RMKE Ditopang Akumulasi Jumbo! Ada Investor Besar Masuk Agresif

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) mencatat kenaikan yang sangat signifikan sejak awal 2026. Berdasarkan data perdagangan, harga RMKE telah menguat sekitar 19,83% secara year-to-date (YTD) hingga perdagangan kemarin Senin (26/1/2026) di level Rp7.100 per lembar saham. RMKE sempat menyentuh level Rp9.500 yang menjadikan level tertinggi sepanjang masa.

Di balik lonjakan harga tersebut, terlihat aktivitas akumulasi yang cukup agresif dari sejumlah broker di pasar reguler. Henan Putihrai Sekuritas (HP) tercatat sebagai salah satu pelaku terbesar dengan nilai net buy sekitar Rp59,8 miliar. Selain HP, beberapa broker lainnya secara kolektif membukukan net buy sekitar Rp104 miliar, yang turut memperkuat momentum kenaikan RMKE sejak awal tahun.

Henan Putihrai juga terpantau konsisten menambah kepemilikan pada periode 1-15 Januari 2026. Dalam rentang tersebut, broker berkode HP mengoleksi sekitar 91.716 lot saham RMKE dengan harga rata-rata Rp6.506 per saham.

Secara YTD, Henan Putihrai merupakan broker yang paling agresif melakukan akumulasi bersih pada sejumlah emiten yang kerap dikaitkan dengan konglomerat Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro. Beberapa di antaranya yaitu PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan net buy Rp236 miliar, PT RMK Energy Tbk (RMKE) Rp59 miliar, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) Rp47 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp25 miliar.

Aksi akumulasi yang dilakukan Henan Putihrai dinilai mencerminkan meningkatnya minat investor institusi terhadap emiten-emiten di sektor energi, pertambangan, dan infrastruktur yang berada dalam ekosistem bisnis kedua konglomerat tersebut.

Apabila tren ini berlanjut, Henan Putihrai berpeluang terus menambah porsi kepemilikannya pada saham-saham strategis tersebut. Aktivitas tersebut dapat mengindikasikan adanya keyakinan investor terhadap prospek jangka menengah hingga panjang RMKE dan emiten energi lainnya, seiring ekspektasi peningkatan volume logistik batubara serta optimisme atas target produksi 2026.

CNBC Indonesia Research

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |