Jakarta, CNBC Indonesia - Emas kembali menjadi sorotan utama di tengah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang kembali melakukan pelonggaran kuantitatif atau Quantitative Easing (QE).
Kebijakan yang identik dengan peningkatan jumlah uang beredar ini secara historis cenderung menekan nilai mata uang fiat dan membuat aset riil seperti emas menjadi lebih menarik sebagai pelindung nilai (hedging).
Seperti diketahui, emas dikenal sebagai aset safe haven. Logam mulia ini biasanya baru akan mengalami tekanan jual atau pelemahan signifikan apabila terjadi krisis likuiditas yang sangat dalam atau koreksi pasar yang ekstrem, di mana pelaku pasar terpaksa melikuidasi seluruh aset, termasuk emas, demi mendapatkan uang tunai.
Namun, dalam kondisi ketidakpastian yang bersifat inflatoir atau geopolitik, emas cenderung menjadi tujuan utama aliran dana.
Adapun 2025 menjadi tahun yang gemilang bagi logam mulia. Momen kejayaan emas bahkan diproyeksikan masih berlanjut pada 2026 dan diramal bisa menyentuh US$ 5000 per troy ons.
Gejolak geopolitik menjadi salah satu faktor berkilaunya emas. Setelah konflik panas di Timur Tengah pada 2025, emas memiliki "senjata" baru untuk terbang di awal tahun dari kisruh antara AS dan Venezuela.
Sementara sepanjang 2025 harga emas melonjak sekitar 64%. Harga sempat menyentuh rekor US$4.510 per ons pada malam Natal. Posisi tersebut terbang 72% dibandingkan akhir 2024, ketika emas masih berada di kisaran US$2.624 per ons. Selain karena pemangkasan suku bunga The Fed, emas juga terbang karena faktor geopolitik.
Kenaikan tersebut menjadi lonjakan tahunan terbesar bagi emas, melampaui reli 70% yang terjadi pada 1979.
Untuk itu, dalam menjawab peluang tersebut, CNBC Indonesia menggelar CNBC Indonesia Gold Outlook 2026 dengan tema "Meneropong Harga Emas di Tahun Kuda Api". Dalam acara ini, para narasumber akan membahas proyeksi pergerakan harga emas di tengah dinamika ekonomi global dan perubahan kebijakan moneter yang akan mewarnai tahun Kuda Api.
Dengan menghadirkan regulator sekaligus pelaku industri, acara akan mengulas berbagai faktor yang berpotensi mempengaruhi nilai emas, mulai dari fluktuasi inflasi, pergerakan suku bunga, hingga kondisi geopolitik internasional.
Melalui CNBC Indonesia Gold Outlook 2026, diharapkan memberikan wawasan mendalam bagi investor dan publik dalam menyikapi peluang dan risiko investasi emas di tengah gejolak pasar pada tahun yang simbolis ini.
Jadi jangan sampai ketinggalan, pantau siaran langsungnya di cnbcindonesia.com, CNBC Indonesia TV. Selain itu, acara juga akan Live di youtube CNBC Indonesia serta IG cnbcindonesia dan TikTok cnbcindonesia.
(bul/bul)
[Gambas:Video CNBC]


















































