Tegang! Dunia Menunggu The Fed, Dolar Kolaps ke Titik Terendah 4 Tahun

4 hours ago 1
  • Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam. IHSG hingga rupiah menguat, namun obligasi justru mengalami aksi jual
  • Wall Street mayoritas menguat, S&P rekor
  • Keputusan Suku Bunga The Fed hingga arah kebijakan stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar akan menggerakan pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan kemarin, Selasa (27/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat, seiring penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), namun pasar obligasi justru mengalami aksi jual.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan kemarin, Selasa (27/1/2026), IHSG kembali berhasil menguat namun cukup tipis 0,05% ke level 8.980,23 atau naik 4,89 poin. IHSG berhasil balik arah setelah seharian bergerak di zona koreksi. Setelah sempat turun 1,13% pada sepuluh menit pertama perdagangan.

Sebanyak 441 saham turun, 232 naik, dan 130 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 15,11 triliun, melibatkan 33,24 miliar saham dalam 2,08 juta kali transaksi.

Adapun, investor asing tercatat melakukan aksi jual (net outflow) hingga Rp1,61 triliun.

Melansir data refinitiv, mayoritas sektor perdagangan hijau dengan kenaikan paling tinggi dicatatkan oleh energi dan teknologi, sedangkan yang mengalami depresiasi terparah adalah konsumer primer dan finansial

Dari sisi emiten, DSSA berhasil menjadi penggerak utama IHSG kemarin. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terapresiasi 4,88% dengan kontribusi hingga 19,11 indeks poin.

Diikuti oleh PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) yang tampil lebih impresif dengan kenaikan 8,33% dan menyumbang 9,87 indeks poin serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang masing-masing naik 2,34% dan 14,60%, menyumbang 9,47 dan 8,82 indeks poin bagi penguatan IHSG.

Di sisi lain, emiten blue chip justru mencatatkan aksi jual besar di perdagangan kemarin. Saham Astra International (ASII) turun 8,36% ke Rp 6.300 per saham dengan kontribusi pelemahan23,55 indeks poin.

Kemudian disusul oleh Bank Central Asia (BBCA) yang juga ramai dilego investor jelang pengumuman kinerja keuangan tahunan. Saham BBCA turun 1,96% ke Rp 7.500 per saham dan berkontribusi atas penurunan 14,21 poin.

Nyaris seluruh saham pertambangan dan perdagangan emas kemarin kompak terkoreksi setelah ramai-ramai menguat pada perdagangan sesi sebelumnya.

Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali melanjutkan tren penguatannya terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (27/1/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup menguat 0,06% ke level Rp16.760/US$. Capaian ini sekaligus memperpanjang tren penguatan rupiah menjadi lima hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat bergerak melemah hingga menyentuh level Rp16.180/US$ sebelum akhirnya kembali berbalik menguat hingga penutupan perdagangan.

Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin, terjadi di tengah pelaku pasar yang tengah mencermati penetapan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) pengganti Juda Agung.

Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai, terpilihnya Thomas dapat memberi sinyal penguatan positif.

"Komisi XI DPR menetapkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI pengganti Juda Agung. Latar belakang Thomas di Kemenkeu dan kedekatannya dengan Presiden memberi sinyal penguatan koordinasi fiskal-moneter,"ujar Rully.

Rully pun menambahkan, tetap penting bagi pemerintah dan BI untuk terus menegaskan komitmen menjaga independensi kebijakan moneter demi mempertahankan kepercayaan investor asing.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat lebih jauh dari level saat ini.

Menurutnya, salah satu faktor penopang datang dari tren pelemahan dolar AS di pasar global yang turut memengaruhi pergerakan mata uang lainnya.

"Kalau saya lihat sih dolar akan cenderung dilemahkan di pasar global, yen dikuatkan, itu biasanya berpengaruh. Kalau act concervative effort itu berpengaruh ke nilai tukar dolar, ke mata uang lain dalam jangka waktu cukup panjang, jadi kalau kita pintar-pintar dikit harusnya rupiah menguat lebih jauh dari level sekarang," tegasnya di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,49% ke level 6,364% pada perdagangan kemarin, dari 6,333% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang naik menandai harga SBN sedang turun karena dijual investor.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |