Rencana Gila Ilmuwan Supaya Bumi Terhindar dari Kiamat

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama puluhan tahun, para astronom memperdebatkan apakah nasib Bumi akan berakhir bersama Matahari. Ketika Matahari kehabisan hidrogen sekitar 5 miliar tahun lagi, bintang tersebut diperkirakan akan mengembang menjadi raksasa merah yang cukup besar untuk menelan Merkurius, Venus, dan kemungkinan Bumi.

Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics pada Juni menunjukkan bahwa peluang Bumi untuk lolos dari akhir yang mengerikan itu ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Peneliti menggunakan model terbaru tentang interaksi bintang yang menua dengan planet-planet di sekitarnya. Hasilnya menunjukkan bahwa gaya gravitasi yang menarik Bumi ke arah Matahari yang mengembang ternyata lebih lemah dibandingkan prediksi model lama.

Kondisi tersebut memberi Bumi lebih banyak waktu untuk bergerak menjauh ketika Matahari mulai melepaskan lapisan luarnya ke ruang angkasa. Meski demikian, temuan ini belum menjamin Bumi pasti selamat.

Penulis utama studi, Mats Esseldeurs dari KU Leuven Institute of Astronomy di Belgia, mengatakan ketidakpastian terbesar kini bukan lagi berasal dari perhitungan gaya pasang surut.

"Ketidakpastian terbesar kini bukan lagi berasal dari perhitungan gaya pasang surut, tetapi dari seberapa banyak massa Matahari di masa depan akan hilang," ujar Esseldeurs, dikutip dari Space, Rabu (12/8/2026).

Menurut dia, pengamatan terhadap bintang raksasa yang mirip Matahari saat ini mengarah pada kemungkinan Bumi dapat bertahan, meski pengamatan yang lebih baik masih diperlukan.

Dalam fase raksasa merah, Matahari akan mengalami dua proses yang saling bersaing. Gaya pasang surut gravitasi menarik planet ke arah dalam, sementara hilangnya massa bintang akibat angin bintang yang kuat mendorong planet bergerak ke orbit yang lebih jauh.

Esseldeurs menjelaskan bahwa nasib Bumi bergantung pada keseimbangan kedua efek tersebut.

"Jika interaksi pasang surut mendominasi, Bumi akan tertelan. Jika hilangnya massa mendominasi, Bumi akan lolos ke orbit yang lebih luas," jelasnya.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, studi terbaru menggunakan perhitungan gaya pasang surut yang lebih mutakhir dengan mempertimbangkan perubahan struktur internal dan dinamika bintang yang menua. Model tersebut juga memasukkan berbagai kemungkinan laju hilangnya massa Matahari pada fase akhir evolusinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Merkurius dan Venus tetap tidak mampu menghindari Matahari yang mengembang sehingga keduanya dipastikan akan tertelan. Sebaliknya, Bumi dan Mars diperkirakan dapat bertahan melewati fase raksasa merah dan akhirnya mengorbit lebih jauh mengelilingi sisa Matahari yang berubah menjadi katai putih.

Para peneliti juga menggunakan data dari L2 Pup, bintang raksasa merah yang berjarak sekitar 183 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki massa yang mirip dengan Matahari. Dengan memasukkan laju hilangnya massa bintang tersebut ke dalam model, mereka menemukan bahwa Bumi bergerak menjauh cukup cepat untuk menghindari tertelan.

Meski demikian, para astronom menegaskan bahwa nasib akhir Bumi masih belum dapat dipastikan karena laju hilangnya massa bintang mirip Matahari pada fase akhir kehidupannya belum dapat diamati secara presisi.

Bagi manusia, temuan ini lebih memberikan ketenangan secara akademis daripada solusi praktis. Sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa Matahari akan terus memanas sehingga lautan Bumi akan menguap dan planet ini menjadi tidak layak huni sekitar 1 miliar tahun lagi, jauh sebelum Matahari memasuki fase raksasa merah.

Meski manusia kemungkinan tidak akan menyaksikan peristiwa tersebut, penelitian ini dinilai penting untuk memahami bagaimana sistem planet berevolusi ketika bintangnya menua. Para peneliti berharap pengamatan terhadap bintang-bintang mirip Matahari yang sedang sekarat dapat memperjelas masa depan sistem Bumi-Matahari.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |