Jakarta, CNBC Indonesia - Investigasi terbaru mengungkapkan pola yang mengkhawatirkan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, di mana para pejabat tinggi imigrasi Amerika Serikat berulang kali memberikan pernyataan yang bertentangan dengan bukti lapangan setelah terjadinya bentrokan kekerasan yang melibatkan agen federal.
Laporan dari Reuters menunjukkan bahwa pejabat Trump dengan cepat melabeli korban penembakan oleh agen-termasuk dua warga negara AS di Minneapolis bulan ini-sebagai agresor untuk membenarkan tindakan tersebut. Namun, rekaman video dan bukti lainnya muncul tak lama kemudian dengan narasi yang bertolak belakang, memicu keraguan publik atas kredibilitas pejabat federal.
"Mereka mencoba mengendalikan narasi sejak awal, dan mereka tampaknya tidak peduli ketika mereka terbukti salah," kata David Lapan, mantan sekretaris pers Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) pada tahun 2017, Rabu (28/1/2026).
Menanggapi kritik tersebut, juru bicara DHS Tricia McLaughlin menegaskan bahwa keselamatan petugas adalah prioritas utama di tengah tindakan keras Trump terhadap imigrasi.
"Kami telah melihat kampanye kekerasan yang sangat terkoordinasi terhadap penegak hukum kami," ujarnya, seraya menambahkan bahwa departemen bertujuan untuk "memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada rakyat Amerika."
Berikut adalah rincian enam insiden di Minneapolis, Chicago, dan Texas yang menunjukkan pola manipulasi informasi tersebut:
Kasus Alex Pretti: Pistol atau Ponsel?
Setelah Alex Pretti (37) ditembak mati oleh agen Patroli Perbatasan di Minneapolis, DHS menyatakan bahwa Pretti membawa senjata api dan mengklaim insiden itu "tampak seperti situasi di mana seorang individu ingin melakukan kerusakan maksimal dan membantai penegak hukum."
Pejabat DHS bahkan mengunggah foto senjata yang diduga milik korban di media sosial X, menyatakan, "Para petugas mencoba melucuti senjata tersangka, tetapi tersangka bersenjata itu melawan dengan keras." Ajudan Gedung Putih, Stephen Miller, bahkan menjuluki Pretti sebagai "teroris domestik" dan "calon pembunuh."
Namun, video yang diverifikasi menunjukkan Pretti sebenarnya memegang ponsel, bukan senjata, saat dijatuhkan ke tanah. Video juga membuktikan agen telah mengambil pistol milik Pretti-yang memiliki izin resmi-sebelum tembakan pertama dilepaskan. Karoline Leavitt, sekretaris pers Gedung Putih, hanya berkomentar bahwa Trump "ingin membiarkan penyelidikan berlanjut dan membiarkan fakta yang memandu."
Penembakan Renee Good dan Klaim 'Kendaraan Sebagai Senjata'
Dalam kasus lain di Minneapolis pada 7 Januari, DHS menggambarkan Renee Good (37) sebagai "perusuh yang kejam" yang telah "mempersenjatai kendaraannya, mencoba menabrak petugas penegak hukum kami dalam upaya untuk membunuh mereka-sebuah tindakan teroris domestik." Trump sendiri menyatakan bahwa Good "melindas petugas ICE," sehingga petugas menembak untuk membela diri.
Namun, rekaman video dari ponsel petugas justru menunjukkan fakta berbeda. Roda kendaraan Good terlihat berbelok menjauh dari petugas saat ia mencoba melewati blokade. Petugas melepaskan tiga tembakan fatal saat mobil tersebut melintas, bukan saat mobil tersebut mengarah langsung ke petugas.
Salah Sasaran di Kasus Julio Sosa-Celis
DHS awalnya mengklaim melakukan "penghentian lalu lintas yang ditargetkan" terhadap imigran Venezuela, Julio Sosa-Celis. Mereka menuduh Sosa-Celis menyerang petugas dengan sekop salju dan gagang sapu sehingga petugas terpaksa melepaskan "tembakan defensif untuk mempertahankan nyawanya."
Dokumen pengadilan FBI kemudian mengungkapkan bahwa agen ICE sebenarnya mengejar orang yang salah setelah memindai plat nomor yang keliru. Selain itu, dokumen tersebut menyatakan bahwa para tersangka sebenarnya sudah menjatuhkan sapu dan sekop mereka dan sedang melarikan diri saat petugas menembak. Pengacara Sosa-Celis, Robin Wolpert, menyatakan kliennya ditembak dari jarak 10 kaki saat melarikan diri, membuktikan petugas "tidak dalam bahaya langsung."
Kematian Misterius di Pusat Penahanan Texas
Saat imigran Kuba Geraldo Lunas Campos meninggal di pusat penahanan Texas pada 3 Januari, ICE awalnya hanya menyebut korban mengalami "gangguan medis." Setelah laporan media menyebutkan adanya dugaan pencekikan oleh penjaga, DHS mengubah narasi dengan mengklaim Lunas mencoba bunuh diri dan melawan petugas.
Namun, pemeriksaan medis resmi akhirnya memutuskan bahwa kematian tersebut adalah pembunuhan (homicide) akibat asfiksia atau tekanan pada leher dan dada. Ini merupakan satu dari enam kematian di tahanan ICE sepanjang Januari 2026.
Teguran Hakim Terhadap "Kebohongan" Pejabat
Seorang hakim federal di Chicago, Sara Ellis, memberikan teguran keras atas penggunaan kekerasan oleh agen imigrasi. Ia menyatakan bahwa "representasi yang salah secara meluas menyebabkan keraguan atas semua yang dikatakan terdakwa (pemerintah) dalam karakterisasi mereka."
Dalam satu insiden, seorang komandan Patroli Perbatasan, GregoryBovino, mengaku kepalanya dilempar batu oleh perusuh. Namun di pengadilan, ia mengakui bahwa batu tersebut "hampir mengenai saya," bukan benar-benar mengenainya. Hakim Ellis menyimpulkan bahwa Bovino "berbohong berkali-kali" untuk membenarkan penggunaan gas air mata.
Kasus Marimar Martinez yang Dibatalkan
DHS menuduh warga negara AS Marimar Martinez mencoba menabrak petugas dengan kendaraan dan "bersenjata senjata semi-otomatis." Martinez ditembak lima kali oleh agen dan kemudian didakwa.
Namun, pengacara Martinez membuktikan melalui rekaman bodycam bahwa justru agenlah yang menabrak kendaraan Martinez terlebih dahulu. Senjata milik Martinez tetap berada di dalam tasnya dan tidak pernah diacungkan. Menghadapi bukti baru ini, jaksa pemerintah akhirnya meminta pengadilan untuk membatalkan seluruh dakwaan terhadap Martinez pada November lalu.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]


















































