Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman memastikan ketahanan pangan di Indonesia sangat kuat. Meski ada tekanan global akibat tensi geopolitik.
"Kita sangat kuat. Di saat harga pangan dunia naik, harga pupuk naik, maaf ini bukan bidang saya-harga BBM naik, Indonesia harga BBM subsidi tidak naik kan? Benar nggak? Yang kedua, harga pangan kita stabil kan?
"Baru tadi diumumkan oleh Pak Mendagri dan BPS. Bukan saya yang bilang, tadi diumumkan bahwa stabil. Penyumbang inflasi terbesar dulu beras. Stabil kan?," kata Amran dalam dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dengan tema "Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian", Senin (22/6/2026).
Di saat bersamaan, sambung dia, Indonesia memasok 10.000 ton beras untuk membantu warga Palestina. Sementara, Indonesia juga mengekspor pupuk ke negara lain, seperti Australia. Ketika pupuk dunia langka akibat efek domino perang di Timur Tengah.
"Artinya, Indonesia kuat. Karena kalau kita meyakini bahwa Indonesia kuat, itu hasilnya pasti baik. Tapi kalau kita tidak meyakini bahwa kita kuat, itu bisa rontok kita itu.
Ini sudah ditunjukkan. Banyak bersyukur deh. Kita harus bersyukur. Sumber daya alam kita melimpah," sambungnya.
Saat ini, ujarnya, juga antre sejumlah negara yang ingin mengimpor pupuk dari Indonesia. Di mana saat ini, Indonesia sedang surplus 1,5 juta ton.
Namun, ucapnya, ekspor akan dilakukan setelah kebutuhan di dalam negeri terjamin cukup.
Kesejahteraan Petani Jadi Prioritas
Amran pun menegaskan, Indonesia saat ini sudah swasembada pangan. Sebagaimana dideklarasikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 7 Januari 2026 lalu.
Selanjutnya, kata Amran, fokus ke depan adalah memprioritaskan langkah-langkah untuk menjaga swasembada pangan terus berlanjut. Termasuk, menjamin kesejahteraan petani.
Sebab, sambungnya, jika kesejahteraan petani tidak terjamin dan terus tergerus akan berdampak pada produksi pangan nasional. Efek terburuknya akan memicu kelaparan nasional, makan korban langsung 1-2 juta warga negara RI.
Karena itu, Amran memberi respons keras keluhan yang menyebut harga beras di Indonesia mahal.
"Petani itu 4 bulan mandi lumpur. Mereka hanya dapat Rp30.000. 30.000, 75.000. Pegawai tadi katakanlah pendapatannya 200.000 per hari. Mana yang paling rendah pendapatannya? Petani kan? Yang 300.000 kan" tukasnya.
"Nah dengan menjual, sekarang harga 13.000, ada 12.000, ada 14.000, ini pendapatannya petani 30.000. Mau diturunkan? Tega nggak? Dengan saudara yang menjadi benteng terakhir pertahanan pangan kita, itu diturunkan lagi pendapatannya dari Rp30.000 per hari jadi Rp20.000, tega nggak," tambah Amran.
Karena itu, sambung dia, harga beras saat ini sudah baik adanya.
Dia pun mengingatkan efek buruk jika selalu menuntut harga beras diturunkan.
"Orang tertentu selalu meneriakkan mahal, mahal, mahal, dia tidak melihat negara lain. Kenapa? Karena kalau ini mahal, orang tertentu ya, dianggap mahal, kita turunkan, petani berhenti tanam," ujar dia.
Petani, kata Amran, merupakan benteng akhir ketahanan pangan di Indonesia. Jadi, kesejahteraan petani harus dijaga terus dan berkelanjutan.
Ada sejumlah langkah yang jadi prioritas pemerintah Presiden Prabowo Subianto untuk menjamin dan memastikan kesejahteraan petani di Indonesia.
"Kita hilirisasi, seluruhnya kita hilirisasi. Kelapa kita hilirisasi, added valuenya 100 kali lipat. Ekspor kita Rp24.000 triliun. Kalau 100m Rp2.400 triliun. Itu perkalian enteng. Minyak, coconut milk kemudian dia menjadi coconut water untuk air kelapa, itu bisa 2.000 triliun juga. Dan kita sudah mulai bangun. Itulah yang diinginkan Bapak Presiden. Hilirisasi semua, sehingga added valuenya dirasakan petani Indonesia," katanya.
Belum lagi sejumlah program yang jadi penopang untuk mendorong penguatan kesejahteraan petani di Indonesia. Seperti program MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
"MBG adalah off-taker 160 juta petani. Produksi sayur, beras, ayam, telur, ini langsung ke MBG, kan? Kan ada di tiap-tiap desa. Kemudian, koperasi memotong supply chain. Delapan menjadi tiga. Dari petani langsung koperasi, koperasi langsung ke masyarakat. Itu artinya memperkuat petani, memperkuat daya beli masyarakat. Karena memperpendek rantai pasok," beber Amran.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99% dibandingkan April 2026. Kenaikan ini menunjukkan pendapatan yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya produksi maupun pengeluaran rumah tangga yang harus mereka tanggung.
Menanggapi capaian tersebut, Mentan Amran mengatakan kenaikan NTP menjadi bukti, berbagai program peningkatan produksi dan penguatan sektor pertanian yang dijalankan pemerintah mulai memberikan manfaat nyata bagi petani.
"Alhamdulillah, kenaikan NTP menjadi kabar baik bagi petani Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pendapatan petani meningkat dan hasil kerja keras mereka di lapangan semakin memberikan nilai tambah. kementan akan terus berupaya menjaga agar petani memperoleh keuntungan yang layak dari usaha taninya," kata Amran, dikutip dari keterangan di situs resmi Kementan, Senin (22/6/2026).
"Kita ingin petani semakin sejahtera. Karena itu fokus pemerintah tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan hasil produksi memiliki nilai ekonomi yang baik. Ketika produktivitas naik dan harga petani membaik, maka kesejahteraan petani akan meningkat," ujarnya.
Kementan, tegasnya, akan terus memperkuat program-program yang berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani. Di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika ekonomi global, sektor pertanian Indonesia terbukti tetap mampu tumbuh dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.
"Petani adalah pahlawan pangan bangsa. Tugas pemerintah adalah memastikan mereka mendapatkan keuntungan yang lebih baik, biaya produksi semakin efisien, dan usaha tani semakin menjanjikan. Kenaikan NTP ini harus kita jaga bersama agar manfaatnya semakin dirasakan oleh petani di seluruh Indonesia," kata Amran.
Mentan Jamin Ketahanan Pangan RI Kuat Hadapi Efek Perang Iran-AS Foto: Mentan Jamin Ketahanan Pangan RI Kuat Hadapi Efek Perang Iran-AS
(dce)
Addsource on Google

















































