Menbud Dukung Museum di Sumut Jadi Ruang Budaya Inklusif & Edukatif

2 hours ago 1

Jakarta -

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meninjau Gedung Juang 45 Medan dan Museum Perkebunan Indonesia dalam rangkaian kunjungan kerja ke Sumatera Utara. Agenda ini merupakan langkah Kementerian Kebudayaan untuk memperkuat museum sebagai ruang budaya yang inklusif, edukatif, dan terbuka bagi masyarakat.

Dalam kunjungannya, Fadli mengapresiasi upaya revitalisasi Gedung Juang 45 Medan. Adapun gedung ini merupakan bangunan yang menjadi saksi perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya pada masa pertempuran Medan Area tahun 1945-1949.

Fadli menilai peningkatan penyajian informasi dan tata ruang pamer dapat dilakukan kembali untuk menarik generasi muda untuk datang. "Ke depan kita tingkatkan lagi, terutama dari sisi lighting, tata pamer, dan pemanfaatan teknologi digital agar pengalaman pengunjung semakin imersif," ujar Fadli dalam keterangannya, Senin (9/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada kesempatan tersebut, Fadli juga menyoroti pentingnya koleksi numismatik yang dipamerkan di museum sebagai penanda sejarah perjalanan sebuah bangsa. Menurutnya, uang dan perangko merupakan simbol penting identitas negara, terutama pada masa awal kemerdekaan.

Fadli mengungkapkan keberadaan koleksi tersebut tidak hanya menunjukkan dinamika ekonomi masa lalu. Adapun koleksi tersebut juga menggambarkan proses perjumpaan budaya yang melibatkan berbagai komunitas, termasuk pekerja perkebunan yang didatangkan dari Jawa.

Lebih lanjut, Fadli mengapresiasi Museum Perkebunan Indonesia yang menyajikan narasi terkait kekayaan komoditas perkebunan Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Museum ini secara spesifik mengangkat sejarah perkebunan dan pengetahuan tentang tanaman dan produk perkebunan.

Fadli menambahkan, jejak sejarah tersebut menunjukkan bagaimana kekayaan alam Nusantara pernah menjadi penopang kemakmuran negeri penjajah pada masa itu. Melalui penyajian koleksi dan narasi sejarah, museum dapat menjadi ruang refleksi sekaligus pembelajaran bagi publik.

"Di sini kita bisa melihat bagaimana sejarah perkebunan tumbuh sejak masa liberalisasi ekonomi pada tahun 1870. Berbagai komoditas seperti tebu, tembakau, dan tanaman perkebunan lainnya menjadi produk unggulan yang diekspor ke berbagai wilayah dunia, terutama ke Eropa," pungkasnya.

Sebagai informasi, turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan antara lain, Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Wawan Yogaswara; Direktur Warisan Budaya, I Made Dharma Suteja; Direktur Sarana dan Prasana, Feri Arlius; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Piet Rusdi; dan Kepala Balai Pelestarian Wilayah II Medan, Sukronedi.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat museum sebagai ruang kebudayaan yang hidup, inklusif, dan menghadirkan pengalaman belajar bermakna bagi masyarakat. Melalui penguatan tata pamer, pemanfaatan teknologi, serta pengayaan narasi sejarah, Kementerian Kebudayaan mendorong museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga ruang publik yang aktif membangun kesadaran sejarah dan kebudayaan bangsa.

Tonton juga video "Kemenbud Bertemu Komposer, Dorong RUU Hak Cipta Selesaikan Polemik Musik"

(akd/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |