Era Dolar di Afrika Mulai Tamat, Yuan China Jadi Raja Baru

2 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

10 August 2026 10:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah negara Afrika mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Yuan China dan mata uang lokal kini semakin sering digunakan untuk pembayaran hingga pengelolaan utang.

Dilansir dari The Economist, perubahan tersebut terlihat jelas pada salah satu negara Afrika yakni Zambia.

Sudah lebih dari puluhan tahun, dolar AS telah digunakan dalam berbagai transaksi di negara itu, mulai dari pembelian mobil hingga kontrak bisnis.

Besarnya penggunaan dolar membuat keputusan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) ikut memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari dan biaya sewa di Zambia. Ketika negara tersebut gagal membayar utang pada 2020 silam, penguatan dolar saat itu turut memperburuk tekanan terhadap perekonomiannya.

Zambia kini tengah berupaya untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

Pada Oktober 2025, Zambia menjadi negara pertama di Afrika yang menerima pembayaran royalti pertambangan dan pajak menggunakan yuan.

Kebijakan tersebut memperlancar transaksi keuangan dengan China, yang memang tercatat sebagai pembeli terbesar tembaga di Zambia sekaligus kreditur terbesar negara itu. Penggunaan yuan juga membantu Zambia mengurangi kebutuhan terhadap dolar.

Sejak Desember 2025, Bank of Zambia juga mewajibkan transaksi di dalam negeri menggunakan mata uang lokal, yakni kwacha. Bagi yang melanggar aturan tersebut dapat dikenai sanksi, mulai dari denda, hukuman penjara hingga dua tahun, atau keduanya.

Kebijakan Zambia telah menunjukkan perubahan yang mulai berlangsung di berbagai negara Afrika. Dolar memang masih mendominasi karena sekitar 70% utang luar negeri pemerintah di benua tersebut menggunakan mata uang AS. Dolar juga masih banyak dipakai dalam transaksi lintas negara.

Namun, negara-negara Afrika secara bertahap mulai mencari pilihan lain.

ZambiaZambia Foto: The Economist

Yuan Makin Banyak Digunakan

Yuan menjadi salah satu mata uang yang seperti mendapatkan "durian runtuh" dari perubahan itu. Mesir, Nigeria, dan Afrika Selatan telah menyepakati kerja sama pertukaran mata uang dengan China seiring meningkatnya perdagangan yang dibayar menggunakan yuan.

Kenya juga bahkan telah mengubah sebagian utangnya yang sebelumnya menggunakan greenback menjadi yuan. Langkah itu berpotensi menghemat biaya bunga hingga US$215 juta per tahun, atau setara hampir seperlima pembayaran utang Kenya kepada China pada 2025.

Saat ini, sekitar dua pertiga dari total utang Kenya kepada China telah menggunakan yuan. Ethiopia dan Mozambik juga sedang membahas langkah serupa.

Sejumlah bank pun mulai menyiapkan fasilitas yang mendukung transaksi dalam mata uang China. Pada September 2025, Standard Bank menjadi bank pertama di Afrika yang memproses transaksi melalui sistem pembayaran lintas negara China atau Cross-Border Interbank Payment System.

Standard Bank merupakan bank terbesar di Afrika berdasarkan jumlah aset dan sebagian sahamnya dimiliki oleh Industrial and Commercial Bank of China, salah satu bank milik pemerintah China. Sistem tersebut memungkinkan perusahaan melakukan pembayaran langsung menggunakan yuan.

Absa, salah satu bank terbesar di Afrika Selatan, serta Ecobank yang beroperasi di lebih dari 30 negara Afrika juga tengah menyiapkan layanan pembayaran langsung dalam yuan.

Jumlah transaksi lintas negara menggunakan yuan memang masih jauh lebih kecil dibandingkan dolar. Namun, volumenya meningkat lebih dari empat kali lipat sepanjang 2020 hingga 2024, berdasarkan data resmi terbaru yang tersedia.

Afrika Juga Dorong Mata Uang Lokal

Pemerintah Afrika tidak ingin sekadar mengganti ketergantungan dari satu mata uang asing ke mata uang asing lainnya. Karena itu, mereka juga berusaha meningkatkan penggunaan mata uang masing-masing, baik untuk transaksi domestik maupun perdagangan antarnegara Afrika.

Pada 2022, African Export-Import Bank bersama Uni Afrika meluncurkan Pan-African Payment and Settlement System. Platform tersebut memungkinkan bank menyelesaikan transaksi perdagangan antarnegara Afrika menggunakan mata uang lokal.

Lebih dari 160 bank komersial dan 22 bank sentral telah bergabung dalam sistem tersebut. Dalam jangka panjang, penggunaan mata uang lokal diperkirakan dapat menghemat biaya perbankan dan pertukaran mata uang bagi dunia usaha hingga sekitar US$5 miliar per tahun.

Mengurangi Dolar Bukan Tanpa Biaya

Peralihan dari dolar tetap membawa tantangan bagi perusahaan-perusahaan Afrika yang telah lama menggunakan mata uang tersebut.

Jibran Qureishi dari Standard Bank mengatakan proses penyesuaian dapat menimbulkan biaya besar bagi dunia usaha. Di Zambia, kewajiban menggunakan kwacha membuat perusahaan harus mengubah kontrak yang sebelumnya ditulis dalam dolar atau kembali merundingkan perjanjian dengan pemasok.

Sejumlah perusahaan juga harus menanggung kerugian dari kontrak lama. Eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar kini harus lebih sering menukar mata uang untuk memenuhi kewajiban transaksi domestik dalam kwacha. Biaya tersebut dapat diteruskan kepada pelanggan melalui kenaikan harga.

Sektor konstruksi dan pertanian juga menghadapi tantangan serupa karena masih mengimpor bahan bakar dan peralatan. Sebelumnya, perusahaan dapat menggunakan dolar yang diterima dari kegiatan domestik untuk membayar impor. Kini, mereka harus menukar kwacha menjadi dolar dan menanggung biaya transaksi tambahan secara berulang.

Meski demikian, penguatan kwacha memberikan keuntungan bagi perusahaan pengimpor. Setelah mencatat kinerja kuat sepanjang 2025, kwacha kembali menguat sekitar 15% terhadap dolar pada 2026. Penguatan tersebut membuat biaya pembelian barang dari luar negeri menjadi lebih murah jika dihitung menggunakan kwacha.

Permintaan terhadap kwacha juga meningkat setelah pemerintah Zambia menaikkan batas kepemilikan investor asing dalam penerbitan obligasi pemerintah tahunan dari 5% menjadi 23%. Investor kemudian banyak membeli obligasi pemerintah yang menggunakan kwacha.

Kebijakan tersebut tidak hanya mendorong penggunaan mata uang lokal, tetapi juga membantu pemerintah Zambia memperoleh pendanaan untuk membayar atau memperpanjang utangnya.

Dolar masih memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sistem keuangan dunia dan tetap menjadi mata uang utama di Afrika. Namun, perkembangan di Zambia dan sejumlah negara lainnya menunjukkan bahwa yuan serta mata uang lokal mulai memperoleh peran yang lebih besar.

Pangsa Yuan dalam Cadangan Devisa Global Naik

Meningkatnya penggunaan yuan di Afrika terjadi ketika porsi mata uang China dalam cadangan devisa global juga bergerak naik.

Berdasarkan laporan terbaru International Monetary Fund (IMF) dalam Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER), pangsa yuan meningkat menjadi 1,99% pada kuartal I-2026, dari 1,95% pada kuartal IV-2025.

Kenaikannya memang masih tipis. Porsi yuan juga masih jauh lebih kecil dibandingkan dolar AS yang mencapai 57,13% dan euro sebesar 20,03%. Bahkan, pangsa dolar turut meningkat dari 56,42% pada kuartal sebelumnya.

Meski demikian, kenaikan tersebut menunjukkan bahwa yuan perlahan memperoleh tempat dalam pengelolaan cadangan devisa global. Mata uang China juga semakin banyak digunakan dalam perdagangan lintas negara, pembayaran komoditas, hingga pengelolaan utang seperti yang mulai dilakukan sejumlah negara Afrika.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |