Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
22 January 2026 19:20
Jakarta, CNBC Indonesia — Koreksi signifikan pada harga saham PT United Tractors Tbk (UNTR) ke level Rp 27.250 pasca pemberitaan mengenai status izin tambang emas Martabe memicu perhatian pelaku pasar. Sentimen negatif jangka pendek ini muncul di tengah ketidakpastian regulasi yang berdampak langsung pada salah satu segmen bisnis perseroan.
Namun, apabila dibedah menggunakan perspektif makroekonomi jangka panjang-khususnya terkait siklus money supply dan proyeksi harga komoditas global-penurunan valuasi saat ini menyajikan skenario risk-reward yang menarik untuk dicermati, terutama menjelang tahun fiskal 2027.
Geopolitik dan Proyeksi Emas 2027
Latar belakang makroekonomi global menjadi variabel krusial dalam valuasi UNTR ke depan. Terpilihnya kembali Donald Trump dan kebijakan proteksionisme Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan memperpanjang periode ketidakpastian geopolitik dan instabilitas pasar keuangan global.
Sejumlah institusi perbankan AS memproyeksikan bahwa volatilitas ini akan mendorong kenaikan harga aset safe haven. Dalam skenario di mana ketidakstabilan fiskal AS berlanjut, harga emas dunia diprediksi memiliki potensi untuk bergerak menuju level US$ 5.400 per troy ons pada tahun 2027.
Selain itu, pertumbuhan jumlah uang beredar global yang konsisten berada di kisaran 5-10% per tahun secara historis menciptakan basis inflasi aset. Dalam kondisi ini, komoditas emas dan perusahaan yang memproduksinya cenderung mengalami apresiasi nilai sebagai aset hedging terhadap penurunan nilai mata uang.
Outlook 2026: Fase Konsolidasi dan Penyesuaian Valuasi
Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode transisi bagi United Tractors. Dampak dari penghentian sementara operasional tambang Martabe untuk pemenuhan kepatuhan lingkungan akan terefleksi pada laporan keuangan perseroan.
Tanpa kontribusi segmen emas, laba bersih konsolidasian berpotensi mengalami kontraksi. Pelaku pasar perlu mengantisipasi bahwa kinerja fundamental tahun 2026 mungkin tidak setinggi periode sebelumnya. Hal ini wajar apabila harga saham UNTR bergerak mendatar atau terkoreksi terbatas untuk menyesuaikan dengan ekspektasi laba yang lebih moderat.
Namun, perlu dicatat bahwa neraca keuangan UNTR tetap solid. Posisi kas dan setara kas yang mencapai Rp 28,3 triliun (per Kuartal III-2025) memberikan bantalan likuiditas yang cukup kuat untuk menopang operasional maupun pembagian dividen, meskipun dengan rasio yang disesuaikan.
Outlook 2027: Normalisasi dan Ekspansi Margin
Tesis investasi utama terletak pada tahun 2027. Dengan asumsi proses perizinan dan perbaikan lingkungan tambang Martabe telah selesai, operasional diharapkan kembali normal bertepatan dengan momentum harga emas global yang tinggi.
Jika harga emas merealisasikan proyeksi ke level US$ 5.400 per troy ons, UNTR akan diuntungkan oleh operating leverage. Mengingat biaya produksi tambang relatif stabil, kenaikan harga jual rata-rata (ASP) yang signifikan akan berdampak langsung pada perluasan margin laba bersih.
Pada titik ini, pasar berpotensi melakukan re-rating terhadap valuasi UNTR. Saham ini tidak lagi hanya dinilai berdasarkan PE ratio sektor alat berat yang konservatif, namun mulai memperhitungkan premium valuasi dari sektor pertambangan logam mulia yang memiliki margin tinggi.
Strategi Investasi
Penurunan harga ke level Rp 27.250 saat ini merefleksikan risiko jangka pendek terkait perizinan. Namun, bagi investor dengan horison investasi jangka menengah hingga panjang, situasi ini menawarkan peluang masuk pada valuasi yang terdiskon.
Periode konsolidasi sepanjang tahun 2026 dapat dimanfaatkan untuk strategi akumulasi bertahap, dengan fokus pada tesis pemulihan operasional dan siklus kenaikan harga komoditas emas di tahun 2027.
Risiko utama yang perlu dipantau adalah durasi penyelesaian perizinan tambang dan realisasi kebijakan moneter global yang mempengaruhi harga komoditas.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)


















































