Rindu yang Terbayar: Perjuangan Mudik Guru Sekolah Rakyat Kepulauan Anambas

6 hours ago 11

Jakarta -

Mudik telah menjadi tradisi tahunan bagi masyarakat Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri. Tradisi itu dijalankan banyak orang agar bisa merayakan momen spesial tersebut bersama keluarga di kampung halaman.

Kerinduan semacam ini pula yang dialami guru Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 12 Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, Pandu Dewa Putra. Pria berusia 26 tahun asal Batam itu Nampak antusias untuk mudik agar dapat merayakan momen Lebaran bersama keluarga.

Maklum saja sejak pertama kali bertugas di Kepulauan Anambas, dia belum pernah pulang kampung sama sekali. Dewa mengatakan ada perbedaan yang dirasakan dalam perjalanan kali ini dibandingkan dengan mudik pada tahun-tahun sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perbandingannya sangat kontras. Ini jadi mudik saya yang pertama saat sudah bekerja," kata Dewa dalam keterangan tertulis, Jumat (20/3/2026).

Dewa mengungkapkan menjadi guru bimbingan konseling di SRT 12 Kepulauan Anambas merupakan pekerjaan pertamanya sejak lulus kuliah. Sebelum bergabung di Sekolah Rakyat, dia sempat melamar pekerjaan sebagai guru di beberapa sekolah swasta di Batam dan membuka les privat di rumahnya.

Les privat yang diberikan Dewa menyasar anak-anak jenjang SD dan SMA yang ada di sekitar rumahnya.

"Mengajar yang paling dasar, kayak membaca, menghitung," ujarnya.

Setelah mendengar adanya lowongan pendaftaran sebagai guru di Sekolah Rakyat, dia pun mencoba peruntungannya. Usahanya membuahkan hasil. Dia lolos menjadi guru bimbingan konseling dengan penempatan di SRT 12 Kepulauan Anambas.

Dewa menjelaskan alasannya ikut mendaftar sebagai guru di Sekolah Rakyat karena program pendidikan gratis ini bertujuan membantu anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Dia memberikan kontribusinya dalam proses tersebut.

Pria lulusan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta itu pun mengaku, mudik tahun ini terasa berbeda karena dirinya lebih bersemangat untuk pulang kampung. Dewa bercerita, letak geografis Kepulauan Anambas yang sebagian besar dikelilingi oleh lautan, membuatnya sempat kesulitan mendapatkan tiket pulang ke Batam.

Awalnya, dia mencoba membeli tiket kapal Pelni, tetapi tidak ada waktu keberangkatan yang dirasa cocok. Dia kemudian berupaya mencari tiket kapal feri cepat dengan rute Kepulauan Anambas ke Batam. Namun, tiket kapal feri cepat pun habis dalam waktu sekejap.

Hal yang sama juga terjadi dengan tiket pesawat. Meski demikian, harapannya untuk mudik dan merayakan Lebaran bersama keluarga di Batam pun bisa terwujud.

"Akhirnya berdoa saja lah sama yang di atas, semoga ada (kapal) Feri tambahan. Nah, ternyata ada," ungkap Dewa.

Dewa mengatakan harus menempuh perjalanan selama hampir 12 jam untuk menuju kampung halamannya. Perjalanan dimulai dengan menggunakan speedboat dari Kepulauan Anambas ke ibu kota kepulauan, Tarempa di Pulau Siantan dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Kemudian dilanjutkan menggunakan kapal feri menuju Batam selama 10 jam.

"Dari pelabuhan ke rumah lanjut perjalanan darat sekitar 50 menit," jelasnya.

Perbedaan lainnya yang dirasakan Dewa pada mudik tahun ini adalah dia pulang ke rumah dengan membawa banyak cerita mengenai Sekolah Rakyat. Terutama soal harapan anak-anak didiknya yang sedang dibangun dengan kerja keras.

"Saya sangat senang ketika siswa saya yang dari keluarga kurang mampu akhirnya bisa sekolah lagi, semangat mereka mengejar cita-cita begitu besar," katanya.

Dewa pun berharap suatu saat Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dapat mengunjungi SRT 12 Kepulauan Anambas.

"Saya berharap Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Menteri Sosial Saifullah Yusuf, bisa datang ke SR Anambas untuk mengecek kondisi kami yang ada di utara Indonesia ini," tutupnya.

Tonton juga video "Pelabuhan Tanjung Priok Masih Ramai Dipadati Pemudik"

(akd/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |