Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen mobil Jepang dinilai rentan terhadap dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski Toyota, Honda, dan Nissan mendapatkan keuntungan dalam laporan keuangan kuartal terbaru mereka karena pelemahan yen saat ini, kondisi eksternal dilaporkan belum tentu mendukung. Ke depan.
Mengutip CNBC International Selasa (18/7/2026), analis menilai menilai konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dapat menimbulkan masalah. Analis ekuitas senior di Morningstar, Vincent Sun, memperingatkan potensi gangguan lebih lanjut pada rantai pasok serta kenaikan biaya.
"Selat Hormuz dan Laut Merah merupakan jalur pelayaran yang sangat penting bagi produsen mobil Jepang. Karena mobil-mobil tersebut bergantung pada aluminium serta bahan petrokimia seperti nafta untuk memproduksi kendaraan," katanya.
Hal sama juga dikatakan analis senior di Bernstein, Masahiro Akita. Menurutnya hambatan paling signifikan terhadap laba produsen mobil adalah lonjakan biaya bahan baku, yang semakin parah akibat konflik Timur Tengah yang masih berlangsung.
"Inflasi pada berbagai komponen utama, termasuk nafta dan resin yang terkait dengan harga minyak, cip memori, serta logam industri seperti aluminium, tembaga, dan baja, memberikan dampak negatif yang luas terhadap profitabilitas industri," tambahnya.
Sementara itu, pelemahan yen yang saat ini menjadi keuntungan ternyata juga menimbulkan kekhawatiran. Perlu diketahui, sebelumnya Departemen Keuangan AS dan Kementerian Keuangan Jepang berkoordinasi melakukan intervensi pembelian yen pada awal Agustus, setelah yen jatuh ke level terendah dalam 40 tahun, menembus 163 yen per dolar AS.
"Jika intervensi pemerintah bertujuan memperkuat yen, hal ini akan berdampak negatif bagi produsen mobil Jepang," tambah Sun.
Penguatan yen akan memaksa produsen mobil memilih antara menaikkan harga kendaraan di pasar luar negeri, atau menerima tekanan terhadap laba operasional akibat turunnya nilai keuntungan yang diperoleh dari luar negeri. Jika menaikkan harga, hal tersebut akan berpotensi menyebabkan kehilangan pangsa pasar.
"Perubahan 1% pada yen secara umum memengaruhi laba operasional produsen mobil Jepang sekitar 2%," Akita meski menekankan sensitivitasnya berbeda-beda antarprodusen dan dapat mencapai sekitar 4% untuk beberapa perusahaan.
Sementara itu, ketegangan AS-Iran masih terus berlangsung. Kemarin Presiden AS Donald Trump mengancam akan membombardir Oman.
Hal ini disebutkan Trump jika "Washington merasa negara tersebut menghalangi upayanya dalam mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran". Mengutip The Guardian, ancaman ini disampaikan Trump saat Iran dan Oman sedang melakukan sejumlah perundingan terkait Selat Hormuz.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

















































