Terbebani Suku Bunga The Fed, Harga Emas Merana Pekan Ini

7 hours ago 1

Review Sepekan

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

02 May 2026 09:00

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga emas global cenderung merana sepanjang pekan ini, meski sempat berbalik arah di perdagangan akhir pekan ini, dibebani oleh sikap bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang kembali menahan suku bunga acuannya.

Merujuk Refinitiv, harga emas di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (1/5/2026), ditutup di posisi US$ 4.613,02 per troy ons. Harganya melemah 0,17%. Dalam sepekan terakhir, emas ambruk 2,02% secara point-to-point.

The Fed memang menahan suku bunga, namun dalam keputusan paling terpecah sejak 1992.

Bank sentral menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Tiga pejabat bahkan menolak pernyataan karena tidak ingin ada sinyal bias penurunan suku bunga.

Setelah keputusan Federal Reserve, pelaku pasar tetap bertaruh bahwa suku bunga tidak akan dipangkas tahun ini maupun dalam waktu dekat. Kekhawatiran inflasi kembali meningkat seiring harga minyak global bertahan di atas US$100 per barel akibat konflik yang didukung AS melawan Iran.

"Hanya Donald Trump dan Iran yang bisa menyelamatkan pasar, tetapi kedua pihak belum juga mendekati kesepakatan dan harga minyak mencerminkan hal itu. Dalam kondisi ini, prospek emas saat ini tidak terlihat terlalu cerah," ujar analis pasar City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, dikutip Sabtu (2/5/2026).

Kekhawatiran inflasi meningkat seiring harga minyak global yang bertahan di atas US$100 per barel akibat konflik yang didukung United States melawan Iran.

Dari sisi fundamental ekonomi, daya tarik emas masih dibatasi oleh prospek kebijakan suku bunga bank sentral yang ketat. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat menunjukkan lonjakan sebesar 0,7% pada bulan lalu, mencatat pertumbuhan tercepat sejak pertengahan 2022.

Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi di tengah ketidakpastian konflik di Iran, sehingga memaksa The Fed dan bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi atau bahkan melakukan pengetatan lebih lanjut jika situasi memburuk.

Meskipun emas berfungsi sebagai instrumen lindung nilai, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi minat investor karena meningkatkan biaya peluang dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil bunga.

Meskipun terdapat tekanan jual dalam jangka pendek akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, para analis tetap melihat potensi pemulihan jangka panjang bagi emas sebagai aset aman.

Proyeksi dari Citi menunjukkan target harga yang cukup stabil di angka US$4.300 dalam jangka pendek, dengan potensi mencapai US$5.000 dalam kurun waktu 6 hingga 12 bulan ke depan seiring kembalinya kepercayaan pasar terhadap aset safe-haven.

Secara keseluruhan, dinamika saat ini menunjukkan bahwa meskipun emas masih mencatatkan penurunan bulanan sekitar 0,84%, volatilitas harga tetap terjaga tinggi akibat tarik-menarik antara risiko inflasi global dan ketegangan geopolitik.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |