Perang Iran Ubah Strategi Perang AS, Era Rudal Mahal Mulai Berakhir

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontraktor pertahanan besar Amerika Serikat (AS)  mulai berlomba memproduksi rudal pencegat yang lebih murah dan lebih cepat. AS harus berpacu dengan waktu dan biaya karena perang Iran menguras rudal pencegat Patriot yang menjadi senjata penting pertahanan udara AS.

Perusahaan raksasa pertahanan AS juga mulai menggandeng perusahaan-perusahaan kecil untuk menawarkan alternatif dari rudal "premium" yang selama ini dikenal mahal, kompleks, dan membutuhkan waktu lama untuk diproduksi. Harga rudal jenis ini bahkan bisa mencapai lebih dari US$4 juta per unit atau sekitar Rp 72 miliar per unit (US$1 = Rp 18.000).

Boeing, Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Raytheon milik RTX memaparkan strategi mereka dalam Space and Missile Defense Symposium di Huntsville, Alabama baru-baru ini.

"Kami ingin mengubah pendekatan terhadap sejumlah produk," kata Jim Bryan, Executive Director for Integrated Air and Missile Defense Boeing, dikutip dari Reuters.

Menurutnya, produk-produk canggih memang memiliki kemampuan tinggi, tetapi konsekuensinya adalah biaya yang mahal. Karena itu, Boeing kini berupaya menghadirkan rudal yang lebih terjangkau dan dapat diproduksi dalam jumlah besar.

Rudal Mahal vs Drone Murah

Selama puluhan tahun, industri pertahanan AS terus menambahkan teknologi canggih ke rudal, mulai dari sensor pencari target hingga teknologi propulsi.

Kemampuan tersebut memang meningkatkan efektivitas rudal dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks. Namun, konsekuensinya adalah waktu produksi yang panjang dan biaya yang sangat mahal.

Masalahnya, rudal bernilai jutaan dolar tersebut harus menghadapi drone serang sekali pakai yang jauh lebih murah.

Drone Shahed yang digunakan Iran dan Rusia, misalnya, dapat menelan biaya sekitar US$30.000 per unit.

Pertahanan udara Ukraina mencegat pesawat nirawak Shahed di udara selama serangan udara Rusia di ibu kota Kyiv, Ukraina, Sabtu, 7 September 2024. (Foto AP/Evgeniy Maloletka)Pertahanan udara Ukraina mencegat pesawat nirawak Shahed di udara selama serangan udara Rusia di ibu kota Kyiv, Ukraina, Sabtu, 7 September 2024. (Foto AP/Evgeniy Maloletka) Foto: AP/Evgeniy Maloletka

Kesenjangan biaya inilah yang kini menjadi masalah besar bagi militer AS.

Presiden Donald Trump sebelumnya menepis kekhawatiran mengenai menipisnya stok amunisi AS selama perang dengan Iran. Namun, pada saat yang sama, Pentagon telah meminta Kongres menyediakan pendanaan darurat untuk mengisi kembali berbagai persenjataan.

Sebuah rudal standar ditembakkan dari sistem rudal permukaan-ke-udara Patriot PAC-2 selama latihan militer di Pingtung, Taiwan, Selasa (20/8/2024). (REUTERS)Sebuah rudal standar ditembakkan dari sistem rudal permukaan-ke-udara Patriot PAC-2 selama latihan militer di Pingtung, Taiwan, Selasa (20/8/2024). (REUTERS) Foto: Sebuah rudal standar ditembakkan dari sistem rudal permukaan-ke-udara Patriot PAC-2 selama latihan militer di Pingtung, Taiwan, Selasa (20/8/2024). (REUTERS)

Pentagon Dorong Rudal Murah

Pentagon kini juga membuka ruang bagi perusahaan-perusahaan baru di industri pertahanan untuk mengembangkan rudal pencegat dengan biaya jauh lebih rendah.

Dalam beberapa bulan terakhir, Departemen Pertahanan AS memberikan kontrak kepada sejumlah perusahaan kecil seperti Castelion, Anduril Industries, CoAspire, dan Zone 5.

Brigjen RJ Mikesh, pejabat pengadaan senjata Angkatan Darat AS, mengatakan tidak semua target membutuhkan sistem pertahanan paling canggih dan mahal.

"Ini mungkin menjadi salah satu masalah yang menentukan dalam perang modern," ujarnya.

Boeing Pangkas Biaya Rudal

Boeing tengah mengembangkan teknologi pencari target atau seeker berbiaya sangat rendah.

Komponen tersebut biasanya menyumbang hampir 30% dari total biaya rudal. Boeing ingin menurunkannya menjadi sekitar 10% dengan menggunakan komponen berstandar komersial.

Teknologi tersebut telah diuji melalui penerbangan pada badan roket dan pesawat. Boeing menargetkan uji coba pencegatan pada tahun depan.

Lockheed Martin, produsen sistem pertahanan udara Patriot, juga mengembangkan versi rudal pencegat yang lebih murah.

Produk bernama Patriot Advanced Capability-3 Adapted Capability Effector (PAC-3 ACE) diperkirakan berharga sekitar US$2 juta per unit.

Harga tersebut kurang dari separuh versi tercanggih PAC-3 Missile Segment Enhancement (MSE) yang mencapai sekitar US$4 juta.

Kemampuan ACE diperkirakan sekitar dua pertiga versi tercanggih, tergantung jenis ancaman dan jarak penerbangan.

Lockheed juga menyederhanakan sejumlah komponen dan mengganti teknologi yang membutuhkan hantaman langsung dengan metode yang memungkinkan rudal meledak cukup dekat dengan target untuk menghancurkannya.

Namun, rudal ACE belum bisa diproduksi dalam waktu dekat. Penerbangan perdana dijadwalkan pada awal 2028, sementara produksi diperkirakan baru siap sekitar 18 bulan setelahnya.

Artinya, meskipun lebih murah, rudal tersebut masih jauh lebih mahal dibandingkan drone seperti Shahed.

Northrop dan Raytheon Ikut Berburu Rudal Murah

Northrop Grumman memperkenalkan Raid Hunter, sistem pertahanan udara berbasis meriam berpemandu kaliber 50 mm.

Sistem ini dirancang menghadapi serangan campuran, termasuk drone dan rudal jelajah, dengan biaya yang lebih rendah.

Sementara itu, Raytheon mengembangkan teknologi propulsi yang lebih murah untuk rudal pencegat Standard Missile-3 (SM-3).

Raytheon juga memperluas penggunaan Coyote, rudal pencegat berbiaya lebih rendah yang dirancang untuk menghadapi drone dan saat ini telah digunakan di Timur Tengah.

Tujuan akhirnya adalah menekan biaya pencegatan agar militer AS tidak perlu menggunakan rudal Patriot bernilai jutaan dolar untuk menghancurkan drone musuh yang hanya berharga puluhan ribu dolar.

Perubahan ini menunjukkan satu persoalan besar dalam perang modern: bukan hanya siapa yang memiliki senjata paling canggih, tetapi siapa yang mampu memproduksi senjata cukup murah dan dalam jumlah cukup besar untuk memenangkan perang jangka panjang.

Perang Iran Kuras Pasokan Senjata AS
Perang Iran membuat persediaan rudal pertahanan Amerika Serikat (AS) tergerus. Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026,

AS terus menggunakan rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) untuk menghadapi serangan rudal Iran, dengan jumlah penggunaan jauh melampaui kapasitas produksi.

Dalam sekitar lima bulan, persediaan Patriot dan THAAD diperkirakan berkurang 1.700 unit, dari sekitar 2.782 unit sebelum perang menjadi hanya 993-1.105 unit per 27 Juli 2026 berdasarkan estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Persediaan Patriot menyusut hampir dua pertiga, dari 2.330 menjadi 759-827 unit, sementara THAAD turun dari 452 menjadi 234-278 unit.

Dengan harga sekitar US$5 juta untuk satu PAC-3 MSE dan hampir US$12 juta untuk satu THAAD, biaya untuk mengganti rudal yang telah digunakan diperkirakan mencapai sekitar US$10 miliar.

Masalahnya, pengisian kembali stok membutuhkan waktu karena kapasitas produksi masih terbatas. CSIS memperkirakan AS membutuhkan setidaknya tiga tahun untuk mengembalikan persediaan ke level sebelum perang.

AS memang telah memesan 3.203 Patriot dan 857 THAAD, tetapi pengiriman baru diperkirakan dimulai pada 2029. Kondisi ini berpotensi menciptakan celah dalam pertahanan AS dan memaksa Washington lebih selektif dalam menghadapi serangan berikutnya, terutama jika terjadi konflik besar di kawasan lain sebelum persediaan rudal pulih.

(mae/mae)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |