Produksi Batu Bara RI Dipangkas, Ini Untung-Ruginya Buat Dunia

2 hours ago 2

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

12 January 2026 13:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Lanskap pasar energi fosil global memasuki tahun 2026 dengan sebuah anomali fundamental yang jarang terjadi dalam siklus komoditas modern.

Setelah hampir setengah dekade pasar didikte oleh kekhawatiran dari sisi permintaan (demand-side anxiety), dinamika harga pada tahun mendatang diproyeksikan akan beralih sepenuhnya ke bawah kendali sisi penawaran (supply-side control).

Narasi utama pasar tidak lagi berpusat pada seberapa cepat transisi energi akan menggerus permintaan, melainkan pada guncangan pasokan fisik (physical supply shock) yang bersumber dari eksportir terbesar dunia, yakni Indonesia.

Keputusan strategis Pemerintah Indonesia untuk membatasi produksi batu bara nasional secara drastis diperkirakan akan menciptakan defisit struktural di pasar lintas laut, memaksa harga batu bara termal bertahan di zona premium meskipun terdapat tekanan kompetitif dari komoditas substitusi.

Efek Pemangkasan 600 Juta Ton dari RI

Pasar batu bara lintas laut (seaborne trade) selama ini terbiasa dengan likuiditas pasokan berlebih dari Indonesia, yang sempat mencatatkan rekor produksi di atas 800 juta ton pada periode sebelumnya.

Namun, era pasokan murah tersebut menghadapi titik akhir. Rencana Pemerintah Indonesia untuk menetapkan pagu produksi keras (hard cap) di kisaran 600 hingga 700 juta ton pada tahun 2026 mengubah kalkulasi keseimbangan pasar secara radikal.

Pengurangan target produksi ini memiliki implikasi yang jauh lebih dalam daripada sekadar penyesuaian statistik tahunan. Secara volume, penarikan pasokan sekitar 150 hingga 200 juta ton dari pasar ekspor setara dengan menghilangkan gabungan seluruh volume ekspor tahunan dari Afrika Selatan dan Kolombia.

Meskipun terdapat proyeksi perlambatan permintaan dari China dan India akibat peningkatan produksi domestik mereka, data menunjukkan bahwa laju penurunan permintaan global tidak secepat laju hilangnya pasokan dari Indonesia.

Jika permintaan impor global terkoreksi sebesar 100 juta ton, namun pasokan Indonesia berkurang hingga 200 juta ton, pasar akan menghadapi defisit bersih sekitar 100 juta ton yang tidak memiliki penyedia alternatif. Ketidakseimbangan ini menciptakan landasan fundamental yang kuat bagi kenaikan harga.

Batu Bara RI Sulit Terganti?

Salah satu miskonsepsi umum dalam analisis makroekonomi energi adalah anggapan bahwa batu bara merupakan komoditas yang seragam. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa pemangkasan produksi Indonesia akan berdampak spesifik pada segmen batu bara berkalori rendah dan menengah (Low-CV & Mid-CV), yang merupakan porsi terbesar dari ekspor nasional.

Ribuan mega Watt kapasitas pembangkit listrik di China bagian selatan dan pesisir India didesain secara spesifik untuk membakar batu bara dengan spesifikasi Indonesia tersebut.

Utilitas di wilayah ini menghadapi hambatan teknis dan ekonomis yang signifikan untuk beralih ke batu bara berkalori tinggi (High-CV) dari Australia atau Rusia. Selain harga batu bara kalori tinggi yang secara historis lebih mahal, ketidakcocokan spesifikasi teknis pada tungku pembakaran (boiler) dapat memicu kerusakan mesin dan inefisiensi operasional.

Kondisi ini memicu risiko kelangkaan fisik (physical scarcity). Pembangkit listrik yang bergantung pada spesifikasi kalori rendah tidak memiliki opsi selain memperebutkan kargo Indonesia yang volumenya semakin terbatas.

Dalam hukum ekonomi dasar, ketika pasokan barang yang sulit disubstitusi menyusut drastis, harga pasar akan terdorong naik secara agresif untuk menyeimbangkan permintaan.

penggunaan Listrik dari Batu Bara RI Kalahkan ChinaFoto: Infografis/ penggunaan Listrik dari Batu Bara RI Kalahkan China /Aristya Rahadian
penggunaan Listrik dari Batu Bara RI Kalahkan China

Antisipasi Volatilitas Harga di Kuartal I 2026

Pelaku pasar perlu mengantisipasi volatilitas harga yang signifikan pada Kuartal I-2026 yang didorong oleh mekanisme regulasi. Kebijakan pembatasan kuota produksi awal tahun, yang umumnya dibatasi pada persentase tertentu sebelum persetujuan final Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) terbit, berpotensi menciptakan hambatan pasokan buatan (artificial bottleneck).

Kombinasi antara menipisnya stok batu bara di India pasca-musim dingin dan potensi keterlambatan pengapalan dari Kalimantan akibat proses administrasi dapat memicu aksi beli panik (panic buying) di pasar spot.

Lonjakan harga jangka pendek pada awal tahun diprediksi akan terjadi bukan karena perubahan fundamental permintaan jangka panjang, melainkan akibat kekhawatiran logistik dan ketidakpastian ketersediaan kargo fisik di pelabuhan muat.

"Rem" Kenaikan Harga Batu Bara

Kendati prospek harga batu bara cenderung menguat atau bullish, kenaikan harga diproyeksikan tidak akan bergerak liar tanpa batas. Faktor pengaman risiko datang dari pasar Gas Alam Cair (LNG) yang bertindak sebagai penyeimbang. Tahun 2026 bertepatan dengan mulai beroperasinya kapasitas kilang LNG masif di Qatar dan Amerika Serikat yang diperkirakan akan membanjiri pasar gas dunia.

Analis energi memproyeksikan harga LNG spot Asia berpotensi terkoreksi ke level yang sangat kompetitif, yakni setara US$ 8 hingga US$ 10 per MMBTU. Kondisi pasar gas ini menciptakan plafon harga atau batas atas bagi batu bara termal.

Jika harga batu bara melonjak terlalu tinggi - misalnya menembus level psikologis US$ 160 per ton - maka nilai keekonomian batu bara akan hilang dibandingkan gas alam.

Utilitas yang memiliki fasilitas bahan bakar ganda (dual fuel) atau kapasitas gas cadangan akan melakukan peralihan bahan bakar (fuel switching) secara masif untuk menekan biaya operasional.

Keberadaan LNG murah ini berfungsi sebagai mekanisme koreksi otomatis yang mencegah harga batu bara kembali ke level ekstrem, seperti pada krisis energi tahun 2022 lalu.

Proyeksi Harga Batu Bara 2026

Berdasarkan analisis interaksi antara guncangan pasokan dari Indonesia dan batasan harga dari pasar gas global, berikut adalah proyeksi pergerakan harga batu bara acuan Newcastle dan Indonesia Low-CV per kuartal:

Kesimpulan dan Implikasi Industri

Dengan menimbang faktor defisit struktural dan batasan harga LNG, harga batu bara acuan Newcastle pada tahun 2026 diproyeksikan bergerak stabil di zona premium, yakni pada kisaran rata-rata US$ 120 - US$ 150 per ton. Level harga ini dinilai sebagai titik ekuilibrium baru yang menguntungkan bagi produsen.

Bagi pelaku industri dan investor di pasar modal, tahun 2026 menandai pergeseran fokus fundamental dari pengejaran volume produksi menuju pertahanan margin keuntungan.

Kinerja keuangan perusahaan pertambangan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak batu bara yang dapat digali, melainkan seberapa efisien biaya produksi dan kepastian kuota RKAB yang dimiliki.

Pasar batu bara global tidak sedang menuju kematian, melainkan menuju fase kedewasaan baru di mana disiplin pasokan dari Indonesia menjadi penentu utama arah pasar dunia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |