Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mencatatkan kenaikan laba bersih hingga 15% sepanjang tahun 2025 mencapai US$ 142,8 juta setara Rp 2,44 triliun (asumsi kurs Rp 17.127 oper US$). Pendorong utamanya adalah peningkatan volume produksi serta efisiensi operasional yang tetap terjaga di tengah volatilitas kondisi pasar global.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menjelaskan pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari fokus perusahaan pada penguatan fundamental bisnis dan optimalisasi proses operasional. Menurutnya, stabilitas operasional yang diraih tahun lalu menjadi dasar bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi kapasitas produksi secara besar-besaran mulai tahun ini.
"Dari sisi keuangan revenue tumbuh konsisten, kemudian juga EBITDA meningkat signifikan, laba bersih 2025 naik 15% year-on-year," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Rabu (15/4/2026).
Selain laba bersih, Inalum mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang konsisten serta peningkatan EBITDA yang signifikan. Rasio keuangan perusahaan juga menunjukkan tren positif dengan tingkat pengembalian aset (ROA) meningkat ke level 6% dan pengembalian ekuitas (ROE) mencapai 7%.
"Alhamdulillah untuk tahun 2025 ini merupakan tahun konsolidasi dan akselerasi di Inalum. Jadi pada tahun 2025 ini kami fokus pada peningkatan produksi, efisiensi operasional dan penguatan fundamental bisnis termasuk dengan penambahan-penambahan proyek-proyek baru," tambahnya.
Memasuki tahun 2026, perusahaan mengalihkan fokus dari tahap perencanaan menuju fase eksekusi proyek hilirisasi yang telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Salah satu proyek utama adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1 yang progres konstruksinya (EPC) telah mencapai 98,56%.
"Untuk pengembangan usaha sendiri di tahun 2026, memasuki 2026 fokus kami adalah percepatan proyek hilirisasi, penguatan kapasitas produksi dan integrasi rantai pasok. Tahun ini adalah tahun eksekusi, bukan lagi tahun perencanaan," tuturnya.
Inalum juga tengah menyiapkan pengembangan Smelter 2 Mempawah dengan nilai investasi mencapai US$ 2,4 miliar untuk menambah kapasitas produksi hingga 600.000 ton aluminium per tahun. Untuk mendukung proyek tersebut, perusahaan sedang memfinalisasi kerja sama penyediaan energi jangka panjang (power solution) bersama PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
"Sinergi antara Inalum, PLN dan pihak terkait dalam hal ini PTBA bisa diwujudkan karena salah satu keberhasilan dari proyek smelter Mempawah itu adalah captive dari PLTU untuk smelter aluminium. Tanpa dukungan ini hilirisasi akan berjalan lebih lambat dari target nasional," pungkas Melati.
(pgr/pgr)
Addsource on Google


















































