Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia, China, dan Iran akan melaksanakan latihan angkatan laut bersama sebagai bagian dari peningkatan kerja sama militer yang bertujuan untuk membentuk kembali keseimbangan kekuatan global di laut. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh ajudan kepresidenan Rusia, Nikolay Patrushev, yang menyatakan bahwa langkah ini merupakan respons terhadap dinamika keamanan maritim saat ini.
Kapal-kapal perang dari ketiga negara tersebut telah diberangkatkan untuk melakukan manuver di perairan lepas pantai Iran. Dalam keterangannya kepada media Rusia, Argumenty i Fakty, pada Selasa (17/2/2026) waktu setempat, Patrushev menjelaskan bahwa pengerahan ini dilakukan dalam melawan tekanan kekuatan Barat.
"Latihan ini adalah bagian dari upaya bersama untuk membangun tatanan dunia multipolar di lautan guna menanggapi apa yang ia sebut sebagai hegemoni Barat yang telah berlangsung lama," tuturnya.
Latihan perang yang dikenal dengan nama Maritime Security Belt ini dijadwalkan berlangsung bulan ini di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara dengan melibatkan kapal serta pesawat dari ketiga negara. Sejatinya ini merupakan inisiatif Iran yang telah dilakukan secara trilateral sejak 2019, meski sempat absen diikuti China pada tahun 2021.
Patrushev mengatakan bahwa wilayah laut sekali lagi menjadi platform bagi agresi militer dan kebangkitan diplomasi kapal perang, merujuk pada ketegangan baru-baru ini di sekitar Venezuela dan Iran.
"Barat mendominasi lautan untuk waktu yang lama, hingga awal abad ini, tetapi sekarang hegemoni mereka dalam banyak hal telah menjadi masa lalu," tegasnya.
Secara terpisah, media Iran melaporkan dengan mengutip Komandan Angkatan Laut Hassan Maghsoodloo bahwa Rusia dan Republik Islam Iran akan mengadakan latihan angkatan laut gabungan pada pekan ini. Manuver terbaru ini dilakukan menyusul putaran kedua pembicaraan tidak langsung AS-Iran yang dimediasi oleh Oman di Jenewa pada hari Selasa terkait program nuklir Teheran.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015 selama masa jabatan pertamanya dan memberlakukan kembali sanksi menyeluruh terhadap Iran. Saat ini, Amerika Serikat terus berupaya menekan Teheran agar menerima kesepakatan nuklir yang baru.
Iran bersikeras bahwa aktivitas nuklirnya bersifat damai dan telah berulang kali menyatakan tidak akan menerima tuntutan Washington untuk pengayaan uranium nol persen. Ketegangan tetap tinggi sejak Israel dan AS melakukan serangan udara terkoordinasi terhadap fasilitas nuklir Iran Juni lalu, sebuah operasi yang dikutuk Teheran sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak beralasan.
Washington sejak saat itu memperkuat postur militernya di kawasan tersebut dengan mengerahkan aset angkatan laut dan udara tambahan, termasuk kapal induk kedua. Sebagai tanggapan, Korps Garda Revolusi Islam Iran pada hari Selasa menggelar latihan di Selat Hormuz, titik masuk krusial bagi pengiriman minyak global, dan memperingatkan bahwa mereka bisa menutup jalur air tersebut jika terjadi serangan.
Sekitar 100 kapal dagang diperkirakan transit di selat tersebut setiap harinya, sehingga gangguan apa pun berpotensi berdampak signifikan bagi pasar energi global.
(tps/luc)
Addsource on Google


















































