Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (13/3/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global.
Mengacu pada data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,30% ke level Rp16.935/US$. Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan, saat mata uang Garuda dibuka melemah 0,18% ke posisi Rp16.915/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp16.885/US$ hingga Rp16.940/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih menguat 0,27% ke posisi 100,143.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global, seiring ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, terutama terkait konflik di Timur Tengah.
Di pasar global, dolar AS masih bertahan kuat dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan untuk kedua kalinya sejak perang Iran memanas. Gejolak pasar membuat dolar AS kembali menjadi aset aman utama yang diburu investor.
Lonjakan harga minyak juga turut memperkuat sentimen hati-hati di pasar. Di saat yang sama, AS mengizinkan penjualan sebagian produk minyak Rusia yang sebelumnya dikenai sanksi terkait perang di Ukraina.
Sementara itu, Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah, di tengah pernyataan pemimpin tertingginya yang menegaskan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz.
Kondisi yang masih penuh ketidakpastian ini membuat dolar AS tetap diminati pelaku pasar. Akibatnya, ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.
(gls/gls)
Addsource on Google

















































