Perang Iran Kuras Pasokan Senjata AS, 1.700 Rudal Patriot-THAAD Ludes

4 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

13 August 2026 20:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran membuat tergerusnya persediaan rudal pertahanan Amerika Serikat (AS).

Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, AS terus menggunakan rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) untuk menghadapi rentetan serangan rudal Iran. Jumlah yang digunakan bahkan jauh lebih banyak dibandingkan kapasitas produksinya. 

Oleh sebab itu, hanya dalam waktu sekitar lima bulan, persediaan Patriot dan THAAD milik AS diperkirakan telah berkurang sekitar 1.700 unit.

Sebelum perang, AS diperkirakan memiliki sekitar 2.782 unit rudal Patriot dan THAAD. Namun, berdasarkan angka perkiraan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 27 Juli 2026, jumlahnya hanya tersisa sekitar 993 hingga 1.105 rudal.

Patriot Menyusut Hampir Dua Pertiga

Rudal Patriot menyumbang sebagian besar penurunan persediaan rudal pertahanan milik Negeri Paman Sam. Sebelum perang, AS diperkirakan memiliki 2.330 rudal Patriot. 

Jumlahnya kemudian turun menjadi hanya 759-827 unit. 

Dengan demikian, AS diperkirakan sudah menggunakan sekitar 1.503 hingga 1.571 rudal patriot atau hampir dua pertiga dari persediaan yang dimiliki sebelum perang. 

Adapun, persediaan THAAD turun dari sekitar 452 menjadi 234-278 unit. Penurunannya mencapai 174-218 rudal atau sekitar 38%-48% dari jumlah awal. Jika dijumlah maka jumlah rudal patriot dan THAAD yang sudah terkuras sekitar 1677- 1789.

Rudal Patriot sendiri digunakan untuk menghadapi ancaman pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik. Adapun, varian terbaru yang digunakan AS adalah Patriot Advanced Capability-3 Missile Segment Enhancement atau PAC-3 MSE.

Sementara itu, THAAD dirancang khusus untuk menghancurkan rudal balistik pada jarak dan ketinggian yang lebih jauh dibandingkan rudal Patriot. Kemampuannya tersebut membuat harga satu rudal THAAD lebih dari dua kali lipat biaya rudal Patriot.

Berdasarkan dokumen pengadaan Angkatan Darat AS untuk tahun fiskal 2027, satu PAC-3 MSE berharga sekitar US$5 juta, sedangkan satu rudal THAAD mendekati US$12 juta.

Dengan patokan harga tersebut, biaya untuk mengganti seluruh Patriot dan THAAD yang telah digunakan selama perang Iran diperkirakan mencapai sekitar US$10 miliar.

Butuh Setidaknya Tiga Tahun untuk Pulih

AS memang telah menyiapkan anggaran besar untuk membeli rudal baru. Namun, persediaannya tidak bisa langsung kembali seperti sebelum perang karena proses pembuatan Patriot dan THAAD membutuhkan waktu panjang, mulai dari pengadaan komponen, perakitan, hingga pengujian.

CSIS memperkirakan AS membutuhkan waktu setidaknya tiga tahun untuk mengembalikan persediaan kedua rudal tersebut ke posisi sebelum perang Iran.

Untuk mengejar kekurangan tersebut, AS mengajukan pembelian 3.203 rudal Patriot dalam anggaran tahun fiskal 2027. Meski jumlahnya besar, rudal dari pesanan baru itu diperkirakan baru mulai dikirim pada Mei 2029.

Hal serupa terjadi pada THAAD. AS memesan 857 rudal, tetapi pengirimannya baru diperkirakan dimulai pada pertengahan 2029. Seluruh THAAD yang digunakan selama perang Iran diproyeksikan baru dapat tergantikan pada akhir tahun tersebut.

Salah satu kendalanya adalah kapasitas produksi yang masih terbatas. Produksi PAC-3 MSE, rudal yang digunakan dalam sistem Patriot, saat ini hanya sekitar 650 unit per tahun. Dari jumlah itu, sekitar separuhnya dikirim untuk militer AS, sedangkan sisanya untuk negara sekutu dan mitra.

Lockheed Martin berencana meningkatkan kapasitas produksi Patriot menjadi sekitar 2.000 rudal per tahun. Produksi THAAD juga akan dinaikkan dari 96 menjadi 400 rudal per tahun.

Washington turut menyiapkan dana besar untuk mempercepat pengisian kembali persediaan senjatanya. Anggaran pertahanan tahun fiskal 2027 mencakup permintaan sekitar US$95 miliar untuk amunisi, ditambah US$21 miliar melalui anggaran tambahan perang.

Muncul Celah Pada Pertahanan AS

Persediaan yang menipis dapat memaksa AS dan sekutunya lebih selektif dalam menghadapi serangan berikutnya. Mereka berpotensi mengurangi jumlah rudal yang ditembakkan untuk setiap sasaran atau hanya melindungi target yang dianggap paling penting.

CSIS menilai belum tersedia pengganti yang sebanding dengan Patriot dan THAAD untuk menghadapi rudal balistik. Rudal Standard Missile yang diluncurkan dari kapal perang memang memiliki kemampuan serupa, tetapi posisi kapal AS sering kali terlalu jauh dari lokasi serangan.

Kondisi tersebut juga memunculkan risiko bagi kesiapan militer AS jika konflik besar terjadi di wilayah lain, khususnya Pasifik Barat, sebelum persediaan rudalnya kembali pulih.

Washington masih memiliki kemampuan untuk melanjutkan operasi di Timur Tengah. Namun, setiap Patriot dan THAAD yang ditembakkan kini memperpanjang waktu yang diperlukan AS untuk mengembalikan kekuatan pertahanannya ke posisi sebelum perang.

Dalam beberapa tahun mendatang, persoalan utama AS bukan hanya menyediakan anggaran, tetapi mempercepat produksi rudal yang tidak dapat ditingkatkan dalam waktu singkat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |