Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
19 March 2026 15:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran ikut membuat nama drone Iran kembali menjadi perhatian.
Di tengah eskalasi konflik yang terus memanas sejak 28 Februari 2026, Teheran tidak hanya membalas dengan misil, tetapi juga mengandalkan drone dalam jumlah besar. Sejak perang pecah, Iran dilaporkan telah menembakkan ratusan misil dan lebih dari 1.000 drone ke Israel serta negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS.
Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah Shahed-136, yakni drone serang satu arah yang diterbangkan menuju sasaran lalu meledak saat menghantam target.
Drone ini bukan dikenal karena teknologinya paling rumit, melainkan karena relatif murah, bisa diproduksi massal, dan dapat diluncurkan dalam jumlah besar sekaligus.
Strategi Iran pun lebih menekankan volume serangan ketimbang presisi, dengan tujuan membanjiri pertahanan udara lawan. Satu unit Shahed diperkirakan hanya menelan biaya sekitar US$20.000 hingga US$50.000.
Sejalan dengan itu, AS kini juga mulai mengikuti jejak Iran dalam penggunaan Drone murah dalam peraeng. Washington mulai memakai FLM-136 LUCAS, drone serang satu arah berbiaya rendah yang bentuk dan konsepnya dinilai mirip dengan Shahed milik Iran.
Kehadiran LUCAS menunjukkan bahwa AS juga mulai melihat pentingnya drone murah yang bisa diproduksi lebih cepat dan digunakan secara massal, terutama ketika perang modern makin menuntut senjata yang efektif tetapi tidak terlalu membebani biaya.
Foto: Reuters
Lucas vs Shaded
Jadi Ancaman Besar bagi AS
Yang membuat drone Iran menjadi ancaman serius bagi AS dan sekutunya bukan hanya jumlahnya, tetapi juga ketimpangan biaya antara menyerang dan bertahan. Saat Iran bisa meluncurkan drone murah dalam jumlah besar, AS dan sekutunya sering kali harus membalas dengan sistem pencegat yang nilainya jutaan dolar per tembakan.
Contoh paling jelas adalah interceptor buatan AS yakni Patriot. Harga satu interceptor Patriot diperkirakan sekitar US$4 juta. Dengan dana sebesar itu, secara kasar bisa dibuat sekitar 115 drone murah jika memakai asumsi harga drone sekitar US$35.000 per unit.
Artinya, dari sisi biaya saja, Iran sudah berada dalam posisi yang jauh lebih efisien.
Foto: Sistem pertahanan rudal Patriot AS di pangkalan militer AS di Pyeongtaek, Korea Selatan, 10 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Sistem pertahanan rudal Patriot AS di pangkalan militer AS di Pyeongtaek, Korea Selatan, 10 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Selain Patriot, ada juga sistem THAAD yang dipakai untuk menghadapi ancaman udara. Harga satu interceptor THAAD diperkirakan berada di kisaran US$13 juta hingga US$15,5 juta per unit. Bukan hanya rudalnya yang mahal, satu baterai penuh untuk Patriot maupun THAAD juga bisa bernilai lebih dari US$1 miliar karena mencakup peluncur, radar, dan sistem komando.
Masalahnya, biaya pertahanan tidak berhenti di harga misil. Setiap upaya pencegatan juga membutuhkan kapal perang atau pangkalan udara, radar, bahan bakar, pemeliharaan, awak terlatih, sistem intelijen, hingga jaringan komando dan kendali.
Di Laut Merah, Angkatan Laut AS juga dilaporkan telah menghabiskan sekitar US$1 miliar atau lebih dalam amunisi sejak akhir 2023 untuk melindungi kapal-kapalnya dari drone dan misil murah milik Iran. Itu menunjukkan ancaman berbiaya rendah bisa memaksa negara besar mengeluarkan biaya pertahanan yang sangat mahal.
Ketimpangan inilah yang membuat Shahed dan drone sejenisnya menjadi ancaman.
Saat drone murah bisa terus diproduksi dan dikirim dalam jumlah besar, lawan dipaksa memakai sistem mahal berulang kali. Dalam jangka panjang, model seperti ini membuat pertahanan menjadi jauh lebih berat dari sisi ekonomi. Dalam pekan pertama konflik terbaru, Iran disebut meluncurkan lebih dari 1.000 drone dan diperkirakan punya kapasitas memproduksi sekitar 10.000 drone per bulan.
Teknologi Lain untuk Menangkis Drone Iran
Karena biaya memakai rudal pencegat konvensional sangat mahal, banyak negara kini mulai mencari cara yang lebih murah untuk menghadapi drone seperti Shahed. Teknologi yang dikembangkan pun beragam, mulai dari laser, sistem pengacau sinyal, hingga drone pencegat.
Salah satunya adalah HELIOS buatan Lockheed Martin yang dipasang di kapal perang Angkatan Laut AS. Nilai sistem ini sekitar US$150 juta, tetapi biaya per tembakannya hanya sekitar US$1 hingga US$10.
Ada juga LOCUST dari AeroVironment yang nilainya sekitar US$10 juta, dengan biaya tembakan sekitar US$3. Sementara dari Israel, ada Iron Beam, sistem laser berdaya tinggi dengan nilai puluhan juta dolar AS dan biaya per tembakan sekitar US$2 hingga US$3,5.
Selain itu, ada Drone Dome dengan nilai sekitar US$3,3 juta, lalu DroneHunter sekitar US$100.000, serta Coyote Block 3 di kisaran US$100.000 hingga US$200.000.
Meski terdengar menjanjikan, teknologi-teknologi ini belum sepenuhnya matang dan belum dipakai luas. Sebagian masih memiliki keterbatasan dari sisi jangkauan, daya, cuaca, hingga skala penggunaan di medan perang.
Karena itu, banyak militer hingga kini masih mengandalkan sistem pertahanan udara lama seperti Patriot dan THAAD untuk melindungi kapal, pangkalan, dan kota dari serangan drone.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi AS dan sekutunya bukan hanya menjatuhkan drone Iran, tetapi juga melakukannya dengan biaya yang masuk akal. Selama drone murah seperti Shahed bisa diproduksi massal, sementara pertahanannya masih bergantung pada sistem pencegat bernilai jutaan dolar, ancaman drone Iran akan tetap sulit diabaikan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































