Jakarta, CNBC Indonesia - Memiliki tubuh ideal menjadi idaman sebagian masyarakat. Di tengah maraknya tren diet ekstrem seperti keto, intermittent fasting, hingga diet karnivora, seorang dokter Onkologi lulusan Harvard justru mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada janji instan yang menyesatkan.
Ezekiel J. Emanuel, onkolog sekaligus pakar kebijakan kesehatan dunia, menyebut bahwa rahasia hidup lebih lama dan sehat bukan terletak pada pola makan rumit, melainkan pada kebiasaan sederhana yang bisa dijalani bertahun-tahun.
"Saya telah menghabiskan puluhan tahun meneliti apa yang benar-benar meningkatkan hasil kesehatan," ujarnya, mengutip CNBC Internasional, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, jawaban untuk hidup lebih lama sangat sederhana adalah asupan nutrisi yang baik. Hal itu tentang membangun kebiasaan yang dapat Anda pertahankan selama bertahun-tahun, bukan hanya dalam hitungan minggu. Konsultasi dengan dokter sebelum mengubah pola makan sangat dianjurkan karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda.
Berikut enam mitos nutrisi terbesar yang menurut Emanuel sebaiknya segera ditinggalkan.
1. Camilan Selalu Buruk
Banyak orang menganggap ngemil sebagai kebiasaan buruk. Padahal, masalahnya bukan pada camilannya, melainkan jenis makanan yang dikonsumsi.
Rata-rata orang dewasa mengonsumsi sekitar 500 kalori per hari dari makanan ringan ultra-proses seperti keripik, biskuit, dan kue kemasan. Makanan ini dirancang agar membuat orang terus makan tanpa sadar.
Sebaliknya, camilan sehat seperti buah, kacang, yogurt, hummus, dan sayuran justru membantu mengontrol rasa lapar dan menjaga kadar gula darah tetap stabil.
2. Kita Harus Makan Protein Lebih Banyak
Protein memang penting, tetapi kebanyakan orang sebenarnya sudah mendapat protein yang cukup dari makanan sehari-hari.
Kebutuhan protein rata-rata hanya sekitar 0,75-1 gram per kilogram berat badan. Artinya, bagi kebanyakan orang, makanan seperti ikan, telur, kacang-kacangan, dan yoghurt sudah mencukupi.
Emanuel juga mengingatkan bahaya suplemen protein. Banyak produk bubuk protein ditemukan mengandung logam berat seperti timbal. Hanya kelompok tertentu seperti lansia dan atlet yang benar-benar membutuhkan protein lebih tinggi.
3. Suplemen Serat Sama Baiknya dengan Makanan Asli
Hanya sekitar 7% orang dewasa yang memenuhi kebutuhan serat harian. Padahal, serat terbukti menurunkan risiko kanker usus, diabetes, dan penyakit jantung.
Diet tinggi serat dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal yang lebih rendah, penurunan tingkat diabetes tipe 2, dan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner sebesar 31% lebih rendah.
Namun, suplemen serat tidak bisa menggantikan makanan alami. Sebab, buah, sayur, kacang, dan biji-bijian mengandung berbagai jenis serat yang bekerja lebih efektif bagi kesehatan usus.
4. Susu Rendah Lemak Selalu Lebih Sehat
Anggapan bahwa susu rendah lemak selalu lebih baik ternyata tidak sepenuhnya benar.
Penelitian menunjukkan konsumsi susu full cream tidak berkaitan dengan kenaikan berat badan. Bahkan, anak-anak yang minum susu full-fat justru cenderung memiliki risiko obesitas lebih rendah dibanding yang minum susu rendah lemak.
Menurutnya, yang penting bukan lemaknya, melainkan apakah produk tersebut alami atau sudah diproses berlebihan.
5. Semua Lemak Itu Buruk
Selama puluhan tahun, lemak dianggap musuh utama kesehatan. Namun kini terbukti, justru lemak sehat sangat dibutuhkan tubuh.
Minyak zaitun, kacang-kacangan, alpukat, dan produk susu alami justru berhubungan dengan risiko penyakit yang lebih rendah. Bahkan, konsumsi setengah sendok makan minyak zaitun per hari dikaitkan dengan penurunan risiko kematian hingga 19%.
6. Olahraga Bisa Menghapus Dosa Makan
Banyak orang berpikir bisa "membakar" makanan tidak sehat lewat olahraga. Faktanya, olahraga memang baik untuk jantung, tidur, dan suasana hati, tetapi tidak cukup untuk mengimbangi pola makan buruk.
Berat badan dan metabolisme lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang dimakan dibanding seberapa keras seseorang berolahraga.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]


















































