Menanti Babak Terakhir BUMI dan Chengdong, Bagaimana Nasibnya?

3 hours ago 2

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

18 February 2026 09:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) oleh Chengdong Investment Corporation (CIC) kemungkinan besar akan segera habis.

Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, kepemilikan CIC terhadap saham BUM melalui PT Bank HSBC Indonesia per 30 Januari 2026, tersisa 10,44 miliar lembar saham atau setara 2,81% dari modal yang ditempatkan.

Mach Energy (Hongkong) Limited menjadi pemegang saham terbesar di BUMI dengan porsi 45,78%, setara 170 miliar saham yang tercatat melalui PT INA Sekuritas Indonesia.

Posisi berikutnya ditempati UBS Switzerland AG - Client Assets - 2049584001 dengan kepemilikan 5,1% atau 18,94 miliar saham melalui BUT Deutsche Bank AG. Cris Developments Limited memiliki porsi 4,86%, setara 18,06 miliar saham, sementara Treasure Global Investments Limited menguasai 3.18% atau 11,8 miliar saham.

Keduanya masuk melalui PT INA Sekuritas Indonesia. Pemegang saham lainnya memiliki 38,26% atau 142,08 miliar saham.

Menghitung Kecepatan Penjualan Saham BUMI oleh CIC

Pada sepanjang Desember lalu hampir setiap hari CIC selalu jualan saham BUMI. Adapun per akhir tahun lalu, kepemilikan CIC masih 5,76%, sementara pada November 2025 sebesar 7,21%.

bumi

Melihat data di atas, kami menghitung kecepatan penjualan saham BUMI oleh CIC dan perkiraan akan habis sebagai berikut:

Rata-rata kecepatan jual

3,78% ÷ 51 hari ≈ 0,074% per hari

Kalau per 30 Januari masih sisa 2,8%, dan kecepatannya sama:

2,8% ÷ 0,074% ≈ 38 hari lagi

Jadi, estimasi habis sekitar awal-pertengahan Maret 2026.

Jika nanti barang CIC di BUMI ini sudah habis, kami memperkirakan laju pergerakan saham BUMI akan lebih mudah naik, karena selama ini, perlu diakui keberadaan Chengdong itu hanya sebagai standby seller.

Namun, hal itu dianggap wajar oleh pasar, karena awal masuk mereka itu sebagai pemberi utang bukan sebagai investor.

Menariknya saham BUMI kini sudah terbang 30% dari titik terendahnya ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun pada Auto Reject Bawah (ARB) kedua 29 Januari 2029 lalu.

Adapun sampai perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (13/2/2026), saham BUMI berhasil menguat kisaran 8% sehari menuju posisi Rp292 per saham.

Awal Mula BUMI dan Chengdong Bertemu

Bermula pada 2009, saat harga batu bara sedang berjaya, BUMI agresif melakukan ekspansi. Di fase itulah dana besar dari CIC masuk.

Awalnya, narasinya positif. Permintaan batu bara tinggi, ekspansi berjalan, dan optimisme menguat. Namun periode 2013-2015 menjadi titik balik. Harga batu bara anjlok tajam, sementara beban utang BUMI membengkak. Perusahaan akhirnya gagal bayar, dengan ekuitas sempat tercatat negatif hingga sekitar Rp40 triliun.

Kondisi tersebut berujung pada proses PKPU dan restrukturisasi besar pada 2017. Skemanya melibatkan konversi utang menjadi saham (debt-to-equity swap), sehingga kreditur resmi menjadi pemegang saham. Konsekuensinya, pemegang saham lama mengalami dilusi signifikan.

Dengan latar belakang itu, langkah exit investor seperti Chengdong saat ini dapat dipahami sebagai bagian dari siklus investasi. Mereka masuk melalui instrumen utang, lalu menjadi pemegang saham melalui restrukturisasi. Ketika kondisi perusahaan membaik, wajar jika dilakukan realisasi investasi.

Menariknya, exit tersebut terjadi saat fundamental BUMI relatif lebih rapi. Saham BUMI tidak lagi berada di level gocap, ekuitas sudah kembali positif, perusahaan kembali mencetak laba, dan model bisnis mulai terdiversifikasi ke sektor mineral, tidak lagi semata-mata bergantung pada batu bara.

Dalam konteks ini, situasinya cenderung bersifat win-win, di mana BUMI mendapatkan tambahan free float, Chengdong merealisasikan investasinya, dan pasar memperoleh likuiditas yang lebih baik.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |