Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menanjak tajam pada perdagangan Kamis pagi. Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.45 WIB, harga Brent tercatat di US$100,72 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$95,37 per barel. Lonjakan ini menandai kembalinya minyak ke level tiga digit setelah sempat mereda beberapa hari sebelumnya.
Jika melihat pergerakan sejak akhir Februari, reli minyak berlangsung sangat cepat. Pada 27 Februari 2026, Brent masih berada di US$72,48 dan WTI US$67,02. Dalam waktu kurang dari dua pekan, harga melonjak lebih dari 38%, didorong oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang langsung mengguncang jalur pasokan energi global.
Harga sempat melonjak pada awal pekan ini, sebelum turun sementara. Pada 9 Maret, Brent mencapai US$98,96 dan WTI US$94,77, kemudian merosot dua hari berikutnya hingga Brent berada di US$87,8 pada 10 Maret. Namun situasi kembali memanas ketika konflik militer di kawasan Teluk memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak dunia.
Melansir dari Reuters, Iran meningkatkan serangan terhadap kapal dan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah. Dua kapal tanker dilaporkan terbakar di perairan Irak setelah dihantam kapal bermuatan bahan peledak yang diduga dikendalikan Iran. Serangan tersebut memicu kebakaran besar di laut dekat Basra dan menghentikan operasi sejumlah pelabuhan minyak.
Ketegangan ini juga merambat ke Selat Hormuz, jalur vital energi global yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Melansir dari Reuters, hingga kini belum ada kepastian bahwa kapal dapat berlayar dengan aman melalui jalur tersebut. Situasi semakin rumit setelah muncul laporan bahwa Iran menempatkan ranjau laut di perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Di tengah eskalasi tersebut, pejabat militer Iran bahkan memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi harga minyak hingga US$200 per barel. Pernyataan ini muncul setelah negara tersebut meningkatkan serangan terhadap kapal dagang dan fasilitas energi regional, yang menurut mereka merupakan respons terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran.
Untuk meredam gejolak pasar, International Energy Agency (IEA) memutuskan langkah darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melansir dari Reuters, organisasi tersebut menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global, intervensi terbesar sejak lembaga itu dibentuk pada krisis energi 1970-an.
Amerika Serikat akan menjadi kontributor terbesar dengan melepas 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve mulai pekan depan. Jepang juga menyatakan akan segera melepas sekitar 80 juta barel dari cadangan nasional dan swasta guna membantu menenangkan pasar energi global.
Namun pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin langkah ini cukup untuk menahan lonjakan harga. Melansir dari Reuters, para analis menilai pelepasan 400 juta barel tersebut hanya mampu menutup sekitar 20 hari gangguan pasokan yang berasal dari jalur Selat Hormuz. Selain itu, minyak dari cadangan strategis membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum benar-benar mencapai pasar.
Di tengah ketidakpastian ini, pasar keuangan global mulai merasakan dampaknya. Bursa saham Asia melemah, sementara imbal hasil obligasi global naik karena kekhawatiran inflasi energi kembali meningkat. Lonjakan harga minyak juga memaksa investor mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral, terutama di Amerika Serikat dan Eropa.
Dengan Selat Hormuz yang masih berada dalam bayang-bayang konflik dan serangan terhadap kapal tanker yang terus terjadi, pasar energi kini memasuki fase paling sensitifnya dalam beberapa dekade terakhir. Jika jalur ini benar-benar tersumbat, sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak dapat bergerak jauh lebih cepat daripada upaya stabilisasi pasar yang dilakukan negara-negara konsumen energi.
CNBC Indonesia
(emb/emb)
Addsource on Google

















































