Jakarta, CNBC Indonesia - Kontroversi mengguncang pemerintahan daerah Korea Selatan. Walikota Jindo, Provinsi Jeolla Selatan, Kim Hee-soo, menuai kecaman luas akibat pernyataannya yang menyarankan "mengimpor perempuan muda asing" untuk mengatasi penurunan populasi dan rendahnya angka kelahiran.
Pernyataan itu disampaikan Kim dalam pertemuan balai kota pekan lalu dan disiarkan langsung oleh media lokal. Ia menyebut desa-desa terpencil dapat mengatasi krisis demografi dengan mendatangkan perempuan muda dari Asia Tenggara, seperti Vietnam atau Sri Lanka, untuk dinikahkan dengan pria lajang di pedesaan.
"Kita harus mengimpor perempuan muda dari Vietnam atau Sri Lanka agar para pemuda di daerah pedesaan dapat menikahi mereka," kata Kim dalam pertemuan tersebut, seperti dikutip media lokal.
Ucapan tersebut langsung memicu kritik tajam di dalam negeri dan kecaman internasional. Pernyataan Kim dinilai merendahkan martabat perempuan serta mengobjektifikasi warga negara asing.
Polemik itu bahkan berbuntut pada protes diplomatik, setelah Kedutaan Besar Vietnam di Seoul mengirimkan surat resmi kepada Pemerintah Provinsi Jeolla Selatan dan Pemerintah Kota Jindo.
Menanggapi kontroversi tersebut, Pemerintah Provinsi Jeolla Selatan menyampaikan permintaan maaf resmi kepada rakyat dan perempuan Vietnam.
"Kami dengan tulus menundukkan kepala untuk meminta maaf kepada rakyat dan perempuan Vietnam," ujar juru bicara Provinsi Jeolla Selatan dalam pernyataan resmi, dikutip Kamis (12/2/2026).
Ia menegaskan bahwa penggunaan istilah "impor" telah "melanggar martabat manusia, merendahkan perempuan, dan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun."
Sebagai tindak lanjut, pemerintah provinsi menjatuhkan sanksi administratif kepada Kim Hee-soo serta menyatakan akan memperketat pengawasan internal terhadap pejabat publik. Provinsi Jeolla Selatan juga berjanji memperkuat pendidikan hak asasi manusia, kesadaran gender, dan pemahaman multikultural di lingkungan pemerintahan dan masyarakat.
Kim Hee-soo sendiri telah menyampaikan permintaan maaf, mengakui bahwa ia menggunakan bahasa yang tidak pantas. Ia berdalih bahwa pernyataannya dimaksudkan untuk membahas kebijakan terkait migrasi pernikahan dan masuknya tenaga kerja asing di tengah kekurangan tenaga kerja di wilayah pedesaan dan perikanan.
"Di tengah kekurangan tenaga kerja yang parah, tujuan saya adalah membahas langkah-langkah kelembagaan untuk mendukung migrasi pernikahan, namun saya menggunakan kata yang tidak pantas," ujar Kim dalam pernyataan tertulis.
Korea Selatan saat ini menghadapi krisis demografi serius dan mencatat salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia. Pemerintah pusat telah menggelontorkan miliaran dolar AS untuk mendorong angka kelahiran dan menahan laju penyusutan populasi.
Sejumlah proyeksi memperkirakan populasi negara itu dapat menyusut hampir setengahnya menjadi sekitar 26,8 juta jiwa pada akhir abad ini jika tren tersebut terus berlanjut.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]

















































