Bill Gates Kini Berubah, Warning Hal Ini ke Warga Bumi

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates, melontarkan peringatan keras. Dunia saat ini, tegasnya, sama sekali tidak memiliki rencana matang untuk menghadapi pergolakan sosial, politik, dan ekonomi besar-besaran yang akan segera ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI).

Mengutip CNBC International, Kamis (27/08/2026), Bill menyebutkan bahwa AI memang berpotensi menjadi penyeimbang terbesar yang pernah diciptakan manusia. Tapi, AI juga justru berubah menjadi sumber ketidakadilan yang paling buruk.

"Saya tidak melihat bukti bahwa para pemimpin, pakar, dan komunitas menghadapi tantangan ini secara memadai," katanya.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah esai yang diterbitkan pada hari Rabu. Sang miliarder meramalkan bahwa AI akan menyingkirkan banyak pekerja di seluruh sektor ekonomi, menekan perekrutan tingkat pemula, dan memaksa para pembuat kebijakan untuk memikirkan kembali konsep pekerjaan, pendidikan, serta jaring pengaman sosial.

Pernyataan ini menandai pergeseran dari sikap Bill sebelumnya. Ia pernah menyatakan pada bulan Oktober lalu bahwa AI adalah hal teknis terbesar yang pernah ada dalam hidupnya.

"Tantangannya sangat monumental. Bahkan di bawah kondisi terbaik, transisi ke era AI baru ini akan menjadi salah satu masa paling bergejolak dalam sejarah manusia," papar-nya.

Berbeda dengan pergeseran teknologi di masa lalu, AI diprediksi mampu menggantikan kerja kognitif manusia di berbagai industri dengan jauh lebih cepat. Bahkan lebih dulu daripada kemampuan pekerja yang tergusur untuk pindah ke peran baru.

"Kita butuh waktu untuk bersiap menghadapi periode pergolakan sosial, politik, dan ekonomi yang akan kita masuki," tulisnya.

"Sayangnya, saat ini kita tidak bersiap untuk itu. Tidak ada rencana untuk mempermudah jalan masuk ke era AI," tegas Gates lagi.

Pekerjaan kerah putih dipastikan akan menjadi yang pertama kali terdampak, di mana bidang penjualan, dukungan pelanggan, rekayasa perangkat lunak, hingga tenaga paralegal berada di garis depan. AI pada akhirnya akan mengambil alih berbagai tugas kompleks, termasuk menilai pinjaman, menganalisis data, dan memilah pasien.

Di sisi lain, pekerja kerah biru juga akan menghadapi tekanan luar biasa karena robot yang semakin canggih kini menjadi jauh lebih murah. Sementara generasi muda terancam memasuki pasar tenaga kerja dengan peluang lowongan yang sangat minim.

"Orang-orang yang paling butuh waktu adalah mereka yang paling tidak memilikinya, seperti pekerja akuntansi yang digantikan oleh bot atau pekerja berupah US$ 20 (Rp 354.000) per jam yang kehilangan pekerjaannya karena robot berupah US$ 10 (Rp 177.000) per jam," tutur-nya.

Tingkat persaingan global diprediksi akan semakin mempercepat adopsi teknologi ini. Banyak perusahaan akan menggunakan AI dan robotika murni untuk memangkas biaya operasional serta harga jual, yang kemudian memaksa para pesaing untuk mengikutinya.

Rantai kejadian ini akan membuat proses pelatihan ulang dan pencarian kerja baru memicu kekacauan sosial yang sangat signifikan. "Robot dan AI yang digabungkan dapat menciptakan lingkaran setan," katanya.

Meski secara terbuka mengakui masih memiliki ikatan finansial dengan industri teknologi, Bill memaparkan bahwa teknologi ini juga dapat mempercepat inovasi dalam tantangan teknis terberat di dunia. AI dapat membantu menyediakan energi bersih, memerangi perubahan iklim, menumbuhkan cukup makanan, dan memberantas penyakit.

Oleh karena itu, ia mendesak pembentukan badan nasional baru yang mampu mengoordinasikan kebijakan transisi secara luas. Mulai dari sektor ketenagakerjaan, perpajakan, energi, pemilihan umum, kesehatan masyarakat, sistem keuangan, hingga keamanan nasional.

"Namun bahkan negara yang membereskan urusannya sendiri masih akan terpapar risiko lintas batas. Inilah sebabnya mengapa organisasi internasional perlu dibangun secara paralel," ungkap-nya.

Lembaga-lembaga pengawas ini diusulkan untuk meniru model sistem global yang sudah ada. Seperti, rezim inspeksi untuk senjata nuklir, peraturan penerbangan internasional, dan perjanjian perlindungan lapisan ozon.

"Sebuah organisasi global baru untuk AI akan membutuhkan elemen dari ketiganya dan lebih banyak lagi," pungkas-nya.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |