Kurs Rp17.000/US$, Ini Penyebab dan Analisa Jatuhnya Rupiah

5 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

01 April 2026 12:17

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis Rp17.000/US$ pada perdagangan Rabu (1/4/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, per pukul 11.40 WIB, rupiah berada di posisi Rp17.020/US$ atau melemah 0,18%. Level tersebut sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah secara intraday.

Pelemahan ini sejatinya bukan hal baru. Sejak awal 2025 hingga awal 2026, mata uang Garuda memang sudah berada dalam tren melemah terhadap dolar AS. Bahkan sepanjang 2026 hingga saat ini, rupiah telah terdepresiasi 2,10%, melanjutkan pelemahan pada 2025 yang secara setahun penuh tercatat mencapai 3,6% terhadap dolar AS.

Dengan demikian, tekanan yang terjadi hari ini bukan sekadar pelemahan sesaat, melainkan bagian dari tren yang sudah berlangsung cukup panjang.

Karena itu, penting untuk melihat faktor-faktor utama yang mendorong rupiah terus tertekan, baik yang memicu pelemahan hingga menembus Rp17.000/US$ hari ini maupun yang membuat tren depresiasi rupiah berlanjut sejak awal tahun.

1. Faktor eksternal: perang AS-Israel melawan Iran

Salah satu penyebab utama pelemahan rupiah belakangan ini memang tidak lepas dari faktor eksternal, terutama perang di Timur Tengah antara AS-Israel melawan Iran.

Konflik ini telah memicu lonjakan pada harga energi global yang memunculkan kekhawatiran akan terjadinya inflasi global yang pada ujungnya membuat investor kembali memburu dolar AS sebagai aset aman.

Tekanan ini juga terasa di Asia, termasuk Indonesia, karena kawasan ini sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan energi.

Presiden AS Donald Trump sebetulnya baru saja menyatakan bahwa perang dengan Iran bisa diakhiri dalam dua sampai tiga pekan. Pernyataan itu muncul pada Selasa (31/3/2026) yang mampu menekan harga minyak dan membuat indeks dolar AS (DXY) turun kembali ke bawah level 100.

Namun, pasar belum benar-benar tenang. Penyebabnya, harga minyak masih bertahan di level yang tinggi, sementara dolar AS secara tren tetap kuat karena masih diburu sebagai safe haven sejak perang pecah. Dengan kata lain, koreksi harian dolar belum cukup untuk mengubah arah sentimen global secara keseluruhan.

Dalam kondisi seperti itu, minat investor asing untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia ikut berkurang.

Aliran dana cenderung keluar dari aset berisiko dan beralih ke dolar AS. Inilah yang membuat rupiah tetap tertekan, bahkan saat DXY sempat melemah.

2. Kekhawatiran terhadap kenaikan beban APBN akibat harga BBM ditahan

Faktor kedua yang ikut menekan rupiah adalah kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah memutuskan menahan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi.

Bagi masyarakat, kebijakan ini tentu positif karena menahan tekanan biaya.

Namun dari sudut pandang investor, keputusan itu juga memunculkan pertanyaan baru. Jika harga minyak dunia masih tinggi, maka beban kompensasi dan subsidi energi pemerintah berpotensi makin besar.

Pemerintah memang memutuskan Pertamina tidak menaikkan harga BBM mulai 1 April 2026.

Namun, kebijakan itu datang di tengah konflik Timur Tengah yang terus mengangkat harga energi global. Di sinilah letak kekhawatiran pasar. Saat harga BBM ditahan, APBN berpotensi harus menanggung selisih harga yang lebih besar.

Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, pasar akan mulai menghitung risiko pembengkakan subsidi untuk kompensasi kenaikan harga energi yang pada akhirnya bisa menyebabkan pelebaran defisit APBN.

Sejumlah analis bahkan memperkirakan lonjakan harga minyak dapat mendorong defisit fiskal Indonesia hingga 3,6% dari PDB bila tidak ada penyesuaian kebijakan, sementara pemerintah sendiri berupaya menjaga defisit tetap di bawah batas sesuai undang-undang di 3%.

Pandangan ini juga sejalan dengan pernyataan Kepala Ekonom BCA Davidi Sumual.

"Jadi masih soal sentimen negatif eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kekhawatiran dampaknya ke APBN. Ada selling pressures yang cukup kuat dari asing di pasar SUN," ujar Davidi kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

Artinya, keputusan yang terlihat baik bagi konsumen justru bisa dibaca investor sebagai tambahan risiko fiskal, terutama ketika ruang anggaran sedang diuji oleh gejolak harga energi.

3. Penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat

Jangan lupa, tren pelemahan rupiah ini sejatinya sudah berjalan sejak 2025 dan berlanjut pada awal 2026.

Salah satu faktor yang memperburuk sentimen adalah penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global.

Moody's pada 5 Februari 2026 resmi merevisi outlook Indonesia dari stable menjadi negative, meski tetap mempertahankan rating di Baa2. Salah satu lembaga pemeringkat global ini menyoroti berkurangnya prediktabilitas kebijakan, risiko terhadap efektivitas kebijakan, dan kekhawatiran terhadap tata kelola.

Setelah keputusan itu, pasar Indonesia sempat kembali tertekan, dengan rupiah melemah dan premi risiko pun meningkat.

Tekanan bertambah ketika Fitch Ratings pada 4 Maret 2026 lalu juga memangkas outlook Indonesia dari stable menjadi negative dengan tetap mempertahankan rating BBB.

Fitch menilai ada peningkatan ketidakpastian kebijakan dan risiko melemahnya disiplin fiskal serta moneter, terutama di tengah target pertumbuhan yang tinggi, penerimaan negara yang belum kuat, dan belanja kesejahteraan besar seperti program makan bergizi gratis yang nilainya sekitar US$20 miliar.

Kekhawatiran ini makin sensitif karena pasar juga mencermati ruang fiskal Indonesia yang makin sempit. Selain potensi pelebaran defisit, investor juga menyoroti beban bunga utang pemerintah yang kian berat.

Dalam konteks inilah, komentar S&P Global mengenai pembayaran bunga utang Indonesia yang sudah mendekati atau melampaui ambang penting 15% dari pendapatan negara ikut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa bantalan fiskal Indonesia tidak lagi setebal sebelumnya.

Saat risiko fiskal dinilai membesar, investor asing cenderung lebih berhati-hati terhadap aset domestik, terutama obligasi pemerintah, dan tekanan jual di pasar SUN pun ikut membebani rupiah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |