Jakarta - Pemerintah memastikan ketersediaan hewan kurban untuk perayaan Idul Adha 1447 H aman. Pemerintah bahkan menyebut stok hewan kurban untuk Idul Adha 1447 mengalami surplus.
"Potensi ketersediaan hewan kurban tahun 2026 mencapai 3.246.790 ekor, sedangkan perkiraan kebutuhan untuk tahun 2026 sekitar 2.355.470 ekor. Terdapat surplus sekitar 891.320 ekor sehingga secara nasional kondisi atau ketersediaan hewan kurban aman, cukup, dan terkendali," kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian drh Agung Suganda saat jumpa pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Agung memerinci, untuk sapi ketersediaan mencapai 859.268 ekor dengan kebutuhan 791.452 ekor sehingga surplus 67.816 ekor. Untuk kerbau, ketersediaannya sebanyak 33.952 ekor dengan kebutuhan 12.914 ekor sehingga surplus 21.038 ekor.
"Untuk kambing ketersediaan 1,4 juta ekor, kebutuhannya 1,08 juta ekor, dan surplus 332.861 ekor. Untuk domba ketersediaan 935.690 ekor, kebutuhannya 466.086 ekor, sehingga surplus 469.604 ekor," ujarnya.
Dia juga memastikan bawah hewan hasil peternak ini sudah bisa dikurbankan dan memenuhi syarat sebagai hewan kurban. Di sisi lain, dia mengatakan kebutuhan hewan kurban tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya.
"Tentu ini adalah ternak-ternak yang bisa atau sudah memenuhi persyaratan sebagai hewan kurban. Proyeksi kebutuhan hewan kurban tahun 2026 meningkat sekitar 3,82% atau sebanyak 86.727 ekor dibandingkan dengan tahun 2025," jelas Agung.
Dia juga mengatakan, pemerintah terus melakukan pengaturan distribusi hewan kurban. Pengaturan ini dilakukan seperti dari daerah produksi dan daerah surplus ke daerah-daerah yang masih minus agar pasokan merata dan harga juga terkendali.
Pemerintah pun terus menjaga kesehatan hewan kurban. Agung menjelaskan, pada umumnya hewan kurban ini merupakan ternak atau hewan tabungan dari para peternak sehingga kesehatannya terjaga melalui program vaksinasi hingga pengawasan lalu lintas untuk kurban ini.
"Menjelang Idul Adha memang lalu lintas itu tinggi. Yang kita lakukan tentu pengawasan oleh dokter hewan dan petugas kesehatan hewan terhadap potensi penyebaran berbagai penyakit," tuturnya.
Saat ini, kata dia, penyakit hewan seperti penyakit mulut dan kuku atau PMK, Lumpy Skin Disease, Anthrax dan sejumlah penyakit hewan menular strategis lainnya masih ada. Namun, katanya, semua penyebaran penyakit tersebut kini sudah bisa terpantau lewat sistem informasi kesehatan hewan nasional terintegrasi.
"Pemerintah juga telah melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pengurus masjid, panitia hewan kurban tentang tata cara penanganan hewan yang baik sesuai kaidah kesehatan hewan, pemotongan hewan kurban, dan penanganan daging yang halal, aman, dan higienis," ungkapnya.
Kementan pun dalam meningkatkan pengawasan menyambut Idul Adha, akan menyebar 9.743 petugas untuk mengawasi semua hewan kurban dari sebelum hingga proses penyembelihan selesai dan terdistribusi ke masyarakat.
"Jadi biasanya mendekati nanti akan kita lepas dan tentu petugas ini terdiri dari petugas dari kementerian, baik Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dan seluruh UPT, kemudian perguruan tinggi, dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di provinsi, kabupaten, dan juga asosiasi profesi," ujar Agung.
"Jadi kami akan melepas, menjelang nanti hari raya Idul Kurban untuk melakukan pemantauan pelaksanaan penyediaan hewan kurban pada hari H nanti," pungkasnya.
Tonton juga video "Boleh Kurban Dulu Padahal Belum Akikah?"
(kuf/whn)


















































