Jakarta, CNBC Indonesia - Pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) Davos, Swiss pada Rabu (21/1/2026) waktu setempat, menyisakan ketegangan baru dalam hubungan transatlantik. Alih-alih menawarkan solusi strategis, Trump melontarkan serangkaian keluhan, sindiran, dan klaim kontroversial terhadap para pemimpin Eropa, NATO, hingga negara tuan rumah.
Dalam pidato berdurasi hampir satu jam tersebut, Trump kembali menegaskan ambisinya atas Greenland, wilayah semi-otonom Denmark, sekaligus mempertanyakan komitmen dan kontribusi sekutu Eropa terhadap Amerika Serikat.
"Saya tidak akan menggunakan kekerasan," ujar Trump, meredakan kekhawatiran bahwa AS akan merebut Greenland dengan cara militer, seperti dikutip CNN International, Kamis (22/1/2026).
Pernyataan itu menjadi titik terang di tengah kekhawatiran para pejabat Eropa. Hingga sebelumnya, Gedung Putih tidak menutup kemungkinan opsi militer. Namun Trump tetap menegaskan bahwa ia menginginkan kepemilikan penuh Greenland.
"Pulau besar yang tidak aman ini sebenarnya adalah bagian dari Amerika Utara. Itu wilayah kita," kata Trump. Ia juga memperingatkan pihak-pihak yang menolak keinginannya. "Anda bisa mengatakan tidak, dan kami akan mengingatnya."
Klaim Historis dan Kritik ke Denmark
Trump menggunakan argumen sejarah untuk memperkuat klaimnya, menuding Denmark tidak mampu mempertahankan Greenland, termasuk saat Perang Dunia II.
"Denmark jatuh ke tangan Jerman hanya dalam enam jam. Mereka tidak mampu mempertahankan diri sendiri maupun Greenland," ujarnya. "Amerika Serikat yang melindunginya, dan sekarang mereka tidak tahu berterima kasih."
Pernyataan tersebut menuai gelengan kepala dan tawa tidak percaya dari sebagian hadirin.
Sindiran ke Sekutu dan Pemimpin Dunia
Tak hanya Denmark, Trump juga menyasar Swiss, Prancis, dan Kanada. Ia menyebut Swiss "hanya baik karena Amerika," serta mengklaim menaikkan tarif setelah merasa "kesal" dalam pembicaraan dengan seorang pemimpin negara tersebut.
Trump juga mengejek Presiden Prancis Emmanuel Macron dan melontarkan peringatan keras kepada Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
"Kanada hidup karena Amerika Serikat. Ingat itu, Mark, lain kali Anda membuat pernyataan," kata Trump.
Di dalam negeri, Trump kembali menyerang Ketua Federal Reserve Jerome Powell dan anggota DPR dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, dengan pernyataan bernada keras dan kontroversial.
NATO dan Eropa yang "Tak Lagi Dikenali"
Trump turut mempertanyakan kesiapan NATO untuk membela Amerika Serikat, tanpa menyinggung fakta bahwa aliansi tersebut hanya sekali mengaktifkan klausul pertahanan kolektif, yakni setelah serangan 11 September 2001 atas AS.
Ia juga mengkritik kebijakan migrasi dan ekonomi Eropa yang menurutnya telah membuat benua itu "tidak dapat dikenali."
"Beberapa tempat di Eropa bahkan tidak dapat dikenali lagi. Tidak ada argumen soal itu," ujar Trump.
Reaksi Hadirin Davos
Sepanjang pidato, suasana ruangan cenderung kaku. Tepuk tangan terdengar minim, sementara sebagian hadirin tampak gelisah dan meninggalkan ruangan sebelum pidato berakhir. Ketika Trump menutup pidatonya dengan santai, "Sampai jumpa lagi," respons yang diterima terbilang dingin.
Meski Trump kemudian mengklaim telah mencapai "kerangka kesepakatan masa depan" terkait Greenland usai bertemu Sekjen NATO dan membatalkan rencana tarif bulan depan, ia tidak merinci isi kesepakatan tersebut.
"Solusi ini, jika terwujud, akan menjadi solusi yang hebat bagi Amerika Serikat dan semua negara NATO," tulis Trump di Truth Social.
Pidato Trump di Davos menegaskan kembali pendekatan konfrontatifnya terhadap sekutu lama, sekaligus memperdalam kekhawatiran bahwa hubungan Amerika Serikat dan Eropa tengah berada di titik rapuh.
(tfa/luc)
[Gambas:Video CNBC]

















































