Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan bahwa perusahaan minyaknya, Petroliam Nasional Bhd (Petronas), kini menjadi importir minyak dan bukan lagi eksportir seperti dulu.
Ia mengatakan hal ini sebagai tanggapan atas kritik dari berbagai pihak yang mempertanyakan mengapa Malaysia menghadapi kekurangan bahan bakar meskipun memproduksi minyak melalui Petronas.
"Petronas bukan lagi eksportir bersih, kita sekarang harus membeli minyak," katanya dimuat Strait Times, akhir pekan, dikutip Selasa (7/4/2026).
"Cadangan kita cukup untuk April dan Mei, saya jamin itu. Untuk Juni, masih belum pasti dan kita harus menunggu," tambahnya.
Anwar, yang juga Menteri Keuangan, mengatakan bahwa ia sekarang hampir setiap hari bertemu dengan para ekonom, pemikir kebijakan, dan perwakilan Petronas. Ini untuk memantau perkembangan menyusul konflik yang sedang berlangsung yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"Di ASEAN, beberapa negara terpaksa memberlakukan penjatahan minyak. Beberapa negara telah menutup 400 SPBU. Dalam beberapa kasus, pekerja yang tinggal di dekat kota harus berjalan kaki ke kantor mereka," jelasnya.
"Namun di sini, orang-orang hanya marah, berteriak, dan mengeluh, tanpa menyadari masalahnya dan mengambil langkah untuk mengatasinya. Kami mengadakan pertemuan harian untuk mencari solusi," katanya.
Ia juga mendesak warga Malaysia untuk tetap bersyukur meskipun menghadapi krisis global. Ia berjanji membuat perencanaan yang efektif.
"Kami menyadari kesulitan yang dihadapi masyarakat- sekolah ditutup, kantor pemerintah ditutup, banyak yang bekerja dari rumah- namun kami masih mampu merencanakan dan mengelola dengan tenang dan efektif," ujarnya lagi.
"Belajarlah untuk bersyukur. Belajarlah untuk tangguh dalam menghadapi kesulitan. Banyak yang tidak memahami gambaran yang lebih besar: mengapa pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diizinkan, namun harga barang naik karena harga minyak lebih mahal," tegasnya.
"Beberapa orang mungkin berpikir ini tidak masuk akal. Tetapi harga minyak tidak sama di mana-mana. Asuransi saja sudah meningkatkan biaya. Biaya pengiriman juga tidak murah. Semua faktor ini mendorong harga naik. Namun, kami masih bertahan," tambahnya.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]


















































