Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat satu tahun sejak Donald Trump kembali menginjakkan kaki di Gedung Putih pada Januari 2025, dunia seakan dipaksa masuk ke dalam mesin waktu yang bergerak dengan kecepatan penuh.
Dari perang tarif yang melumpuhkan ekonomi global hingga operasi militer "koboi" di Amerika Selatan, Trump membuktikan bahwa jargon "America First" bukan sekadar retorika kampanye, melainkan doktrin agresif yang mengubah peta geopolitik secara radikal.
Berikut adalah deretan enam pilar kebijakan kontroversial yang mendefinisikan tahun pertama masa jabatan kedua Donald Trump.
1. Imigrasi: Minneapolis Berdarah dan Krisis ICE
Kebijakan imigrasi Trump pada 2025-2026 ditandai dengan eskalasi kekerasan yang mencapai puncaknya di Minneapolis. Pada Januari 2026, ketegangan meledak setelah seorang agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) menembak mati seorang warga negara AS bernama Renee Good di dalam mobilnya saat operasi deportasi massal.
Kematian wanita berusia 37 tahun ini memicu gelombang protes "ICE Out For Good" di lebih dari 1.000 titik di seluruh penjuru negeri, di mana puluhan ribu orang turun ke jalan meski cuaca dingin ekstrem melanda.
Operasi yang disebut Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) sebagai Operation Metro Surge ini telah mengerahkan lebih dari 2.000 petugas ke Minnesota, menjadikannya operasi penegakan hukum imigrasi terbesar dalam sejarah AS. Namun, tindakan aparat yang seringkali memecahkan kaca mobil dan menarik orang secara paksa telah memicu perlawanan balik dari pemerintah lokal.
Negara bagian Minnesota bersama kota Minneapolis dan St. Paul resmi menggugat pemerintah federal, menuding bahwa operasi tersebut bersifat sewenang-wenang dan melanggar Konstitusi.
Di tengah kekacauan ini, Trump justru memperkeras retorikanya dengan mengecam para pemimpin lokal dan bahkan mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menyebut kelompok imigran tertentu sebagai "sampah" yang harus dibuang.
"Kita tidak akan membiarkan negara kita diserbu oleh kriminal. Penegak hukum kita sedang melakukan pekerjaan hebat, dan jika para agitator kiri ini mencoba menghentikan kita, militer siap bertindak. Ini adalah pembersihan nasional," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Minneapolis Jacob Frey membalas dengan tajam, "Apa yang kita lihat di Minneapolis bukanlah penegakan hukum, melainkan terorisme negara terhadap warga negaranya sendiri. Trump mengubah kota kita menjadi medan perang."
2. Perang Tarif: Senjata Pemeras Ekonomi Global
Jika pada periode pertama Trump fokus pada China, kali ini ia menembakkan "peluru" tarif ke segala arah dengan skala yang lebih masif. Sejak awal 2025, Trump memberlakukan tarif universal sebesar 10% atas seluruh impor dari semua negara, ditambah tarif khusus 60% bagi barang-barang asal China.
Kebijakan ini segera merembet menjadi tarif resiprokal yang menyasar negara-negara dengan surplus perdagangan besar terhadap AS, termasuk Indonesia yang sempat diganjal tarif hingga 32% untuk produk elektronik dan alas kaki.
Dampaknya terasa nyata di pasar keuangan Asia, di mana bursa-bursa utama mengalami volatilitas tinggi. Meski IHSG di Jakarta sempat menunjukkan resiliensi dengan menembus level 9.000 pada Januari 2026, ketidakpastian jangka panjang tetap menghantui pelaku industri halal dan UMKM yang sangat bergantung pada pasar ekspor AS.
Trump kini bahkan menggunakan tarif sebagai alat tawar-menawar politik luar negeri, mengancam akan mengenakan pajak impor 25% bagi negara-negara Eropa yang menolak mendukung ambisi teritorialnya.
"Negara-negara lain telah merampok kita selama puluhan tahun. Sekarang, mereka harus membayar untuk hak berbisnis dengan Amerika yang hebat. Tarif adalah kata terindah dalam kamus," ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Komisi Eropa merespons dengan kecaman keras, menyatakan bahwa, "Dunia tidak bisa berfungsi dalam sistem pemerasan ekonomi. Trump sedang menghancurkan fondasi perdagangan bebas yang telah kita bangun selama 80 tahun."
3. Penangkapan Maduro: Operasi Kilat di Caracas
Peristiwa paling mengguncang di awal 2026 adalah penangkapan dramatis Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan elit Amerika Serikat. Kronologinya bermula pada Sabtu, 3 Januari 2026, ketika militer AS melancarkan serangan udara dan darat yang berani di Caracas. Terekam asap mengepul dari pangkalan militer Venezuela saat pasukan khusus AS meringkus Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, di bawah larangan terbang yang dikeluarkan secara mendadak oleh FAA.
Maduro kemudian dibawa menggunakan kapal menuju wilayah AS dan kini menghadapi dakwaan "narco-terorisme" di pengadilan federal. Operasi ini bukan sekadar penegakan hukum, melainkan manuver geopolitik besar di mana Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk "mengelola" cadangan minyak raksasa Venezuela guna menjamin keamanan energi Amerika. Langkah ini memicu protes keras dari sekutu Venezuela seperti Rusia dan China yang menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang kasar.
"Maduro sekarang berada di bawah pengawasan kita. Minyak Venezuela akan mengalir kembali untuk kemakmuran Amerika, bukan untuk kantong diktator," tegas Trump.
amun, pihak oposisi dan Kementerian Luar Negeri Venezuela memberikan peringatan keras, "Ini adalah penculikan vulgar. Amerika Serikat telah menunjukkan wajah aslinya sebagai kekaisaran yang haus darah dan minyak."
4. Ambisi Greenland: Real Estate Arktik
Obsesi Trump terhadap Greenland berkembang dari sekadar wacana menjadi krisis diplomatik serius pada 2026. Trump memandang pulau terbesar di dunia tersebut sebagai aset "real estate" strategis yang kaya akan sumber daya mineral seperti litium dan kobalt, serta kunci untuk membendung dominasi Rusia dan China di wilayah Arktik.
Setelah Denmark dan pemerintah otonom Greenland berulang kali menolak tawaran pembelian, Trump mulai menggunakan taktik intimidasi.
Pada pertengahan Januari 2026, Trump secara resmi mengumumkan rencana pengenaan tarif 25% bagi Denmark dan sekutu NATO lainnya yang menghalangi pengambilalihan Greenland. Trump bahkan menyindir kemampuan pertahanan Denmark di wilayah tersebut dengan menyebutnya seperti "kereta anjing" yang tidak mampu menghadapi ancaman modern. Kehadiran militer NATO di Greenland kini meningkat sebagai respons atas sinyal intervensi dari Washington.
"Denmark adalah teman, tapi mereka tidak butuh Greenland. Kita butuh itu untuk keamanan nasional. Kita akan mendapatkannya, satu atau lain cara," kata Trump.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, tetap pada pendiriannya dan membalas, "Greenland tidak untuk dijual. Greenland bukan milik Denmark, Greenland milik rakyatnya sendiri. Wacana ini sangat tidak masuk akal."
5. Eksodus dari PBB: Kronologi Runtuhnya Multilateralisme
Tahun pertama masa jabatan kedua Trump diwarnai dengan penarikan diri secara masif dari panggung internasional. Langkah ini bermula pada Februari 2025, sesaat setelah pelantikan, ketika Trump menandatangani perintah eksekutif untuk meninjau seluruh pendanaan organisasi internasional yang dinilai merugikan kepentingan domestik.
Memasuki Juli 2025, AS secara resmi menghentikan aliran dana ke badan-badan iklim (IPCC) dan migrasi (IOM), yang menyebabkan krisis biaya operasional yang parah di markas PBB.
Puncaknya terjadi pada 7 hingga 8 Januari 2026, di mana Trump secara resmi menarik keanggotaan Amerika Serikat dari total 66 organisasi internasional, termasuk 31 lembaga di bawah naungan PBB seperti UNCTAD, UNESCO, dan berbagai komisi ekonomi regional.
Trump bahkan menjadwalkan penarikan efektif dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Perjanjian Iklim Paris pada akhir bulan ini, seraya memerintahkan penghapusan ribuan posisi jabatan diplomatik sebagai upaya efisiensi anggaran.
"Kita tidak akan lagi mengirim darah, keringat, dan harta benda rakyat Amerika ke lembaga-lembaga globalis yang tidak berguna ini," pungkas Trump.
Sekjen PBB, António Guterres, memperingatkan dampak destruktif dari kebijakan ini, dengan mengatakan, "Dunia membutuhkan kerja sama, bukan isolasi. Mundurnya AS dari lembaga-lembaga ini hanya akan meninggalkan kekosongan yang berbahaya bagi perdamaian dunia."
6. Manuver Iran: "Bantuan Sedang dalam Perjalanan"
Di Timur Tengah, Trump memilih jalur konfrontatif dengan mendukung penuh gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang mengguncang Iran pada Januari 2026. Di tengah laporan jatuhnya ribuan korban jiwa akibat represi aparat Teheran, Trump melancarkan manuver provokatif melalui Truth Social dengan menjanjikan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan" (Help is On The Way/OTW) bagi para demonstran.
Spekulasi mengenai intervensi militer menguat setelah AS dilaporkan mengerahkan jet tempur F-35 ke wilayah Qatar dan mulai membahas opsi serangan udara terhadap fasilitas strategis Iran. Trump juga memperketat tekanan ekonomi dengan memberlakukan tarif 25% bagi negara manapun yang tetap menjalin hubungan bisnis dengan rezim Teheran. Langkah ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam status siaga satu menghadapi kemungkinan perang terbuka.
"Para patriot Iran, TERUSLAH BERPROTES - KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN! Catat nama-nama para pembunuh itu. Bantuan sedang dalam perjalanan," paparnya.
Pemimpin Tertinggi Iran menanggapi dengan keras, menyebut Trump sebagai sosok yang berbahaya, "Trump adalah badut yang haus darah. Campur tangan AS hanya akan memperkuat tekad kami untuk menghancurkan musuh-musuh revolusi."
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]


















































