Virus Pembunuh Bakteri Dibawa Pulang ke Bumi, Hasilnya Mengejutkan

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Virus pembunuh bakteri yang lahir di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) akhirnya dibawa pulang ke Bumi. Harapan para peneliti, virus dari luar angkasa tersebut bisa membantu mencari solusi penyakit yang resisten terhadap antibiotik.

Menurut Science Alert, perbedaan utama eksperimen virus yang di luar angkasa dan di permukaan Bumi adalah gravitasi. Lingkungan tanpa gravitasi memicu mutasi genetika dan perubahan struktur fisik bakteria.

Mutasi penting dalam pengembangan obat anti infeksi karena bakteri dan phages (virus yang menginfeksi bakteri) bertarung dalam evolusi, saling beradaptasi satu dengan yang lain. Bakteri berevolusi agar bisa bertahan lebih baik dari serangan infeksi phage, sedangkan phage berevolusi mencari cara untuk menembus pertahanan tersebut.

Laporan penelitian yang ditulis oleh Srivatsan Raman dan tim dari University of Wisconsin-Madison dalam jurnal PLOS Biology membeberkan proses eksperimen virus dan bakteri di ISS dalam rangka mengembangkan obat untuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

Dalam eksperimen, tim peneliti membandingkan populasi E. coli yang terinfeksi virus bernama T7. Inkubasi dilakukan di dua lokasi, yaitu ISS dan di permukaan Bumi. Analisis atas sampel yang diinkubasi di luar angkasa menunjukkan dampak gravitasi-mikro terhadap kecepatan infeksi phage.

Proses infeksi phage di luar angkasa ternyata memakan waktu lebih lama dibanding di Bumi. Penyebabnya, menurut penelitian yang dilakukan sebelumnya, adalah dampak kondisi tanpa gravitasi terhadap pencampuran cairan.

"Studi baru memvalidasi hipotesis dan ekspektasi kami," kata Raman

Di Bumi, cairan bakteri dan virus terus menerus "diaduk" oleh gravitasi Bumi. Cairan yang lebih hangat naik ke permukaan, sedangkan cairan yang lebih dingin turun ke bawah sehingga partikel yang lebih berat selalu ada di bagian paling dasar.

Di luar angkasa, semua zat hanya "mengambang." Bakteri dan phage pun jadi jarang "berbenturan." Phage harus berevolusi agar bisa "menangkap" bakteri dengan lebih efisien.

Setelah sampel bakteri dan phage dikirim ke Bumi, peneliti bisa mengenali perubahan signifikan pada keduanya. Selain bisa menginfeksi bakteria lebih cepat, virus yang sempat tinggal di luar angkasa bisa mengikat bakteria lebih baik. Di sisi lain, bakteri E. coli mengubah reseptor mereka sehingga bisa lebih baik dalam menghalau serangan virus.

Ilmuwan kemudian menguji phage yang diinkubasi di luar angkasa dengan bakteri E. coli yang sebelumnya diketahui memiliki daya tahan terhadap antibiotik. Hasilnya, aktivitas virus tersebut jauh lebih tinggi.

"Hasil ini menunjukkan bahwa luar angkasa bisa membantu kita meningkatkan aktivitas terapi menggunakan phage," kata Charlie Mo dari University of Wisconsin-Madison. "Namun, ada faktor biaya mengirim phage ke luar angkasa."

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |