Jakarta, CNBC Indonesia Krisis kelangkaan chip memori global (NAND dan DRAM) yang kian parah turut menekan industri komputer. Kendati demikian, raksasa komputer asal China, Lenovo, justru berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan signifikan.
Meski sempat memperingatkan adanya hambatan pasokan dan terpaksa menaikkan harga produk demi meredam lonjakan biaya komponen, Lenovo terbukti tetap tangguh di tengah krisis chip.
Ketika para pesaingnya asal AS (seperti Dell, HPE, dan Super Micro) mengerek harga jual produk hingga 30% akibat mahalnya chip memori, Lenovo sukses memanfaatkan perpaduan strategi penyesuaian harga dan tren perangkat keras AI (AI hardware).
Hasilnya, pendapatan kuartalan Lenovo melonjak 43% menjadi US$26,94 miliar pada kuartal I (periode hingga 30 Juni). Capaian itu melampaui proyeksi analis sebesar US$22,3 miliar, sekaligus menjadi pertumbuhan tertinggi perusahaan dalam lima tahun terakhir. Imbasnya, saham Lenovo sempat melonjak hingga 17% dan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high).
Sorotan Utama Kinerja Lenovo
-
Bisnis AI Melonjak: Pendapatan berbasis AI tumbuh 60% (YoY) menjadi US$9,3 miliar (menyumbang 35% dari total pendapatan). Pipeline server AI juga melonjak 157% (QoQ) mencapai US$54,0 miliar.
-
Divisi PC & Perangkat Tetap Kuat: Divisi PC, tablet, dan smartphone menyumbang 64% dari total pendapatan dengan kenaikan omzet 27% YoY.
-
Laba Disesuaikan Melonjak: Adjusted net income (di luar beban non-kas) naik lebih dari dua kali lipat menjadi US$1,075 miliar.
-
Catatan Kerugian Akuntansi: Secara pembukuan resmi, Lenovo mencatat rugi bersih US$609 juta akibat beban akuntansi non-kas (fair value loss) sebesar US$1,7 miliar dari penilaian ulang waran terbitan 2025.
Menurut data Counterpoint Research, pengiriman PC global pada kuartal II 2026 sempat turun 2% (YoY) menjadi 16,6 juta unit akibat melambungnya biaya chip memori. Meskipun pasar dunia terkoreksi, Lenovo terbukti paling tangguh dan kokoh mempertahankan posisinya sebagai raja komputer dunia dengan pangsa pasar (market share) sebesar 25,6%.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
















































