Tiba-Tiba "Tangan Kanan" Xi Jinping Keliling Asia Tenggara, Ada Apa?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - China kini tengah melancarkan manuver diplomatik besar-besaran untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara. Langkah Beijing ini dilakukan dengan memanfaatkan krisis keamanan energi dan gangguan perdagangan global yang tengah menghantam dunia saat ini sebagai pintu masuk utama.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dilaporkan memulai rangkaian kunjungan diplomatiknya ke sejumlah negara di Asia Tenggara. Mengutip laporan Al Jazeera pada Rabu, (22/04/2026), langkah ini merupakan strategi terbaru Beijing di tengah krisis yang terus berlarut-larut serta meningkatnya tekanan pada keamanan energi dan perdagangan maritim di tingkat global.

Pada hari pertama kunjungannya, Wang Yi dijadwalkan menyambangi Kamboja sebelum melanjutkan perjalanan ke Thailand dan Myanmar. Fokus utama dari rangkaian kunjungan ini adalah untuk memperdalam hubungan bilateral dengan negara-negara tersebut di tengah ketidakpastian situasi ekonomi dunia.

China's Foreign Minister Wang Yi gestures during an event hosting Mahmoud al-Aloul (not pictured), Vice Chairman of the Central Committee of Palestinian organisation and political party Fatah, and Mussa Abu Marzuk (not pictured), senior member of the Palestinian Islamist movement Hamas, at the Diaoyutai State Guesthouse in Beijing on July 23, 2024. PEDRO PARDO/Pool via REUTERSFoto: Wang Yi (via REUTERS/PEDRO PARDO)

Jurnalis Al Jazeera, Patrick Fok, yang melaporkan dari Hong Kong menyebutkan bahwa China tengah meningkatkan aktivitas diplomasinya setelah melihat banyaknya pemimpin dunia yang datang ke Beijing belakangan ini. "Kita telah melihat sederet pemimpin dunia melakukan perjalanan ke Beijing dalam beberapa pekan terakhir, dan Beijing sedang meningkatkan diplomasi," kata Fok.

China memiliki ambisi besar untuk memosisikan dirinya sebagai mitra alternatif yang stabil bagi negara-negara Asia Tenggara. Upaya ini dilakukan secara sengaja untuk memberikan kontras yang nyata terhadap peran dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Fok menambahkan bahwa agenda utama Wang adalah memperkuat ikatan di tiga negara kunci yang menjadi target kunjungannya kali ini. "Wang Yi akan mengunjungi Kamboja pada hari pertama, dan dia kemudian akan menuju Thailand dan kemudian ke Myanmar untuk memperdalam hubungan dengan negara-negara tersebut," jelas Fok.

Upaya diplomatik yang masif ini muncul di saat negara-negara Asia Tenggara tersebut sedang mengalami tekanan ekonomi yang hebat. Kawasan ini merupakan wilayah yang terdampak sangat parah oleh gangguan pasokan energi serta kebijakan tarif dagang yang diterapkan oleh pemerintah Washington.

Menurut analisis Fok, strategi China adalah menawarkan diri sebagai solusi di tengah ketegangan antara negara-negara tersebut dengan pihak Barat. China ingin menampilkan dirinya sebagai alternatif yang stabil bagi negara-negara ini, berbeda dengan AS.

Lebih lanjut, negara-negara yang dikunjungi Yi juga merupakan pihak yang sangat terpukul oleh disrupsi energi global. Fokus kunjungan pun tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi, melainkan juga menyentuh aspek pertahanan dan aliansi keamanan yang krusial.

Fok menegaskan bahwa kondisi ini merupakan momentum emas bagi China untuk mengambil keuntungan dari keretakan hubungan negara-negara tersebut dengan Amerika Serikat. Negara-negara ini juga merupakan negara-negara yang terpukul sangat keras oleh gangguan pasokan energi.

"Ada juga negara-negara yang terpukul keras oleh tarif perdagangan Washington. Ini adalah kesempatan sempurna, dalam banyak hal, bagi China untuk memanfaatkannya," tegas Fok.

Satu hal penting yang digarisbawahi dalam kunjungan ke Kamboja adalah keterlibatan para petinggi pertahanan dalam pembicaraan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa aliansi yang dibangun tidak hanya sekadar kerja sama dagang, tetapi juga mencakup pakta keamanan kawasan.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, China diprediksi akan segera mengucurkan bantuan ekonomi besar-besaran kepada negara-negara mitra di Asia Tenggara. Selain itu, ekspansi proyek-proyek energi milik Beijing diperkirakan akan semakin mendominasi kawasan ini dalam waktu dekat.

"Kita kemungkinan besar akan melihat dukungan ekonomi dari China ke negara-negara ini, dan kita mungkin juga melihat mereka memperdalam perluasan proyek-proyek energi, proyek energi China, dalam beberapa hari mendatang," pungkas Fok.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |