Sumatra Masuk Musim Kemarau, BMKG Ingatkan Ancaman Kebakaran di sini

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah wilayah di Sumatra mulai memasuki musim kemarau pada awal tahun ini. Kondisi tersebut memicu kemunculan titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski hingga kini skalanya masih terbatas dan belum membahayakan.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyebutkan wilayah yang mulai mengalami kekurangan hujan utamanya berada di Sumatra bagian utara.

"Iya, jadi saat ini daerah-daerah yang sudah mengalami kekurangan hujan atau bisa disebut musim kemarau ya, itu khususnya di daerah Sumatra bagian utara. Di Aceh, ada daerah tertentu," kata Handoko saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan, pada periode akhir Januari hingga Februari, wilayah tersebut memang kerap mengalami kemarau singkat atau kemarau kecil. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kemunculan hotspot (titik panas), namun biasanya tidak berlangsung lama.

"Memang mereka kan bulan akhir Januari sampai Februari itu mengalami kemarau, kemarau kecil. Sehingga terjadi peningkatan eskalasi hotspot. Namun demikian ini tidak lama," jelasnya.

BMKG mencatat hingga saat ini jumlah hotspot yang terpantau muncul di wilayah Sumatra bagian utara masih relatif rendah, dan bersifat fluktuatif dari hari ke hari.

"Macam-macam. Setiap hari bervariasi. Tidak lebih dari 10 hotspot di satu hari, dan segera hilang. Belum berbahaya," tukas dia.

Handoko menegaskan, meski terdapat peningkatan hotspot di beberapa titik, kondisinya masih terkendali dan belum memerlukan langkah penanganan khusus. BMKG masih terus melakukan pemantauan intensif, terutama memasuki Februari.

"Nanti kita lihat lagi, kita cek lagi di bulan Februari. Kalau memang ternyata ada eskalasi yang cukup signifikan, kita akan melakukan aksi. Sekarang belum tinggi. Beberapa hotspot sudah terjadi tapi masih terkendali," jelasnya.

Terkait potensi peningkatan karhutla pada Februari, BMKG menyebut wilayah Riau menjadi salah satu daerah yang secara historis perlu diwaspadai. Meski demikian, BMKG tidak ingin berspekulasi dan akan tetap melihat perkembangan aktual di lapangan.

"Kemungkinan di Februari biasanya di Riau. Tapi kan kita tidak bisa langsung mengatakan begitu. Nanti kita lihat apakah kebiasaan itu terjadi lagi," ucap Handoko.

BPBD menurunkan petugas pemadam kebakaran Posko Parapat untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara pada Senin (26/1). (Dok. BPBD Provinsi Sumatera Utara)Foto: BPBD menurunkan petugas pemadam kebakaran Posko Parapat untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara pada Senin (26/1). (Dok. BPBD Provinsi Sumatera Utara)
BPBD menurunkan petugas pemadam kebakaran Posko Parapat untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara pada Senin (26/1). (Dok. BPBD Provinsi Sumatera Utara)

Jika eskalasi hotspot benar-benar meningkat, BMKG memastikan akan melakukan langkah penanganan bersama pihak-pihak terkait, termasuk kemungkinan penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Mudah-mudahan tidak. Tapi kalau itu terjadi, kita akan melakukan aksi bersama-sama. Salah satunya. Salah satunya dengan OMC jika diperlukan," ujarnya.

Sementara itu, untuk wilayah Kalimantan, BMKG menyebut potensi Karhutla umumnya muncul lebih lambat dibandingkan Sumatra. Ancaman kebakaran di wilayah tersebut biasanya baru terlihat pada pertengahan tahun.

"Kalimantan biasanya akan belakangan. Nanti mulai bulan-bulan Juli biasanya baru akan muncul," ungkap dia.

Handoko menegaskan, untuk periode Januari hingga Februari, potensi karhutla lebih terkonsentrasi di wilayah Sumatra, sementara Kalimantan diperkirakan baru menghadapi risiko serupa pada pertengahan tahun.

Sejalan dengan itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat risiko karhutla dapat meningkat seiring kondisi cuaca kering.

"Tolong jangan bakar lahan secara sembarangan. Ada regulasinya, diikuti saja," pungkasnya.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |