Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara di hadapan DPR RI, setelah peringkat utang Indonesia dipertahankan lembaga pemeringkat utang dunia, S&P pada level BBB dan outlook stabil.
Menurut Purbaya, keputusan S&P untuk mempertahankan rating utang atau kredit Indonesia tak terlepas dari momen dirinya bersama dengan beberapa anggota DPR menemui S&P pada April 2026, di sela IMF Spring Meetings.
Saat itu, kata dia pemerintah dan DPR berhasil meyakinkan S&P dan investor-investor global bahwa pengeolaan fiskal pemerintah sangat baik dan berbeda dengan negara-negara lain.
"Jadi beberapa bulan lalu, april, kami dengan anggota DPR, bu Sari Yuliati (Wakil Ketua DPR), Pak Misbakhun (Ketua Komisi XI DPR), Pak Hekal (Wakil Ketua Komisi XI DPR) ketemu investor dan S&P, dan menggambarkan bahwa Indonesia tidak sama dengan negara lain," ujar Purbaya saat rapat paripurna di Gedung DPR, Selasa (14/7/2026).
Dari hasil pertemuan itu, S&P menurut Purbaya melihat lembaga eksekutif dan legislatif Indonesia merupakan satu kesatuan yang utuh dalam mendorong kemakmuran rakyat Indonesia, tanpa membuat undang-undang yang melanggar tatanan pemerintahan yang baik.
"Kita, parlemen, DPR, dengan pemerintah adalah satu kesatuan yang baik sehingga mereka bisa lihat kebijakan kita utuh dan betul-betul bertujuan memakmurkan rakyat tanpa melanggar UU yang ada, yang sudah dibuat parlemen," tegasnya.
Dengan penegasan itu, Purbaya mengklaim lembaga pemeringkat internasional yang independen itu menjadi yakin terhadap pengelolaan fiskal pemerintah hingga peringkat utang tetap dipertahankan sebagaimana selama ini.
"Dengan kerja sama tadi itu, ketika kita ke AS, itu lembaga pemeringkat jadi yakin kita memang bergerak ke aragh yang benar," tutur Purbaya.
Sebagaimana diketahui, S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap berada pada level stabil.
"Kami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil," tulis S&P dalam laporannya, Senin (13/7/2026).
Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.
S&P juga menegaskan outlook stabil mencerminkan ekspektasi kami bahwa penerimaan pemerintah akan terus pulih tahun ini dan penerimaan ekspor akan kembali meningkat seiring kenaikan harga komoditas.
"Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan ekspor dari sektor sumber daya alam juga diperkirakan akan memperkuat pendapatan negara dalam jangka menengah, terutama apabila perubahan kebijakan menjadi lebih dapat diprediksi dan dieksekusi dengan baik," tulis S&P.
(arj/arj)
Addsource on Google

















































