Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang setelah perundingan selama 21 jam di Islamabad, Minggu (12/4/2026). Kegagalan ini membahayakan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua pihak.
Melansir Reuters, kedua negara saling menyalahkan atas kegagalan negosiasi yang telah berlangsung lebih dari enam minggu konflik tersebut. Perang ini telah menewaskan ribuan orang dan mendorong lonjakan harga minyak global sejak dimulai.
Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi mengatakan kegagalan ini lebih merugikan Iran dibandingkan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Washington telah menyampaikan dengan jelas batasan atau "red lines" dalam perundingan tersebut.
AS menyebut Iran menolak sejumlah syarat utama, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Menurut Vance, tujuan utama Presiden Donald Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir dengan cepat.
Perundingan di Islamabad merupakan pertemuan langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade. Ini juga menjadi pembicaraan tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Foto: Wakil Presiden AS JD Vance berjalan bersama Kepala Angkatan Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar, Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS di Islamabad Natalie A. Baker, dan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Raza Naqvi, setelah tiba untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. Jacquelyn Martin/Pool via REUTERS
Wakil Presiden AS JD Vance berjalan bersama Kepala Angkatan Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar, Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS di Islamabad Natalie A. Baker, dan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Raza Naqvi, setelah tiba untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. Jacquelyn Martin/Pool via REUTERS
Media Iran menyebut tuntutan AS sebagai "berlebihan" dan menjadi penghambat kesepakatan. Perbedaan utama mencakup isu program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan perundingan berlangsung dalam suasana penuh ketidakpercayaan. Ia juga menilai wajar jika kesepakatan tidak dapat dicapai hanya dalam satu kali pertemuan.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata dua pekan yang disepakati sebelumnya. Gencatan ini diharapkan dapat meredakan konflik yang dimulai sejak 28 Februari lalu akibat serangan udara AS dan Israel ke Iran.
Sementara itu, pejabat keamanan Israel Zeev Elkin menyatakan peluang perundingan lanjutan masih terbuka, namun memperingatkan Iran. Ia menyebut bahwa Iran "sedang bermain api" di tengah ketegangan yang terus meningkat.
Di tengah kebuntuan, isu Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama karena merupakan jalur sekitar 20% pasokan energi global. Meski demikian, beberapa kapal tanker minyak mulai kembali melintas, walau ratusan lainnya masih tertahan di kawasan Teluk.
Presiden Trump menyatakan bahwa tercapai atau tidaknya kesepakatan tidak terlalu menjadi persoalan bagi AS. Ia bahkan mengklaim bahwa negaranya sudah berada dalam posisi "menang" dalam konflik tersebut.
Delegasi AS juga melibatkan Steve Witkoff dan Jared Kushner, sementara pihak Iran diwakili oleh Mohammad Baqer Qalibaf dan Abbas Araqchi. Pembicaraan disebut berlangsung dinamis dengan suasana yang naik turun sepanjang negosiasi.
Selain tuntutan nuklir, Iran juga meminta pembukaan aset yang dibekukan serta kendali atas Selat Hormuz. Teheran bahkan mengajukan kompensasi perang dan penghentian konflik di kawasan, termasuk di Lebanon.
Di sisi lain, Israel tetap melanjutkan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon. Serangan udara dilaporkan menghantam peluncur roket, sementara sirene peringatan terdengar di wilayah perbatasan akibat ancaman serangan balasan.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]


















































