Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
27 March 2026 15:02
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) melaporkan kembali mengalami kerugian di sepanjang 2025.
Dalam laporan keuangan audit yang dirilis Rabu (25/3/2026), The Fed mencatat total rugi komprehensif sebesar US$19,6 miliar pada 2025 atau setara dengan Rp331,43 triliun (asumsi kurs Rp16.910/US$1).
Meski masih gagal membukukan keuntungan, namun angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan kerugian yang dialaminya pada tahun tahun sebelumnya. Yakni sebesar US$77,5 miliar pada 2024 dan US$114,6 miliar pada 2023. Adapun terakhir kali The Fed membukukan keuntungan terjadi pada 2022, ketika bank sentral menyetor surplus sebesar US$76 miliar ke pemerintah AS. Nilai itu juga lebih rendah dibandingkan setoran US$109 miliar pada 2021.
Kerugian The Fed Mulai Menyusut
Menyusutnya kerugian The Fed terjadi seiring dengan mengecilnya neraca bank sentral dan turunnya beban pembayaran bunga. Pada 2025, The Fed melaporkan pengeluaran bunga sebesar US$12,1 miliar atau mengalami penurunan yang drastis dari US$68 miliar pada 2024.
Kondisi ini tak lepas dari penurunan suku bunga yang mulai dilakukan sejak 2024. Pemangkasan itu membuat suku bunga acuan The Fed turun dari level puncaknya di kisaran 5,25%-5,5% menjadi 3,5%-3,75% hingga saat ini.
Kerugian The Fed muncul karena pendapatan yang diperoleh dari obligasi yang dimiliki dan jasa ke sektor keuangan sempat kalah besar dibandingkan bunga yang harus dibayarkan kepada institusi keuangan. Saat bunga acuan masih tinggi, biaya yang harus ditanggung The Fed ikut membengkak.
Berawal dari Kebijakan Era Pandemi
Akar persoalan ini berasal dari kebijakan moneter agresif saat pandemi Covid-19. Ketika itu, The Fed membeli obligasi pemerintah AS dan surat utang berbasis kredit perumahan dalam jumlah yang sangat besar demi menstabilkan pasar keuangan sekaligus mendorong perekonomian. Pada saat yang sama, suku bunga acuan ditekan mendekati nol.
Selama bertahun-tahun, model itu membuat The Fed mampu mendapatkan pendapatan yang besar. Sesuai aturan, setelah biaya operasional ditutup, kelebihan pendapatan tersebut disetorkan ke Departemen Keuangan AS.
Namun situasinya berubah ketika inflasi melonjak dan The Fed mulai menaikkan suku bunga secara agresif pada 2022. Kenaikan suku bunga membuat biaya yang dibayarkan The Fed kepada lembaga keuangan meningkat, hingga melampaui pendapatan dari obligasi dan layanan keuangannya.
Sudah Mulai Membaik, Tapi Jalannya Masih Panjang
Meski masih mencatat rugi secara tahunan, pergerakan terbaru menunjukkan posisi keuangan The Fed mulai membaik. Bank sentral AS itu mencatat kerugian dengan mekanisme akuntansi yang disebut deferred asset. Artinya, kerugian tersebut dicatat sebagai aset tangguhan yang nantinya harus ditutup terlebih dahulu sebelum The Fed bisa kembali menyetor laba ke pemerintah.
Saat ini, nilai deferred asset The Fed tercatat sebesar US$245 miliar. Pergerakan beberapa bulan terakhir menunjukkan The Fed sebenarnya sudah kembali menghasilkan keuntungan, meski masih sangat tipis. Namun, banyak analis menilai perlu waktu bertahun-tahun sampai seluruh aset tangguhan itu benar-benar habis.
The Fed sendiri menegaskan bahwa untung atau rugi yang dialaminya tidak memengaruhi kemampuannya dalam menjalankan kebijakan moneter AS.
Sempat Menjadi Isu Politik
Kerugian The Fed sempat ikut terseret dalam ketegangan politik di AS. Isu ini muncul di tengah sorotan terhadap pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed di Washington pada tahun lalu, yang kemudian menjadi salah satu titik panas antara bank sentral dan pemerintahan Presiden Donald Trump. Bahkan, Departemen Kehakiman AS sempat meluncurkan penyelidikan pidana terkait persoalan tersebut.
Di luar itu, kerugian The Fed juga sempat memicu dorongan di Kongres untuk mengubah instrumen pengendalian suku bunga The Fed. Secara teori, langkah itu bisa menekan pembayaran bunga The Fed kepada lembaga keuangan.
Namun, para pejabat tinggi The Fed dan banyak analis sektor swasta memperingatkan bahwa perubahan pada instrumen tersebut berisiko memicu gejolak besar di pasar keuangan. Pada akhirnya, dorongan itu tampaknya mereda.
Ke depan, arah kebijakan The Fed juga berpotensi berubah jika Kevin Warsh benar-benar ditunjuk menggantikan Jerome Powell, yang masa jabatannya sebagai ketua The Fed berakhir pada Mei mendatang.
Warsh diketahui tertarik pada ukuran neraca The Fed yang lebih kecil. Di internal The Fed sendiri, juga mulai muncul pembicaraan bahwa perubahan regulasi yang mengurangi kebutuhan likuiditas lembaga keuangan bisa membuat jejak bank sentral di pasar menjadi lebih kecil.
Sebagai catatan, The Fed dalam sorotan tajam karena Presiden AS Donald Trump terus mendesak The Fed menurunkan suku bunga. Trump juga membuat independesi terus digoyang, termasuk dengan mendesak Powell terus mundur.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































