Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa kelak Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbahan bakar minyak akan digantikan dengan pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan (EBT), salah satunya ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa rencana penggantian PLTD ke PLTS di Indonesia merupakan kelanjutan program dedieselisasi yang sejak lama sudah digaungkan oleh pemerintah. Rencana itu juga merupakan bagian dari program PLTS 100 Giga Watt (GW) di seluruh Indonesia.
"Jadi kan daerah-daerah yang masih dialiri listrik dengan menggunakan diesel itu akan kita konversi jadi PLTS," ungkap Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Program tersebut akan didahulukan untuk wilayah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T). Yuliot mengungkapkan, wilayah tersebut masih menggunakan PLTD sebagai sumber listrik. Ditambah, wilayah 3T juga belum tersambung dengan infrastruktur kelistrikan lainnya.
Beberapa lokasi yang disebut seperti Simeulue, Nias, Mentawai, hingga Enggano, akan diprioritaskan untuk PLTD-nya digantikan ke pembangkit EBT. Yang pasti, Kementerian ESDM sudah mengkaji wilayah-wilayah di Timur Indonesia untuk eksekusi rencana program tersebut.
"Ini ada beberapa lokasi yang sudah didetifikasi di Dijen Gatrik dan juga di Dijen EBTKE. Yang mudah-mudahan itu yang kita prioritaskan di kawasan Timur Indonesia," imbuhnya.
Detailnya, terdapat 30 lokasi yang diprioritaskan oleh pemerintah untuk dihapuskan pembangkit basis fosilnya menjadi ke pembangkit basis EBT.
"Angka ini sudah lebih dari 30 lokasi yang kita prioritaskan," tandasnya.
Asal tahu saja, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk "menyuntik mati" Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan beralih menggunakan sumber energi dari dalam negeri seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Hal ini perlu dilakukan untuk mengoptimalkan sumber energi di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar, terutama di tengah kondisi geopolitik yang penuh dengan ketidakpastian.
"Karena dalam kondisi geopolitik perang ini tidak bisa kita memastikan bahwa energi kita ini akan seperti apa dalam konteks jangka panjang," ungkap Bahlil saat ditemui usai Rapat Terbatas (Ratas) dengan Presiden Prabowo Subianto, terkait kerja Satgas EBTKE di Istana Negara, Kamis (12/3/2026).
"Karena itu, kita mengoptimalkan seluruh potensi kita yang ada dalam negeri, energi-energi yang bisa kita konversi dari fosil untuk kita bisa lakukan seperti ini," ujarnya.
Dalam RUPTL 2025-2034, tercatat rencana total penambahan kapasitas pembangkit listrik baru sebesar 69,5 GW sampai 2034, terdiri dari sebesar 42,6 GW atau 61% akan berasal dari pembangkit listrik berbasis EBT, dan 10,3 GW atau 15% dari sistem penyimpanan (storage).
Adapun, dari seluruh jenis pembangkit EBT, sumber energi surya (PLTS) memiliki porsi yang cukup besar yakni 17,1 GW. Kemudian, disusul oleh pembangkit air (PLTA) sebesar 11,7 GW, angin (PLTB) sebesar 7,2 GW, panas bumi (PLTP) sebesar 5,2 GW, bioenergi sebesar 0,9 GW, dan nuklir (PLTN) sebesar 0,5 GW.
Sementara itu, untuk kapasitas sistem penyimpanan energi mencakup PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan baterai 6,0 GW. Kemudian, untuk pembangkit fosil masih akan dibangun sebesar 16,6 GW, terdiri dari gas 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

















































