Proyek Gas Rp352 Triliun RI Sudah Kantongi Izin Amdal, Ini Pemiliknya

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan kabar terbaru tentang proyek gas abasi di Blok Masela yang dikelola oleh perusahaan Jepang, Inpex Masela Ltd.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan bahwa dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) untuk proyek tersebut sudah resmi terbit. Dokumen itu diserahkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup kepada SKK Migas pada Jumat, 13 Februari 2026.

Adapun, dengan rampungnya dokumen lingkungan tersebut, proyek pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku, diharapkan dapat segera memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking.

"Alhamdulillah akhirnya kemarin di hari baik Jumat Barokah telah terbit AMDAL buat Proyek Masela, sebagai hadiah menjelang Ramadhan, Insya Allah Groundbreaking dalam waktu dekat," kata Djoko kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (19/2/2026).

Di sisi lain, Djoko menyebut proyek Blok Masela sendiri diperkirakan menelan investasi hampir US$ 21 miliar atau sekitar Rp 352 triliun, dengan kapasitas produksi gas mencapai 1.600 juta standar kaki kubik per hari MMSCFD.

Sementara, dari jumlah gas tersebut sebanyak 150 MMSCFD akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara sisanya untuk ekspor LNG. Tak hanya itu, proyek ini juga akan menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa proyek minyak dan gas (migas) Lapangan Abadi Blok Masela harus masuk tahap produksi sebelum Pilpres 2029. Pemerintah menegaskan tak segan mencabut izin jika proyek tersebut mangkrak.

Bahlil pun telah memanggil pihak Inpex dan memberikan peringatan tegas. "Saya panggil Inpex, you datang sini. Datang waktu saya bilang sama dia kalau you gak mau saya akan kasih surat peringatan satu, kedua kalau tidak saya cabut. Enggak ada urusan. Kau mau bawa ke arbitrase kah arbit mana kah terserah kau," tegasnya.

Blok Masela

Inpex Masela Ltd merupakan pemegang hak partisipasi (Participating Interest/ PI) terbesar di Blok Masela yakni mencapai 65%.

Sebelumnya, Inpex ditemani oleh Shell Upstream Overseas Services dengan saham 35%. Namun sayangnya, Shell memutuskan hengkang dari proyek gas abadi yang berlokasi di Maluku itu.

Adapun 35% saham Shell tersebut sejak Juli 2023 lalu telah diambil oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas 15%.

Perjanjian jual beli hak partisipasi dari Shell ke Pertamina dan Petronas ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan PI diperoleh pada 4 Oktober 2023.

Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.

Setelah kontrak bagi hasil ditandatangani pada 1998, akhirnya Inpex menemukan cadangan gas jumbo di Blok Masela ini pada tahun 2000.

Setelah 19 tahun kemudian, baru lah Pemerintah Indonesia memberikan persetujuan atas Rencana Pengembangan atau Plan of Development (PoD) pertama (PoD-I) kepada Inpex untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA) dari Kilang LNG Masela, dan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.

Konsep pengembangan lapangan green field (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deep water, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan energi bersih melalui penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.

Penerapan CCS ini pun disetujui Pemerintah Indonesia pada 28 November 2023, melalui Revisi 2 PoD-I. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan tender FEED. Hingga akhirnya, Rabu, 9 April 2025, Inpex meluncurkan FEED OLNG ini.

Berikut jejak penting Proyek Gas Lapangan Abadi, Blok Masela:

1998: Kontrak bagi hasil (PSC) ditandatangani oleh Inpex.

2000: Penemuan cadangan gas jumbo di Blok Masela.

2019: Persetujuan Rencana Pengembangan Pertama (PoD-I) oleh Pemerintah Indonesia, untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas bumi, dan 35.000 bph kondensat.

2023: Shell hengkang, Pertamina dan Petronas masuk memegang hak partispasi masing-masing 20% dan 15%. Kemudian, Revisi 2 POD-I disetujui Pemerintah Indonesia, karena memasukkan fasilitas CCS.

2025: FEED OLNG resmi diluncurkan.

2026: Izin Analisis Dampak dan Lingkungan (Amdal).

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |