Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
15 April 2026 15:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Transformasi digital yang masif di Indonesia memicu lonjakan permintaan terhadap infrastruktur teknologi berskala besar, menempatkan sektor pusat data (data center) sebagai salah satu industri dengan prospek pertumbuhan fundamental yang paling menjanjikan di pasar modal.
Seiring dengan peningkatan penetrasi cloud computing dan adopsi awal AI oleh korporasi, kebutuhan atas ruang penyimpanan data dengan tingkat keamanan dan ketersediaan daya yang tinggi menjadi sangat krusial.
Di Bursa Efek Indonesia, dinamika industri ini terefleksi pada pergerakan nilai perusahaan penyedia infrastruktur digital, di mana PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Indointernet Tbk (EDGE) merupakan dua entitas yang paling relevan untuk dianalisis.
Saat ini, pasar menampilkan ketimpangan valuasi yang sangat mencolok antara kedua emiten tersebut. Saham DCII ditransaksikan pada tingkat harga Rp199.275 per lembar saham yang merepresentasikan valuasi premium, sementara saham EDGE tercatat pada harga Rp4.790 dengan status suspensi oleh otoritas bursa.
Relevansi Metrik Kapasitas dan Aset dalam Valuasi
Penilaian kinerja keuangan dan valuasi emiten di sektor infrastruktur padat modal seperti data center membutuhkan pendekatan analitis yang berbeda dibandingkan dengan sektor konvensional.
Penggunaan metrik valuasi tradisional yang bertumpu pada laba bersih sering kali tidak memberikan gambaran yang akurat. Hal ini disebabkan oleh besarnya beban penyusutan dan amortisasi yang menekan pembukuan laba bersih, sebagai akibat dari siklus capex yang berkelanjutan untuk pembangunan fasilitas baru.
Oleh karena itu, pendekatan yang dinilai lebih obyektif dan representatif adalah melakukan valuasi yang bertumpu pada ukuran aset fisik serta kapasitas operasional daya dalam satuan Megawatt (MW).
Pendekatan ini memberikan landasan perbandingan yang komprehensif antara DCII yang beroperasi murni sebagai penyedia pusat data (pure-play), dengan EDGE yang mengoperasikan model bisnis infrastruktur terintegrasi antara pusat data dan jaringan konektivitas.
Berikut adalah kompilasi data fundamental dan valuasi pasar dari kedua emiten berdasarkan estimasi kinerja pembukuan tahun 2025:
Referensi Harga Pembuatan Data Center Metrik MW
Sebagai referensi, data riset dari BlueCap Economic Advisors menjelaskan bahwa estimasi biaya pembangunan berada di rentang Rp11,97 triliun hingga Rp20,52 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp17.100 per USD.
Secara teknis, alokasi dana terbesar akan terserap pada sistem elektrikal dan redundancy yang bisa mencapai 45% dari total anggaran guna memastikan operasional tanpa henti. Di Indonesia, angka ini sangat masuk akal dan relevan untuk diimplementasikan, terutama bagi kategori hyperscale data center yang kini banyak dikembangkan di kawasan Cikarang, Karawang, dan Batam.
Namun, realisasinya di pasar domestik memerlukan mitigasi risiko terhadap stabilitas daya listrik dan ketersediaan infrastruktur energi hijau, mengingat biaya operasional tahunannya juga tidak sedikit, yakni dapat mencapai Rp427,5 miliar.
Meskipun memerlukan CapEx yang masif, proyek skala ini tetap kompetitif di Indonesia karena pertumbuhan ekonomi digital yang pesat dan adanya insentif pajak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dapat membantu mengoptimalkan Return on Investment (ROI) dalam jangka panjang.
Berikut ini adalah data biaya pembuatan data center per MW berdasarkan riset tersebut:
Kematangan Skala Operasional dan Valuasi Premium DCII
Berdasarkan tinjauan data operasional terkini, DCII memiliki total kapasitas terpasang sebesar 128 MW yang ditopang oleh total aset senilai Rp6,64 triliun.
Proporsi antara nilai aset dan besaran kapasitas ini mengindikasikan bahwa perseroan telah melewati fase investasi modal awal yang memiliki intensitas beban tertinggi.
Saat ini, DCII telah mencapai economies of scale yang optimal. Pembangunan infrastruktur dasar seperti gardu induk kelistrikan, sistem pendingin presisi, cadangan daya redundan, dan struktur fasilitas bersertifikasi tinggi telah direalisasikan secara komprehensif pada fase ekspansi sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, setiap inisiatif penambahan kapasitas baru atau perluasan gedung operasional di masa mendatang dapat dieksekusi dengan efisiensi alokasi modal yang jauh lebih terukur.
Struktur operasional yang mapan ini juga sejalan dengan profil klien perseroan yang didominasi oleh perusahaan teknologi global dan penyedia layanan komputasi awan berskala besar, yang pada gilirannya memberikan jaminan bahwa tingkat utilisasi fasilitas tetap berada pada persentase yang maksimal.
Kematangan operasional ini berbanding lurus dengan pembentukan valuasi di bursa saham, di mana pasar memberikan nilai kapitalisasi sekitar Rp3,7 triliun untuk setiap 1 Megawatt kapasitas operasional DCII.
Dengan rasio kapitalisasi pasar terhadap aset di level 71,5x, tingkat valuasi ini merupakan bentuk kalkulasi rasional dari pelaku pasar atas tingginya kepastian arus kas masa depan, stabilitas margin operasional, dominasi pangsa pasar perseroan, serta ketahanan model bisnis yang menghasilkan recurring revenue dalam jangka panjang.
Fase Ekspansi Ekosistem dan Profil Valuasi EDGE
Berbeda dengan struktur kemapanan yang dicatatkan oleh DCII, pembukuan EDGE melaporkan total aset sebesar Rp5,45 triliun dengan kapasitas operasional pusat data sebesar 29 MW yang secara spesifik berasal dari fasilitas EDGE1 dan EDGE2.
Rasio antara kapasitas operasional terhadap nilai aset total ini mencerminkan profil entitas bisnis yang saat ini sedang berada pada puncak siklus penyerapan belanja modal untuk tujuan ekspansi.
Perlu dicatat bahwa total aset yang dibukukan oleh EDGE tidak secara eksklusif terdiri dari bangunan pusat data yang telah beroperasi penuh. Aset perseroan juga mencakup infrastruktur jaringan serat optik pendukung konektivitas serta berbagai fasilitas fisik yang masih dalam tahap penyelesaian konstruksi.
Hal ini mengonfirmasi bahwa perseroan sedang mengalokasikan sumber daya kapitalnya untuk membangun ekosistem digital yang saling terintegrasi secara utuh.
Posisi fundamental yang masih dalam fase pembangunan ekosistem digital ini terefleksi secara langsung pada tingkat valuasi pasar perseroan yang tercatat pada kisaran Rp331 miliar per Megawatt.
Di samping itu, rasio kapitalisasi pasar terhadap total aset EDGE berada pada level yang moderat sebesar 1,7 kali, merefleksikan nilai pasar yang tergolong dekat dengan estimasi nilai buku aset fisiknya.
Penilaian yang konservatif ini dinilai wajar secara fundamental, mengingat pasar cenderung mengambil posisi analitis untuk menunggu pembuktian dari pihak manajemen dalam mengonversi kapasitas 29 MW tersebut menjadi tingkat utilisasi komersial yang stabil dan menghasilkan margin positif.
Profil valuasi ini juga dipengaruhi oleh status suspensi perdagangan saham yang saat ini diberlakukan oleh otoritas bursa, yang secara teknis menghentikan dan membekukan mekanisme penemuan harga (price discovery) atas saham EDGE di pasar reguler.
Refleksi Siklus Hidup Aset Infrastruktur Digital
Secara keseluruhan, pembedahan data fundamental ini memberikan kesimpulan objektif bahwa ketimpangan tingkat valuasi antara kedua emiten penyedia pusat data tersebut merupakan representasi logis dari tahapan siklus hidup aset infrastruktur yang sedang mereka jalani masing-masing.
Valuasi DCII yang berada pada rentang premium merupakan bentuk kuantifikasi pasar atas efisiensi skala, rekam jejak operasional, dan keandalan konversi pendapatan yang telah terbukti secara historis.
Sementara itu, struktur valuasi EDGE merepresentasikan posisi strategis perusahaan yang masih berada dalam tahap awal transisi menuju operasionalisasi aset barunya secara penuh. Akselerasi dan peningkatan nilai perusahaan EDGE di masa mendatang akan sangat bergantung pada efektivitas eksekusi manajemen perseroan dalam menyerap permintaan dari target pasar korporasi.
Kemampuan untuk memadukan nilai tambah layanan konektivitas jaringan dengan ruang kapasitas pusat data akan menjadi faktor penentu fundamental perseroan, di samping respons teknikal terhadap dinamika permintaan saham sesaat setelah status suspensi resmi dicabut oleh otoritas bursa.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls)
Addsource on Google


















































