Sentimen Pasar RI Pekan Depan, Siap-Siap Pengaruh AS dan China

14 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar keuangan wajib memasang mode waspada penuh pada pekan depan (1-5 Desember). Setelah melewati volatilitas akhir bulan yang mixed, pasar global dan domestik kini memasuki fase pembuktian fundamental yang sesungguhnya.

Pekan ini bukan sekadar rilis angka, melainkan ujian bagi narasi besar ekonomi dunia: Apakah Indonesia mampu mempertahankan benteng eksternalnya? Apakah Amerika Serikat (AS) sukses mendarat mulus (soft landing)? Dan apakah China benar-benar sudah pulih?

Investor akan disuguhi menu data ekonomi yang sangat padat. Volatilitas tinggi diprediksi akan mewarnai perdagangan, terutama menjelang rilis data AS dan China yang beriringan dengan data krusial dari dalam negeri.

Menguji Ketahanan Eksternal & Daya Beli

Secara makro, ekonomi Indonesia saat ini sedang bermanuver di tengah ketidakpastian global dengan mengandalkan dua mesin utama yaitu ekspor komoditas dan konsumsi rumah tangga. Sorotan utama pekan depan tertuju pada rilis Neraca Perdagangan (Balance of Trade).

Meskipun Indonesia telah mencatatkan rekor surplus beruntun yang panjang, tren penyusutan surplus mulai terlihat seiring normalisasi harga komoditas global.

Jika surplus ini tergerus terlalu dalam, bantalan stabilitas Rupiah akan menipis. Namun, optimisme tetap terjaga berkat posisi Cadangan Devisa yang masih solid di kisaran US$ 149,9 Miliar, memberikan amunisi yang cukup bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi pasar jika diperlukan.

Pasar memproyeksikan surplus neraca perdagangan Oktober akan menyusut menjadi US$ 3,8 Miliar dari bulan sebelumnya US$ 4,34 Miliar. Mengapa ini penting? Di tengah suku bunga global yang masih tinggi (higher for longer), surplus dagang adalah sumber utama pasokan Dolar AS di dalam negeri.

Di sisi lain, investor saham juga menanti data Inflasi (CPI) dan Manufaktur PMI. Jika inflasi tetap terkendali dalam rentang target BI dan aktivitas pabrik mampu bertahan di zona ekspansi, ini akan menjadi sinyal kuat bahwa permintaan domestik masih tangguh, menjadi katalis positif bagi saham sektor perbankan dan ritel.

Pantauan Data Domestik:

  • Neraca Perdagangan: Surplus US$ 4,34 Miliar (Prev) - Proyeksi US$ 3,8 Miliar.

  • Cadangan Devisa: Terakhir di US$ 149,9 Miliar.

  • Inflasi (CPI YoY): Terakhir di 2,86% - Proyeksi 2,8%

  • S&P Global Manufacturing PMI: Menanti rilis terbaru (Prev: 51,2).

Mencari Keseimbangan Moneter

Ekonomi Amerika Serikat saat ini berada dalam fase anomali yang unik. The Fed sedang berusaha keras menekan inflasi tanpa membunuh pertumbuhan ekonomi.

Pekan depan, data perilaku konsumen akan menjadi hakim utamanya. Pasar mengharapkan skenario Goldilocks (tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin) yaitu pendapatan masyarakat stabil, namun hasrat belanja mulai direm.

Hal ini tercermin dari proyeksi Personal Income yang diperkirakan stabil di 0,4%, sementara Personal Spending diprediksi melambat dari 0,6% menjadi 0,4%.

Jika belanja konsumen melambat, tekanan permintaan barang berkurang, yang pada akhirnya akan membantu menurunkan inflasi lebih lanjut. Ini sejalan dengan data Core PCE Price Index (acuan inflasi favorit The Fed) yang terakhir stabil rendah di 0,2% secara bulanan.

Jika data ini rilis sesuai ekspektasi, narasi pemangkasan suku bunga The Fed akan semakin kuat, yang bisa memicu pelemahan Dolar AS (DXY) dan menguntungkan pasar Emerging Market seperti Indonesia.

Namun, risiko resesi belum hilang sepenuhnya. Terlihat adanya divergensi tajam antara sektor jasa dan manufaktur.

ISM Manufacturing PMI AS masih terpuruk di zona kontraksi (48,7), menandakan sektor pabrik di AS sedang "sakit" akibat bunga tinggi.

Sebaliknya, sektor jasa (ISM Services) masih kuat berekspansi (52,4). Ketimpangan ini membuat prospek ekonomi AS ke depan masih penuh tanda tanya.

Pantauan Data AS:

  • Core PCE Price Index (MoM): Stabil di 0,2%.

  • Personal Income: 0,4% (Prev) - Proyeksi 0,4%.

  • Personal Spending: 0,6% (Prev) - Proyeksi 0,4%.

  • ISM Manufacturing PMI: Masih Kontraksi di 48,7.

  • ISM Non-Manufacturing (Services): Ekspansi di 52,4.

indikator amerikaFoto: Indikator Data di Amerika

Harapan Pemulihan dari Kancah Asia

Kondisi makroekonomi di Asia Timur memberikan sinyal yang beragam (mixed) namun cenderung konstruktif bagi Indonesia. China, yang sedang berjuang melawan risiko deflasi dan krisis properti, mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi berkat rentetan stimulus pemerintah.

Data Manufacturing PMI China yang bertahan di level ekspansi (terakhir 50,6 dan proyeksi 50,4) adalah kabar baik bagi emiten komoditas Indonesia.

Selama pabrik-pabrik di China masih beraksi (di atas level 50), permintaan terhadap batu bara, nikel, dan besi dari Indonesia akan tetap terjaga.

Sementara itu, Jepang masih bergulat dengan sentimen konsumen yang lemah. Meskipun ada proyeksi kenaikan tipis pada Consumer Confidence menjadi 36,1, angka ini masih jauh di bawah level optimis (50).

Ini menunjukkan bahwa rumah tangga di Jepang masih sangat hati-hati dalam membelanjakan uangnya di tengah inflasi domestik yang mulai naik dan pelemahan Yen.

Dampaknya bagi Indonesia mungkin tidak langsung, namun lemahnya konsumsi Jepang bisa menahan laju pemulihan ekonomi Asia secara keseluruhan.

Pantauan Data Regional:

  • China Manufacturing PMI: 50,6 (Prev) - Proyeksi 50,4.

  • Japan Consumer Confidence: 35,8 (Prev) - Proyeksi 36,1.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |