Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Di tengah hijaunya Kebun Raya Bogor, ada sepasang pohon yang memiliki cerita berbeda dari pohon-pohon lainnya. Bukan karena bentuk bunganya yang mencolok atau buahnya yang unik, melainkan karena keduanya tumbuh berdampingan dan kemudian dikenal masyarakat dengan nama yang sangat akrab: Pohon Jodoh.
Kisahnya menarik karena kedua pohon tersebut ternyata bukan berasal dari jenis yang sama.
Menurut informasi resmi Kebun Raya, pada tahun 1866 dua bibit dari jenis berbeda ditanam berdampingan di lokasi tersebut. Salah satunya adalah Meranti Tembaga (Shorea leprosula Miq.), sedangkan pohon di sebelahnya adalah Beringin (Ficus albipila (Miq.) King).
Masyarakat kemudian menyebut keduanya sebagai Pohon Jodoh karena perawakannya yang mirip. Kebun Raya juga mencatat kedua jenis tersebut sebagai pohon yang sudah langka di Indonesia mempunyai nomor koleksi VIII.D.11 dan VIII.D.12.
Jika dihitung hingga tahun 2026, penanaman tersebut telah berlangsung sekitar 160 tahun. Selama itu pula, kedua pohon telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Kebun Raya Bogor.
Dua pohon, dua keluarga
Sekilas, keberadaan kedua pohon tersebut memang mudah membuat orang menganggapnya sebagai satu pasangan yang serupa. Namun, jika dilihat dari sudut pandang botani, keduanya justru mempunyai hubungan kekerabatan yang cukup jauh.
Meranti Tembaga yang selama ini dikenal dengan nama ilmiah Shorea leprosula termasuk kelompok Dipterocarpaceae. Dalam taksonomi mutakhir Plants of the World Online dari Royal Botanic Gardens, Kew, nama yang diterima saat ini adalah Rubroshorea leprosula (Miq.) P.S.Ashton & J.Heck., sedangkan Shorea leprosula Miq. merupakan sinonimnya. Jenis ini merupakan pohon tropis dan memiliki sebaran asli yang mencakup Jawa, Sumatra, Borneo, Malaya, dan Thailand.
Sementara itu, Beringin mempunyai nama ilmiah Ficus albipila (Miq.) King. Jenis ini termasuk famili Moraceae, famili yang juga menaungi berbagai jenis beringin dan ara. Kew mencatat Ficus albipila sebagai nama yang diterima, dengan sebaran asli yang meliputi antara lain Jawa, Sumatra, Kepulauan Sunda Kecil, Malaya, Thailand, hingga beberapa wilayah lainnya di kawasan tropis.
Dengan demikian, secara botani keduanya bukan "saudara dekat". Meranti Tembaga berada dalam famili Dipterocarpaceae, sedangkan Beringin berada dalam famili Moraceae. Namun, perbedaan itu tidak menghalangi keduanya untuk tumbuh berdampingan. Dan justru di situlah cerita Pohon Jodoh menjadi menarik.
Mengapa disebut Pohon Jodoh?
Nama Pohon Jodoh bukanlah nama ilmiah. Ia merupakan nama yang tumbuh dari cerita dan persepsi masyarakat terhadap dua pohon yang berdiri berdampingan.
Kebun Raya secara resmi menjelaskan bahwa masyarakat menyebutnya Pohon Jodoh karena perawakannya yang mirip. Dua pohon berbeda jenis itu kemudian menjadi satu objek yang mudah dikenali oleh pengunjung.
Dalam perkembangan cerita di masyarakat, keduanya kemudian memperoleh makna simbolis sebagai pasangan. Kisah seperti ini membuat lokasi tersebut memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi pengunjung yang datang bersama pasangan.
Tetapi di balik cerita romantis tersebut terdapat fakta botani yang jauh lebih menarik: dua tumbuhan dari famili berbeda dapat hidup berdampingan dalam ruang yang sama dan menjadi bagian dari satu lanskap selama lebih dari satu abad.
Kebun Raya Bogor bukan sekadar taman
Untuk memahami pentingnya Pohon Jodoh, kita perlu melihat konteks tempatnya. Kebun Raya Bogor bukan sekadar taman kota dengan pepohonan yang indah. Situs resmi Kebun Raya menjelaskan bahwa kebun raya merupakan lahan yang ditanami berbagai jenis tumbuhan untuk keperluan koleksi, penelitian, dan konservasi ex situ. Kebun raya juga berfungsi sebagai sarana wisata dan pendidikan.
Kebun Raya Bogor sendiri didirikan pada 1817 dan berkembang menjadi salah satu pusat penting perkembangan ilmu botani di Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, kawasan ini berkaitan erat dengan perkembangan berbagai institusi ilmiah, termasuk Herbarium Bogoriense dan lembaga-lembaga penelitian lainnya.
Karena itu, pohon-pohon tua yang tumbuh di dalamnya tidak hanya mempunyai nilai estetika. Mereka merupakan bagian dari koleksi hidup yang memiliki nilai ilmiah, sejarah, pendidikan, dan konservasi. Penelitian yang diterbitkan dalam Buletin Kebun Raya, jurnal BRIN, juga menegaskan bahwa koleksi pohon Kebun Raya Bogor merupakan bagian penting dari pengelolaan lanskap untuk tujuan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan.
Pohon tua adalah arsip kehidupan
Bayangkan sebuah pohon yang telah tumbuh selama sekitar 160 tahun. Ia tidak memiliki buku harian. Tidak memiliki kamera. Tidak mampu menceritakan apa yang telah dilihatnya. Tetapi setiap tahun pertumbuhannya meninggalkan jejak.
Pohon tersebut telah melewati pergantian musim, perubahan lanskap, perubahan sosial, dan pergantian generasi manusia. Anak-anak yang mungkin dahulu datang melihatnya bersama orang tua, bisa jadi kini telah membawa cucu mereka untuk melihat pohon yang sama.
Karena itu, pohon tua di kebun raya dapat dipandang sebagai arsip kehidupan yang masih hidup. Ia bukan arsip dalam bentuk kertas, tetapi arsip biologis yang terus tumbuh. Keberadaannya menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Dari cerita cinta menuju konservasi
Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia memandang Pohon Jodoh. Sebagian pengunjung mungkin datang karena cerita tentang pasangan. Sebagian datang karena ingin berfoto. Sebagian lainnya mungkin hanya tertarik pada bentuk pohonnya.
Tetapi bagi seorang botanis atau pemerhati konservasi, perhatian akan segera beralih kepada pertanyaan lain: Apa nama jenisnya? Dari mana asalnya? Bagaimana status taksonominya? Bagaimana kondisi pohonnya? Bagaimana cara mempertahankan keberadaannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa sebuah pohon dapat memiliki banyak lapisan makna.
Kebun raya sendiri menempatkan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata alam, dan jasa lingkungan sebagai bagian dari perannya. Konservasi dilakukan antara lain melalui pemeliharaan keanekaragaman tumbuhan secara ex situ, sementara koleksi tumbuhan juga menjadi sumber pengetahuan dan rujukan ilmiah.
Dengan demikian, Pohon Jodoh tidak seharusnya hanya dipandang sebagai objek romantis. Ia juga merupakan bagian dari warisan tumbuhan yang perlu dikenali, didokumentasikan, dirawat, dan dipelajari.
Keanekaragaman tidak berarti keseragaman
Ada pelajaran menarik yang dapat kita ambil dari kedua pohon ini. Meranti Tembaga tidak harus menjadi Beringin agar dapat tumbuh berdampingan. Beringin tidak harus berubah menjadi Meranti agar dapat menjadi bagian dari lanskap yang sama. Keduanya tetap mempertahankan identitas biologisnya masing-masing.
Dalam perspektif keanekaragaman hayati, keadaan seperti ini merupakan gambaran sederhana bahwa kehidupan memang tersusun atas berbagai jenis dengan karakter yang berbeda. Perbedaan bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Justru perbedaan itulah yang membentuk keanekaragaman.
Karena itulah konservasi tumbuhan menjadi penting. Menjaga sebuah pohon tua berarti menjaga bukan hanya individunya, tetapi juga informasi, sejarah, pengalaman ekologis, dan nilai pendidikan yang melekat padanya.
Pohon Jodoh akhirnya bukan hanya cerita tentang dua pohon yang berdampingan. Ia adalah cerita tentang waktu, keanekaragaman, ilmu pengetahuan, konservasi, dan hubungan manusia dengan tumbuhan.
(miq/miq)


















































