Pukulan Telak Buat Trump, Percuma Bikin China Sengsara

5 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden AS Donald Trump mengguncang dunia saat pertama kali mengumumkan tarif global besar-besaran pada 2 April 2025. Kebijakan tersebut langsung membawa konflik dagang baru antara AS dan China, bahkan AS dengan beberapa negara sekutunya.

Petaka tarif Trump digaungkan untuk mengembalikan kejayaan manufaktur AS dan melepas ketergantungan terhadap China. Prioritas Trump adalah memperbaiki defisit perdagangan AS dengan Asia sebesar US$760 miliar.

Namun, tarif tinggi Trump ini turut menghantam para raksasa teknologi AS yang menggantungkan rantai pasok di negara-negara Asia. Berkat lobi yang kuat dari para CEO raksasa teknologi, Trump akhirnya

mengecualikan perangkat elektronik konsumen yang diproduksi di seluruh Asia. Hanya saja, barang yang dibuat di China masih dikenakan pajak terpisah terkait fentanil hingga 20%.

Setahun setelahnya, kebijakan tarif Trump yang tidak menentu telah mengubah rantai pasokan. Namun, ternyata hasilnya tak sesuai harapan Trump. Tarif tinggi yang membawa petaka global nyatanya belum berhasil membawa kejayaan bagi industri manufaktir AS.

Analisis Bloomberg terhadap data bea cukai tingkat pengiriman menunjukkan pergeseran manufaktur ke Vietnam. Pada tahun lalu, Vietnam telah melampaui China sebagai pemasok utama laptop dan konsol game ke AS untuk pertama kalinya.

Cara China Hadapi Ketidakpastian Trump

Fakta yang lebih mengejutkan, temuan Bloomberg menunjukkan bahwa produksi inti elektronik masih terjadi di China. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi cepat China dalam menghadapi sanksi bertubi-tubi dari AS, serta ketidakpastian regulasi dari pemerintahan Trump.

Dihadapkan dengan tarif yang tidak dapat diprediksi, produsen China menemukan solusi hemat biaya, yakni memindahkan jalur perakitan akhir dengan tenaga kerja berketerampilan rendah ke Vietnam, di mana mereka menghadapi bea masuk yang lebih rendah, dikutip dari Bloomberg, Rabu (1/4/2026).

Pabrik-pabrik Vietnam yang merakit komponen buatan China dan mengirimkannya lebih jauh hanya menyumbang kurang dari 8% dari nilai ekspor dalam beberapa kasus, menurut analisis Bloomberg.

Pengiriman barang dari China ke AS turun sebesar US$51 miliar pada 2025. Namun, fenomena ini tak berbanding lurus dengan peningkatan manufaktur dalam negeri AS, seperti yang dicita-citakan Trump.

AS justru mencatat impor yang lebih besar dari Vietnam. Nilainya naik dari US$13,4 miliar pada 2024 menjadi US$29,8 miliar pada 2025. Secara keseluruhan, kenaikan kumulatif impor AS sebesar US$49 miliar berasal dari sejumlah negara termasuk Vietnam, India, dan Meksiko, menurut data analisis Bloomberg.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa AS masih membeli tujuh produk elektronik mahal senilai US$130 miliar dari luar negeri pada tahun lalu, turun hanya sedikit lebih dari 1% dibandingkan dengan tahun 2024.

Permintaan Tenaga Kerja Vietnam Membludak

Permintaan tenaga kerja di kawasan industri Vietnam di provinsi Bac Ninh bagian utara sangat tinggi sehingga para pekerja pabrik pemula diangkut dengan bus dari desa-desa terpencil untuk mengisi 1.000 lowongan pekerjaan yang diiklankan sejak Tahun Baru Imlek, demikian kata para perekrut kepada Bloomberg News.

"Bonus yang diberikan perusahaan kepada pekerja baru menunjukkan betapa mendesaknya mereka membutuhkan pekerja," kata Nguyen Van Dai di luar pabrik Foxconn Technology Group.

"Tahun lalu, Foxconn melakukan lima putaran perekrutan di mana mereka memberikan bonus kepada pekerja sebesar 15 juta dong (US$570), jumlah tertinggi sejauh ini, untuk memenuhi pesanan dan rencana ekspansi mereka," ia menuturkan.

Analisis Bloomberg terhadap data tahun 2025 menemukan bahwa Fukang Technology Co., anak perusahaan Foxconn, mengekspor MacBook, iPad, dan motherboard senilai US$8,6 miliar untuk produk dan server. Mereka juga mengimpor berbagai komponen senilai US$7,9 miliar dari China, Korea Selatan, dan Taiwan. Artinya, paling banyak 7,8% dari nilai ekspor tersebut dihasilkan di Vietnam, jika semua produk akhir di Fukang diekspor.

BYD Co., meskipun lebih dikenal dengan mobil listriknya, juga memproduksi iPad untuk Apple Inc. dan mengikuti strategi yang serupa. Dari pabriknya di Phu Tho, 100 kilometer (62 mil) di luar Hanoi, perusahaan ini mengekspor iPad dan produk lain senilai US$5,1 miliar, dan mengimpor komponen senilai US$4,9 miliar, yang hanya menghasilkan 4,5% dari nilai ekspor di Vietnam. Impor dari China menyumbang 61% dari pengiriman masuknya, hampir sama dengan pangsa Foxconn.

BYD dan Foxconn tidak menanggapi permintaan komentar. Kementerian Luar Negeri Vietnam tidak segera menanggapi permintaan komentar di luar jam kerja reguler.

Ambisi 'Made in USA' Trump Gagal

Gelombang perekrutan di Vietnam memberikan pukulan telak bagi agenda 'Made in USA' yang digaungkan Trump. Nyatanya, mimpi Trump untuk mengembalikan manufaktur dan pekerjaan 'blue collar' ke AS sia-sia.

Ketika Trump menaikkan tarif tinggi, salah satu alasan utama yang ia sebutkan adalah ketidakmampuan AS untuk memproduksi banyak barang.

"Kita mengimpor hampir semua komputer, telepon, televisi, dan elektronik kita," katanya di Gedung Putih, saat mengumumkan tarif tinggi untuk lebih dari 180 negara.

Arus perdagangan bernilai tambah melalui negara ketiga telah membantu China mengelola risiko geopolitik sekaligus mengungkap keterbatasan tarif untuk mengekang mesin ekspornya.

"Perusahaan-perusahaan China jauh lebih baik dalam mengendalikan biaya. Mereka jauh lebih efisien karena memiliki rantai pasokan yang sangat besar, dari hulu, tengah, hingga hilir, sehingga lebih mudah untuk mengendalikan biaya di setiap segmen," kata Dan Wang, direktur China di Eurasia Group.

"Vietnam, khususnya, merupakan lokasi yang sangat strategis bagi produsen China," ia menambahkan.

Sebagai pukulan telak bagi kebijakan andalan Trump, Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar tarifnya awal tahun ini, termasuk bea masuk fentanil terhadap China. Gedung Putih dengan cepat meluncurkan investigasi perdagangan terkait kekhawatiran akan kelebihan kapasitas industri dan pelanggaran hak buruh di 60 negara, termasuk China, Vietnam, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Untuk saat ini, tarif universal secara resmi berada di angka 10% hingga 24 Juli, dengan ancaman kenaikan hingga 15%.

Vietnam telah menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara. Tetangga RI tersebut terus membangun posisinya sebagai sumber alternatif impor sejak perang dagang pertama Trump pada 2016, dan peningkatan ini makin pesat sejak tahun lalu.

Foxconn, produsen elektronik terbesar di dunia, adalah salah satu pelopor dalam memperluas kapasitas produksi dari China ke provinsi Bac Ninh, pusat elektronik baru di Vietnam.

Produksi smartphone meningkat 39,4% dan laptop melonjak 130,3% di provinsi tersebut tahun lalu, menurut data pemerintah setempat. Pabrik Foxconn di Fukang saja mengekspor barang elektronik senilai US$8,6 miliar, lebih dari dua kali lipat nilai pada tahun 2024.

Sebagian besar ekspor tersebut adalah MacBook yang ditujukan ke AS, menurut analisis Bloomberg terhadap angka bea cukai Vietnam dari Big Trade Data yang mengumpulkan statistik impor dan ekspor.

Produksi di Vietnam meningkat dengan laju tercepat dalam lebih dari satu setengah tahun di tengah peningkatan tajam dalam pesanan baru, menurut data Februari dari Indeks Manajer Pembelian Manufaktur S&P Global Vietnam. Kepercayaan bisnis mencapai titik tertinggi sejak September 2022, menurut survei S&P Global.

Kekhawatiran Vietnam

Namun, lonjakan ini menciptakan ketidakpastian bagi Vietnam. Defisit perdagangan terbesar dalam sejarah dapat mengundang pengawasan dari Washington, yang telah menyetujui kerangka kerja untuk kesepakatan dengan Hanoi yang akan mengenakan tarif 20% pada impor.

Gangguan pasokan energi yang disebabkan perang di Timur Tengah turut menimbulkan risiko potensial lain bagi sektor manufaktur Vietnam.

Memfasilitasi perusahaan-perusahaan China dalam menghindari tarif juga berisiko menimbulkan hukuman, dengan Trump mempertimbangkan hukuman berat untuk pengiriman ulang barang. Namun, ketidakpastian menyelimuti bagaimana AS akan mendefinisikan atau menegakkan pembatasan pengiriman ulang barang, karena detail tentang verifikasi masih kurang mumpuni.

"Citra sebagai negara dengan surplus perdagangan terbesar terhadap AS berarti Vietnam sekarang menjadi target yang lebih besar bagi pemerintahan [Trump]. Ini merupakan risiko besar bagi perekonomian Vietnam," kata Jian Xin Heng, analis senior Asia di BMI.

Seiring meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Asia, makin banyak pabrik yang sedang dibangun di Bac Ninh yang hampir beroperasi.

"Bisnis berjalan lancar," kata Nguyen Anh, seorang kontraktor perekrutan yang mendapatkan komisi tinggi di Bac Ninh.

"Seiring perusahaan membangun fasilitas baru dan memperluas pabrik mereka, mereka akan membutuhkan lebih banyak pekerja. Kami akan sibuk sepanjang tahun," ia menuturkan.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |