Sosok Sultan Murah Hati yang Jadi 'Donatur' Indonesia di Awal Pemerintahan

5 hours ago 2
Jakarta -

Rasa nasionalisme yang tinggi membuat sultan asal Riau ini memberikan harta pribadinya untuk Indonesia. Padahal, saat itu, Indonesia cuma negara yang baru merdeka. Sosok dermawan tersebut ialah Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Dikutip dari situs Badan Bahasa Kemendikdasmen, UIN Suska Riau, dan Pemprov Riau, Selasa (17/3/2026), Sultan Syarif Kasim II lahir di Siak Sri Indrapura pada 1 Desember 1893. Dia merupakan sultan ke-12 dari Kesultanan Siak. Sultan Syarif Kasim II dinobatkan menjadi sultan pada 1915 dan mendapat gelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin.

Sultan Syarif Kasim II merupakan sosok antikolonial. Dia punya pandangan bahwa melawan penjajah Belanda tak cukup dengan senjata. Pada 1917, dia mendirikan sekolah agama Islam khusus laki-laki yang diberi nama Madrasah Taufiqiyah Al-Hasyimiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sultan Syarif Kasim II bersama permaisuri Tengku Agung Sultanah Latifah kemudian mendirikan sekolah untuk wanita pada tahun 1926 yang diberi nama Latifah School. Sultan juga membuat program pendidikan berbahasa Belanda yang disebut Hollandsch Inlandsche School dan menghadirkan pengajar dari luar daerah hingga luar negeri.

Selain itu, dia juga memberi beasiswa ke putra-putri Siak untuk sekolah ke Medan dan Batavia. Dia secara tegas menolak campur tangan Belanda dalam urusan Kesultanan Siak, menolak kerja paksa hingga membuat pasukan militer melawan penjajah.

Mahkota Sultan Syarif Kasim II. (Dok Dispar Riau)Mahkota Sultan Syarif Kasim II. (Dok Dispar Riau)

Sultan Syarif Kasim II juga mendukung Indonesia menjadi negara yang merdeka. Tak lama setelah Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Sulta Syarif Kasim II menyatakan Kesultanan Siak merupakan bagian dari wilayah Indonesia.

Dia juga menyumbangkan sebagian besar hartanya yang berjumlah 13 juta gulden atau setara Rp 1,07 triliun pada 28 November 1945. Sumbangan itu diberikannya melalui Presiden Sukarno untuk modal awal menjalankan pemerintahan Indonesia.

Pada Oktober 1949, Sultan Syarif Kasim II kembali menemui Sukarno di Yogyakarta dan menyerahkan 30 persen kekayaannya berupa emas. Hal itu ditujukan untuk mendukung pemerintahan Indonesia yang baru merdeka.

Surat Pernyataan Penyerahan Harta Sultan Siak pada Pemerintahan RI (dok. Situs Dipersip Riau)Surat Pernyataan Penyerahan Harta Sultan Siak pada Pemerintahan RI (dok. Situs Dipersip Riau)

Dia juga menyumbangkan mahkota yang terbuka dari emas bertahtakan berlian kepada pemerintah Indonesia. Kini, mahkota berhias berlian dan permata rubi itu ada di Museum Nasional Jakarta.

"Sultan Siak berdjandji akan menghadiahkan sebahagian dari harta benda tersebut kepada pemerintah Republik Indonesia sebagai sumbangan beliau untuk membantu perdjuangan Republik Indonesia," demikian penggalan isi surat 'Permata Sultan Siak' yang dibuat pada Februari 1950.

Sultan Syarif Kasim II wafat pada 1968 di Riau. Dia telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1998. Pemerintah juga mengabadikan namanya lewat Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Riau.

(haf/imk)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |