Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
27 August 2026 20:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali ikut campur dalam pembangunan kapal perang negaranya. Kali ini, Trump ingin mengubah teknologi peluncur pesawat pada kapal induk terbaru Angkatan Laut AS.
Trump meminta kapal induk kelas Ford meninggalkan sistem peluncur elektromagnetik dan kembali menggunakan ketapel bertenaga uap, teknologi yang telah dipakai Angkatan Laut AS selama puluhan tahun.
Dilansir dari The Economist, Trump memang memiliki ketertarikan besar terhadap desain kapal perang.
Trump diketahui menyukai Victory at Sea, film dokumenter era 1950-an mengenai kiprah Angkatan Laut AS dalam Perang Dunia II. Film tersebut banyak menampilkan kapal tempur yang menembakkan meriam besar serta pesawat yang lepas landas dari geladak di kapal induk.
Ketertarikan Trump terhadap desain kapal pernah terlihat juga ketika pidatonya pada Konvensi Nasional Partai Republik 2024. Ketika itu, Trump menceritakan keterlibatannya dalam mengubah bagian depan sebuah kapal perang pada masa jabatan pertamanya agar terlihat seperti kapal pesiar.
Kini, Trump kembali berulah ke sistem peluncur pesawat di kapal induk.
Landasan kapal induk jauh lebih pendek dibandingkan landasan pacu di darat. Karena itu, pesawat membutuhkan alat pelontar atau ketapel agar dapat mencapai kecepatan yang cukup untuk terbang.
Kapal induk kelas Ford menggunakan Electromagnetic Aircraft Launch System (EMALS). Teknologi tersebut memakai tenaga elektromagnetik untuk mendorong pesawat hingga mencapai kecepatan lepas landas.
Kapal induk USS Gerald R. Ford tiba di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, 23 Februari 2026. (REUTERS/Stelios Misinas) Foto: Kapal induk USS Gerald R. Ford tiba di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, 23 Februari 2026. (REUTERS/Stelios Misinas)
Trump menilai EMALS terlalu rumit dan sulit untuk perawatannya. Baru-baru ini, tepatnya pada 13 Agustus 2026, Trump meminta Pentagon untuk menyusun rencana penggunaan kembali ketapel uap dalam waktu 60 hari.
Padahal, penggunaan EMALS sudah mulai memperlihatkan hasil yang lebih baik setelah sempat mengalami masalah pada tahap awal penggunaannya. Kapal induk USS Gerald R. Ford mencatat sekitar 12.000 peluncuran pesawat yang berhasil sepanjang penugasan selama 326 hari.
Bryan Clark dari Hudson Institute memperkirakan EMALS memungkinkan kapal induk melakukan penerbangan sekitar 20% lebih banyak dibandingkan ketapel uap.
Dorongan yang dihasilkan juga lebih halus sehingga mengurangi tekanan terhadap pesawat. Kekuatannya dapat disesuaikan untuk meluncurkan pesawat tempur berukuran besar maupun drone ringan.
FILE - In this Saturday, April 8, 2017 file photo provided by the U.S. Navy, the USS Gerald R. Ford.
Keinginan Trump Bisa Habiskan Miliaran Dolar
Trump ingin kapal keempat kelas Ford, USS Doris Miller, menjadi kapal induk pertama yang kembali menggunakan ketapel uap. Kapal tersebut saat ini masih dalam proses pembangunan.
Masalahnya, USS Doris Miller sejak awal dirancang untuk menggunakan EMALS. Mengganti sistem tersebut bukan cuman melempas satu perangkat dan memasang perangkat baru.
Pabrikan harus memasang jaringan pipa dari ruang mesin menuju ketapel di geladak. Tata ruang, berat, dan keseimbangan kapal juga memerlukan perhitungan ulang.
Perubahan semakin rumit apabila Trump tetap menginginkan menara komando atau "pulau" di atas geladak dipindahkan ke posisi lain.
Pembangkit nuklir kapal kelas Ford juga dirancang untuk menghasilkan listrik dalam jumlah besar. Apabila kapal kembali menggunakan ketapel uap, sistem tenaga di dalamnya perlu kembali disesuaikan.
Clark memperkirakan desain ulangnya saja dapat menelan biaya ratusan juta dolar. Sementara keseluruhan perubahan berpotensi menambah biaya hingga miliaran dolar dari ongkos pembangunan USS Doris Miller yang sudah mencapai sekitar US$15 miliar.
Keinginan Trump mengubah ketapel juga bukan satu-satunya campur tangan dalam desain kapal perang. Pada Desember, ia memerintahkan pembangunan kapal berukuran sangat besar dari "kelas Trump".
Kapal tersebut akan menjadi bagian dari Golden Fleet dan direncanakan membawa banyak peluncur rudal, senjata laser, serta meriam rel elektromagnetik.
Namun, kapal yang sangat besar membutuhkan biaya dan waktu pembangunan lebih panjang. Ukurannya juga dapat menjadikannya sasaran bernilai tinggi apabila perang terjadi.
Persaingan Kapal Perang AS vs China
Keinginan Trump mengubah desain kapal terjadi ketika Angkatan Laut AS sedang menghadapi tekanan dari pesatnya pertumbuhan armada China.
Berdasarkan data Congressional Budget Office (CBO), Angkatan Laut AS memiliki 291 kapal tempur per 1 Mei 2026. Jumlah tersebut masih jauh dari target 355 kapal yang ditetapkan Kongres.
Kapal induk ketiga Tiongkok, Fujian, sedang melakukan uji coba laut di lokasi yang tidak diketahui. Kapal induk ketiga Tiongkok mulai beroperasi setelah upacara serah terima kepada Angkatan Laut pekan ini, (7/11/2025). (AFP/HANDOUT) Foto: Kapal induk ketiga Tiongkok, Fujian, sedang melakukan uji coba laut di lokasi yang tidak diketahui. Kapal induk ketiga Tiongkok mulai beroperasi setelah upacara serah terima kepada Angkatan Laut pekan ini, (7/11/2025). (AFP/HANDOUT)
Sementara China telah memiliki lebih dari 370 kapal. Berdasarkan jumlah unit, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China atau People's Liberation Army Navy (PLAN) kini menjadi armada laut terbesar di dunia.
Namun, jumlah kapal tidak langsung menunjukkan kekuatan keseluruhan. AS masih memiliki kapal yang lebih besar, daya tembak lebih kuat, serta kemampuan operasi jarak jauh yang lebih matang.
AS memiliki 11 kapal induk, sedangkan China baru memiliki tiga unit, yakni Liaoning, Shandong, dan Fujian. Seluruh kapal induk AS menggunakan tenaga nuklir, sementara tiga kapal induk China masih menggunakan tenaga konvensional.
Meski demikian, China terus mengejar. Fujian, yang mulai beroperasi pada November 2025, telah menggunakan sistem ketapel elektromagnetik. Teknologi tersebut sama dengan yang digunakan kapal induk kelas Ford milik AS dan justru ingin ditinggalkan Trump.
China juga sedang membangun kapal induk keempat di galangan Dalian. Kapal yang sering disebut sebagai Type 004 tersebut diduga akan menggunakan tenaga nuklir, meskipun spesifikasinya belum dikonfirmasi secara resmi oleh Beijing.
Kapal induk ketiga Tiongkok, Fujian, sedang melakukan uji coba laut di lokasi yang tidak diketahui. Kapal induk ketiga Tiongkok mulai beroperasi setelah upacara serah terima kepada Angkatan Laut pekan ini, (7/11/2025). (AFP/HANDOUT) Foto: Kapal induk ketiga Tiongkok, Fujian, sedang melakukan uji coba laut di lokasi yang tidak diketahui. Kapal induk ketiga Tiongkok mulai beroperasi setelah upacara serah terima kepada Angkatan Laut pekan ini, (7/11/2025). (AFP/HANDOUT)
Keunggulan AS di Bawah Laut Mulai Dikejar
AS juga masih unggul dalam kekuatan kapal selam. Negara tersebut memiliki 66 kapal selam dan seluruhnya menggunakan tenaga nuklir.
China memiliki sekitar 60 kapal selam, tetapi sebagian besar masih menggunakan tenaga diesel-listrik. Namun, pejabat intelijen Angkatan Laut AS memperkirakan jumlah kapal selam China akan meningkat menjadi sekitar 70 unit pada 2027 dan 80 unit pada 2035. Sekitar separuhnya diperkirakan sudah menggunakan tenaga nuklir.
Kekuatan lain China berada pada kemampuan industrinya. Galangan kapal China mampu membangun kapal perang dengan kecepatan yang sulit ditandingi AS.
Reuters mencatat China meluncurkan 23 kapal perusak baru dalam satu dekade hingga 2023. Dalam periode yang sama, AS hanya membangun 11 kapal perusak.
Secara global, AS masih memiliki armada yang lebih kuat karena didukung lebih banyak kapal induk, kapal selam nuklir, serta jaringan pangkalan dan sekutu di berbagai negara.
Namun, posisi China lebih menguntungkan apabila konflik terjadi di sekitar Taiwan atau Laut China Selatan. Beijing dapat mengerahkan sebagian besar armadanya di dekat wilayah sendiri serta mendapat dukungan dari pesawat dan rudal berbasis darat.
Persaingan tersebut menunjukkan bahwa AS masih unggul dalam kemampuan, tetapi China menang dalam jumlah dan kecepatan pembangunan kapal.
Di tengah kondisi tersebut, keinginan Trump mengubah desain kapal yang sedang dibangun justru berisiko menambah biaya dan memperlambat penguatan armada AS.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)


















































