinggi untuk risiko durasi, terutama ketika investor menimbang ketidakpastian yang lebih besar pada beberapa tahun kedepan, baik dari sisi suku bunga, inflasi, maupun konfisi fiskal.

Pada tenor panjang, tekanan terlihat lebih jelas. Yield obligasi tenor 10 tahun tercatat 6,326% pada 21 Januari 2026, naik dari 6,119% pada 2 Januari 2026.

Volatilitas di tenor ini juga sempat memanas pada pertengahan Januari. Ketika pada perdagangan Rabu (14/1/2026), yield tenor 10 tahun melonjak 1,96% atau 11,9 bps dalam sehari, dari 6,121% menjadi 6,240%.

Pergerakan harian sebesar ini menunjukkan betapa cepat sentimen bisa berubah, karena tenor panjang sangat peka terhadap perubahan ekspektasi pasar dan posisi investor.

Kenaikan yield di tenor menengah hingga panjang biasanya punya dampak yang cepat terasa ke biaya pendanaan.

Dari sisi pemerintah, yield yang lebih tinggi membuat imbal hasil yang diminta investor berpotensi meningkat pada lelang SBN berikutnya. Jika tren kenaikan ini bertahan, konsekuensinya bisa mendorong biaya bunga utang menjadi lebih mahal.

Selain itu, kenaikan yield pada tenor panjang sering menjadi perhatian karena tenor ini kerap dipakai pasar sebagai acuan untuk membaca risk premium Indonesia, terutama ketika investor global sedang selektif terhadap aset emerging markets.

Efeknya juga menjalar ke sektor korporasi. Yield SBN adalah patokan utama di pasar obligasi domestik. Saat yield SBN naik, yield obligasi korporasi umumnya ikut terdorong, sehingga biaya menerbitkan utang baru atau refinancing bisa menjadi lebih mahal.

Dampaknya paling terasa bagi emiten yang sedang ekspansi agresif, memiliki kebutuhan belanja modal yang besar, atau punya utang jatuh tempo dalam waktu dekat. Kenaikan biaya pendanaan dapat mengubah perhitungan proyek, memperketat seleksi investasi, dan menekan margin jika biaya bunga meningkat.

Posisi Kepemilikan Asing di SBN

Pergerakan yield ini juga sejalan dengan dinamika investor asing. Bank Indonesia (BI) mencatat sepanjang periode perdagangan pekan lalu yakni dari 12 - 14 Januari 2026, investor asing membukukan jual bersih Rp8,15 triliun di pasar SBN.

Secara kumulatif sepanjang 2026 hingga 14 Januari, berdasarkan data settlement BI, net sell asing mencapai Rp9,91 triliun.

Dari sisi kepemilikan, data DJPPR per 20 Januari 2026 menunjukkan porsi asing di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan turun tipis menjadi 13,28% dari 13,38% pada bulan sebelumnya.

Namun secara nominal, kepemilikan asing justru naik menjadi Rp879,88 triliun dari Rp878,65 triliun pada Desember 2025, atau bertambah sekitar Rp1 triliun. Ini menggambarkan situasi yang tidak hitam putih, karena porsi bisa turun ketika total outstanding naik, sementara nilai nominal bisa meningkat karena efek pergerakan pasar atau komposisi instrumen.

Ke depan, pelaku pasar biasanya akan memantau beberapa hal kunci untuk membaca arah yield. Pertama, kelanjutan arus dana asing di pasar SBN dan respons investor domestik. Kedua, dinamika kurs rupiah dan sentimen global yang memengaruhi risk appetite.

Ketiga, arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga yang tercermin pada pergerakan tenor pendek hingga menengah. Jika tekanan pada tenor panjang tetap lebih dominan, pasar memberi sinyal bahwa premi risiko jangka panjang masih diminta lebih besar, sehingga ruang penurunan yield belum sepenuhnya terbuka.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |