Peneliti Dunia Kumpul Bahas Masa Depan Kesehatan Indonesia

10 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia untuk pertama kalinya memimpin komisi pada jurnal kesehatan global bergengsi The Lancet. Lewat Komisi The Lancet Regional Health-Western Pacific: Reimagining Healthcare in Indonesia for 2045, para peneliti, pemerintah, dan pemangku kepentingan kesehatan akan merancang arah sistem kesehatan nasional menuju usia 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Peluncuran komisi tersebut menjadi tonggak penting karena merupakan salah satu dari sedikit komisi tingkat negara yang pernah dibentuk dalam sejarah keluarga jurnal The Lancet. Komisi ini juga menjadi yang pertama dipimpin dan diketuai bersama oleh peneliti Indonesia.

Editor in Chief The Lancet Regional Health-Western Pacific, Dr. Jie Cai mengatakan, Indonesia telah mencatat kemajuan besar dalam kesehatan masyarakat berkat pertumbuhan ekonomi dan reformasi kesehatan. Namun, berbagai tantangan masih membayangi, mulai dari meningkatnya penyakit tidak menular, kekurangan tenaga kesehatan, distribusi layanan yang belum merata, hingga ancaman bencana dan kedaruratan kesehatan.

"Bagaimana kita dapat menyesuaikan sistem kesehatan agar mampu memberikan layanan berkualitas dan adil bagi seluruh masyarakat Indonesia di tengah lanskap kesehatan yang berubah cepat," kata Jie Cai dalam peluncuran komisi tersebut di Kemenkes Jakarta, Senin (22/6/2026).

Ia mengatakan, komisi ini akan mengumpulkan bukti ilmiah dan menghasilkan rekomendasi berbasis data yang dapat menjadi panduan kebijakan menuju Indonesia yang lebih sehat dan setara pada 2045.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pembenahan sistem kesehatan menjadi salah satu syarat utama agar Indonesia dapat mencapai target sebagai negara berpendapatan tinggi pada 2045. Budi bilang, Indonesia tengah memasuki periode penting bonus demografi yang akan menentukan keberhasilan menuju Indonesia Emas.

Budi mengingatkan Indonesia hanya memiliki waktu sekitar satu dekade sebelum populasi mulai menua. Jika kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Indonesia berisiko terjebak sebagai negara berpendapatan menengah dan gagal menjadi negara maju.

"Jika kita gagal dalam 5-10 tahun ke depan, itu adalah dosa terbesar kita kepada generasi mendatang," ujarnya.

Budi menilai, kekayaan sumber daya alam maupun pembangunan infrastruktur tidak akan cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Kunci utamanya adalah menciptakan masyarakat yang sehat dan cerdas sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan nasional di masa depan.

Sementara itu, Founding Co-Chair Komisi Lancet 2045, Sandersan Onie menyoroti paradoks yang selama ini terjadi di Indonesia. Menurutnya, banyak inovasi kesehatan di Tanah Air yang berhasil diterapkan, tetapi tidak terdokumentasi dan dipublikasikan secara luas dalam literatur ilmiah global.

"Indonesia telah melakukan banyak pekerjaan besar, tetapi sering kali tidak tercatat dan tidak terwakili dalam ruang bukti ilmiah global," ujarnya.

Ia berharap komisi ini dapat menjadi wadah agar pengalaman Indonesia tidak hanya bermanfaat bagi dalam negeri, tetapi juga menjadi referensi bagi dunia.

Komisi tersebut menargetkan terwujudnya sistem kesehatan yang mampu menjangkau kelompok paling rentan, termasuk masyarakat miskin, penduduk daerah terpencil, dan kelompok yang selama ini terpinggirkan. Akses layanan kesehatan yang berkualitas, bermartabat, dan sensitif terhadap budaya menjadi salah satu visi utama menuju Indonesia Emas 2045.

Untuk mencapai tujuan tersebut, komisi akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari penguatan layanan primer dan rumah sakit, kesiapsiagaan menghadapi bencana dan perubahan iklim, pemerataan tenaga kesehatan, pendidikan dokter spesialis, hingga perlindungan masyarakat dari beban biaya kesehatan yang dapat menyebabkan kemiskinan.

Lebih dari 25 peneliti Indonesia dari berbagai disiplin ilmu terlibat dalam penyusunan komisi ini. Mereka akan bekerja selama beberapa tahun ke depan untuk menghasilkan laporan komprehensif yang nantinya dipublikasikan di The Lancet.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |